Kylian Mbappe dan Kutukan Para Juara Dunia

0
113

Sepak bola tidak pernah ramah bagi pemain muda yang juara piala dunia.

Salah satu hal yang paling merusak bagi karier pesepak bola ialah merengkuh trofi piala dunia. Sekali Anda mencapai titik tertinggi dalam sepak bola, adakah puncak lain yang bisa dituju? Hampir semua anggota tim nasional Perancis yang juara Piala Dunia 1998 menjalani musim mengecewakan pada 1998/99. Kapten saat itu, Didier Deschamps, menyebutkan “ketidakpedulian moral dan fisik” terhadap kompetisi setelah mengangkat trofi. Tak heran, empat dari lima juara dunia terakhir berakhir mengenaskan gagal lolos fase grup di edisi berikutnya.

Jadi juara dunia dalam usia muda malah lebih buruk. Pada 2002, penyerang Paris Saint-Germain bernama Ronaldinho memenanginya. Saat itu berusia 22 tahun, kariernya kemudian menanjak dan menurun drastis hanya empat tahun setelahnya.

Jadi, dunia patut khawatir dengan perkembangan seorang Kylian Mbappe. Trofi piala dunia baginya ialah “impian sebenarnya”, tapi ia meraihnya hanya dalam usia 19 tahun. Kita masih menanti konsistensi Mbappe, baik saat bertandang ke kota kecil di Perancis, atau saat berlaga di stadion megah semacam Anfield.

Di Anfield beberapa pekan lalu, Mbappe menjalani pertandingan yang campur aduk. Ia mencetak gol sekali, tetapi di akhir laga, ia membuat blunder yang berakibat gol kekalahan Paris Saint-Germain.

Deschamps, yang sekarang jadi pelatih timnas Perancis, sudah mewanti-wanti akan hal ini di pertandingan pertama di piala dunia lalu. Kemenangan beruntung 2-1 atas Australia jadi sebabnya. Dalam sebuah dokumenter, ia diketahui amat tak puas dan menghardik pemain: “Jangan ada yang tertawa!”, banyak pemain yang ia anggap tak berlari sekencang biasanya, “Mbappe ialah yang paling malas, dia cuma mengerahkan 3 persen tenaganya.

Di sini, kita bisa melihat seorang remaja, yang baru saja tampil mengecewakan di pertandingan piala dunia pertamanya, ditambah semprotan dari pelatih di hadapan rekan setim. Alih-alih tertunduk dan menangis, ia dengan tenang berkata ke kamera, “Dia (Deschamps) melakukan apa yang pelatih lakukan saat timnya tidak tampil seperti yang ia harapkan.”

Mbappe sanggup menangani umpatan Deschamps karena dia sudah ditempa dengan level profesional elite sejak usia 14. Ayahnya, yang merupakan pelatih tim muda, menggemblengnya tentang pentingnya fokus ke pertandingan berikutnya. Dia tumbuh dengan cepat, naik level setiap enam bulan. Juara dunia hanyalah level lanjut dari kariernya.

Namun tetap saja, dia cuma manusia biasa. Pada 1 September, dia mendapat kartu merah saat melawan Nimes, memukul lawan yang melanggarnya. Ia pun meminta maaf kepada fan dan penggemar melalui twitter.

Namun siapa tahu, ia justru semakin berbahaya dalam sisa kariernya yang masih sangat panjang. Hingga piala dunia lalu, dia dipasang sebagai sayap kanan. Musim ini, ia mulai mendapat tempat di tengah lini serang. Dengan posisi baru sebagai penyerang tengah, mungkin saja ia akan lebih eksplosif, dan mampu menaklukkan dunia lagi, lagi dan lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here