Kisahku Selamat dari Ledakan Bom Atom

0
37

Hari itu pagi hari tanggal 6 agustus 1945, suasana kampusku kelihatan lengang. Banyak kelas yang kosong. Sebagian besar mahasiswa Jepang dan dosen-dosen mudanya bergabung secara berkala ke angkatan perang Jepang sebagai tenaga bantuan untuk menghadapi serangan tentara Amerika Serikat di kota-kota utama Jepang sejak awal tahun 1945.

Di dekat kampusku ada satu sungai yang membentang, suara aliran sungai itu biasanya mudah terdengar oleh kami para mahasiswa. Tapi tidak untuk pagi itu, pesawat pengebom Amerika Serikat terbang di atas kampus. Petugas keamanan Jepang membunyikan sirine sebagai peringatan tanda bahaya. Suaranya meraung-raung, menelan suara aliran sungai.

Aku bersama ketiga mahasiswa lainnya sedang berada dalam kelas saat suara pesawat pengebom dan sirine bersahutan.

Kami masih baru sekaligus orang asing sehingga kami harus tetap menjalani perkuliahan di kampus.

Dosen kami saat itu sudah berusia lanjut. Perawakannya kurus seperti orang kurang gizi. Cara jalannya pun agak kepayahan. Staff pengajar seperti inilah yang tinggal di kampus.

Dia baru muncul di kelas setelah suara pesawat pengebom dan sirine lenyap dari pendengaran. Dia sempat bersembunyi di ruang bawah tanah kampus begitu mendengar suara pesawat pengebom dan sirine, sesuai instruksi keselamatan dari pihak kampus.

Aku dan tiga temanku sudah berkali-kali masuk ruang bawah tanah untuk menyelamatkan diri. tapi, ternyata tidak ada yang terjadi. Setelah itu kami tidak masuk ke lubang lagi. Dan kami malah melihat pesawat-pesawat pengebom melaju di angkasa dan kami menyimpulkan bahwa Hiroshima tidak mungkin dibom.

Paling-paling yang kena bom Kobe atau Osaka, itu adalah pendapat kami berempat.

Dan pagi itu, aku dan teman-temanku malas untuk melihat pesawat pengebom seperti hari-hari sebelumnya. Kami pikir, itu sia-sia. jadi kami memilih untuk tetap tinggal di kelas, karena sinar maahari cukup terik dan dosen juga sudah hadir.

Si dosen tua memulai kuliahnya. Dia mulai memegang kapus dan menulis beberapa kalimat di papan tulis. Lalu tiba-tiba cahaya ternag benderang seperti kilat masuk ke ruangan melalui jendela kelas. Tidak ada bunyi apapun.

Dosen tua itu sigap berlari ke ruang kelas.

Kami mulai menyadari sesuatu. Ternyata dugaan kami salah, bukan Kobe atau Osaka yang menjadi sasaran pengeboman, tapi Hiroshima.

Belum sempat aku dan ketiga temanku melarikan diri, kami sudah kejatuhan atap bangunan. Lalu kami sudah tidak sadarkan diri.

Awal mula aku dan ketiga temanku bisa sampai di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 adalah pada tahun 1944 pemerintah Jepang membuka pendaftaran program Nampo Tokubetsu Ryugakusei gelombang kedua. Program ini memberi kesemparan pada anak-anak muda di wilayah pendudukan Jepang di Asia Tenggara untuk belajar di Jepang.

Gelombang pertama berlangsung pada awal 1943. Ada 75 pemuda dari seluruh Jawa berkumpul di Jakarta untuk disaring menjadi 20 orang. 20 orang itu nantinya akan dikirim ke Jepang. Tapi, ternyata yang diasramakan 23 orang.

Rombongan pertama yang berangkat ke Jepang adalah Sukristo dan Sam. Universitas-universitas di Tokyo menjadi temoat tempaan pertama mereka. di sini mereka mendapat pendidikan persiapan, seperti bahasa dan kebudayaan Jepang.

Setelah masa pendidikan selesai, panitia program membagi rombongan pertama ke dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka terpencar ke universitas-universitas Jepang seperti Kyushu dan Hiroshima.

Sukristo dan Sam bersama empat orang lain masuk dalam kelompok Hiroshima. Ketika mereka datang pada musim semi tahun 1944, Hiroshima jauh dari hingar-bingar perang.

Meskipun Hiroshima punya peranan yang sangat penting dalam membantu usaha perang sebagai konsentrasi tentara yang akan diberangkatkan ke banyak penjuru medan pertempuran serta daerah pendudukan.

Menurut Sukristo dan Sam, Hiroshima semakin sepi setiap harinya. Para pemuda dan mahasiswa Jepang beranjak ke palagan.

Dan kedatanganku dengan ketiga kawanku membuat rasa sepi mereka sedikit terobati, aku masuk dalam rombongan kedua program Nampo Tokubetsu Ryugakusei.

Begitulah cerita singkat aku bisa sampai di Hiroshima.

Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, aku mulai membuka mataku. Perlahan-lahan aku mulai siuman. Pandanganku masih kabur. Sekelilingku masih gelap, hitam dan pekat.

Beberapa menit kemudian aku sudah bisa melihat dengan jelas. Ada kabut hitam, reruntuhan bangunan dan debu di sekelilingku.

Aku melihat kondisi tiga kawanku. Kulihat mereka masih bernyawa. Tenagaku sedikit demi sedikit mulai pulih. Sambil menyingkirkan reruntuhan, satu per satu dari kami keluar melalui jendela.

Kabut hitam mulai menipis. Aku dan tida temanku berlari meninggalkan kampus dan kami menyaksikan bayak bangunan sudah roboh. Seekor kuda tergeletak mati. gerobak pedagang setengah terbakar. Pepohonan yang meranggas. Orang-orang yang berlari ke segala arah. Orang-orang itu, ada yang berlumuran darah, ada yang bajunya compang camping, bahkan ada yang bajunya hangus terbakar.

Aku melihat Hiroshima hancur lebur pagi itu.

Tapi, aku dan ketiga temanku tidak bisa pergi begitu saja. kami punya pikiran untuk menyelamatkan nasib orang-orang itu. kami menyelamatkan beberapa orang yang masih bisa diberi pertolongan.

Lalu setelah itu, aku dan tiga temanku tiba di asrama kami. Ternyata asrama kami hancur berantakan. Kami berteriak dan berusaha mencari salah satu teman kami, si Syarif. Dia adalah temanku yang berasal dari Riau.

Mendengar kami berempat berteriak-teriak, Syarif menyahut.

“Aku disini. aku terhimpit dan tidak bisa gerak.”

Aku dan ketiga temanku langsung mengangkat reruntuhan dan berhasil mengeluarkan Syarif.

Syarif mengalami luka ringan pada bagian tubuh, tapi matanya mengalami luka berat.

Aku dan ketiga temanku memindahkan Syarif ke tepi sungai dekat asrama. Kami kembali ke asrama untuk mencari ibu asrama dan keluarganya.

Lalu aku dan teman-temanku mendengar suara perempuan minta tolong dari puing asrama. Kami langsung bergegas, kami pikir itu adalah suara dari ibu asrama.

Kami mendekati asal suara dan menggali puing

Ternyata dugaan kami salah, itu bukan suara dari ibu asrama. Itu adalah suara dari wanita tetangga asrama. Kami mengangkat dan merebahkan tubuhnya di tepi sungai.

Makin lama, tepi sungai dipenuhi oleh tubuh-tubuh manusia. Baik laki-laki maupun perempuan. Usia muda ataupun tua. Mereka masih hidup, tapi sekujur tubuh mereka penuh luka bakar dan memar tertimpa bangunan.

Ada yang meringis kesakitan, ada juga yang menangis.

Pada pagi naas itu, hanya ada tiga mahasiswa Indonesia yang berada di Hiroshima. Sedangkan Sam dan Sukristo dan beberapa mahasiswa Indonesia lain yang sempat belajar di Hiroshima, sudah dipindahkan ke luar Hiroshima sebelum Agustus oleh panitia program.

Sebenarnya ada satu lagi mahasiswa Indoensia, namana Muskarna. Dia masih belajar di Hiroshima sepertiku, tapi pagi itu di saat bom atom jatuh, dia sedang berada di luar Hiroshima untuk berobat.

Aku dan dua temnaku mampu bertahan dari serangan bom atom. Serangan itu berhasil menewaskan 200 ribu penduduk Hiroshima.

Sayangnya, bom atom meninggalkan radiasi padaku dan Syarif, sedangkan temanku yang satu, si Hasan terbebas dari radiasi.

Meskipun begitu aku masih bisa meneruskan hidupku sampai berpuluh tahun kemudian. Bahkan sekarang aku sudah punya keluarga dan cucu. Dan tentunya aku bisa mneceritakan pengalamanku padamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here