Kisah Wojciech Szczesny: Tukang Blunder di Arsenal, menjadi Penerus Buffon di Juventus

0
144

Wojciech Szczesny mungkin pernah bersinar di Arsenal, bahkan digadang-gadang melegenda seperti halnya David Seaman. Namun realita mengatakan, ia tak sanggup memenuhi standar tinggi Liga Inggris, dan harus mencari jalan keluar dari Emirates begitu Petr Cech tiba pada 2015.

Szczezny lahir pada 18 April 1990 di Polandia, dari seorang ayah yang juga berposisi sebagai penjaga gawang. Ia menggemari klub London yang berwarna merah semenjak kecil. Bakatnya terendus oleh Legia Warsawa saat usianya 15 tahun, yang diikuti oleh tawaran pindah ke klub favoritnya di London setahun kemudian. Di Arsenal, ia mulai mencari-cari tempat di tim utama, salah satunya dengan masa peminjaman di Brentford pada 2009, dua bulan sesudah debutnya bersama Arsenal.

Ia harus menunggu dua tahun untuk mencicipi laga keduanya. Saat Arsenal mengalamai krisis kiper, Szczezny diberi kesempatan menjalani debut liga di Old Trafford melawan Manchester United. Tampil baik di laga debut liga membuat dirinya menahbiskan diri menjadi pilihan nomor satu, menggusur Manuel Almunia dan Lukasz Fabianski sekaligus.

Semenjak itu, semua berlangsung indah bagi dirinya. Memenangi dua Piala FA dan golden glove pada musm 2012/13, Szczesny dianggap sebagai salah satu kiper muda terbaik yang telah menjaga gawang tim besar. Meski begitu, talentanya yang luar biasa ternyata harus menjalani berbagai hambatan.

Ia diusir ke luar lapangan karena gestur ofensif saat menjamu Bayern Munich di Liga Champions. Denda dari pihak klub pun sempat ia terima karena kedapatan merokok di kamar ganti Southampton. Musim terakhirnya, 2014/15, pun berakhir berantakan, “Musim terakhir sebelum aku pergi (dari Arsenal) berjalan sangat buruk. (Inkonsistensi) performa, cedera, dan problem luar lapangan. Itu mengerikan.”

Ketika Petr Cech didatangkan Arsene Wenger pada 2015, ia merasa perlu berkelana, “Aku masih punya ruang untuk berkembang dan aku ingin memastikan ruang itu tidak dibiarkan kosong.”

Opsi bermain sebagai pinjaman di AS Roma, klub raksasa Italia, tak ragu ia ambil. Selama dua musim, ia berkembang lebih cepat daripada apa yang dialaminya di Arsenal selama lima tahun. Ia tidak hanya menaikkan level permainan. Lebih dari itu, ia menyerap lebih banyak pengetahuan, sisi taktis dari sepak bola. Ia merasa “lebih sering terlibat” dalam permainan, di samping ia tumbuh sebagai seorang suami.

Dianggap sebagai kiper terbaik di Italia setelah Gianluigi Buffon, Juventus tak ragu merekrutnya untuk menggabungkannya dengan Buffon pada 2017. Pada musim pertamanya di Turin, yang bertepatan dengan musim terakhir Buffon, ia mengumpulkan 20 laga dengan 14 di antaranya berakhir nirbobol.

Menggantikan sosok yang selama 20 tahun tak tergantikan di bawah mistar Juventus dan tim nasional Italia sama sekali bukan hal yang mudah. Terlebih tak ada orang yang mengira sang pengganti merupakan kiper yang pernah jadi bahan candaan di Liga Inggris.

Ketika sang legenda, Buffon, benar-benar pergi, Szczny pun mengambil alih posisi utama di klub Si Nyonya Tua. Musim ini ia mengoleksi delapan laga dari sembilan pertandingan Liga Italia, dan tampil di semua laga Liga Champions.

Penampilan terbarunya di Liga Champions dilakukan di tempat yang sama dengan laga debutnya di Liga Inggris delapan tahun lalu. Di Old Trafford, menjamu Manchester United. Kali ini, ia mampu jadi pemenang.

Siapa yang berani memprediksi akan tiba di puncak mana Szczesny dua atau tiga tahun lagi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here