Kisah Timun Mas

0
36

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang janda bernama Mbok Randha. ia tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mbok Randha sehari-harinya bekerja sebagai pencari kayu di hutan. Namun ia tidak memiliki satu anak pun. sehingga hidupnya merasa kesepian. Padahal ia sangat merindukan seorang anak, tapi rasanya mustahil karena mbok Randha sudah tidak punya suami.

Suatu hari ia mengeluh, “Seandainya aku mempunyai seorang anak, pasti aku tidak kesepian dan beban hidupku agak ringan karena ada yang membantuku bekerja”.

Setiap hari mbok Randha berdoa pada Yang Maha Kuasa, agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa dari mbok Randha. kemudian raksasa itu berkata, “Kau meninginkan seorang anak ya?, ok aku bisa membantu mu”. Kemudian mbok Randha diberi biji mentimun oleh si raksasa.

“Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan, tapi ingat kau harus menyerahkan anak itu kepada ku pada saat berusia tujuh belas tahun” kata Raksasa tersebut.

Karena berhasrat ingin segera mempunyai anak, Mbok Randha pun menyetujui syarat dari raksasa tersebut.

Mbok Randha kemudian menanam biji-biji mentimun itu di ladang belakang rumahnya. Setiap hari ia merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Satu bulan kemudian, tanaman itu berbuah mentimun keemasan, anehnya hanya berbuah satu timun.

Semakin lama buah mentimun itu tambah besar dan berat. Ketika buah itu matang, mbok Randha memetiknya, kemudian membawanya ke dapur, Dengan hati-hati mbok Randha memotong buah itu. Betapa terkejutnya mbok Randha, karena di dalam buah itu terdapat bayi perempuan yang sangat cantik.

“Ah, ternyata raksasa itu tidak berbohong!” gumam Mbok Randa. Mbok Randha sangat bahagia. kemudian memberi nama bayi itu Timun Mas.

Seiring berjalannya waktu Timun Mas pun tumbuh menjadi gadis yang cantik dan rajin, namun ada ketakutan tersendiri di hati Mbok Randha Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, ia harus menyerahkan Timun Mas kepada raksasa tersebut.

Mbok Randha bingung bagaimana caranya agar anaknya tidak dibawa raksasa, tiap hari ia melamun. Sudah beberapa kali sang raksasa datang menemui mbok Randha untuk meminta timun mas, namun mbok Randha selalu memberikan alasan agar raksasa tidak mengambil timun mas dari hidupnya.Tapi sang raksasa tidak putus asa, ia berjanji untuk datang kembali. akhirnya mbok Randha pun memiliki ide untuk pergi ke gunung menemui seorang pertapa, yang tak lain adalah almarhum suami dari mbok Randha.

Setelah pergi ke gunung dan menemui seorang pertapa tersebut, Mbok Randha diberikan empat buah bungkusan kecil. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi yang tujuannya untuk mencegah raksasa agar tidak membawa timun mas.

Dan suatu ketika mbok Randha dan Timun mas sedang menikmati hidangan di dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari luar. “Hmmm rupanya raksasa itu datang lagi”. Gumam mbok Randha. kemudian mbok Randha keluar rumah menemui raksasa itu.

“Hei, Perempuan tua,, mana anak itu. aku akan membawanya sekarang”. Ucap Raksasa itu. “Baiklah, akan ku panggilkan, dia sedang di dalam.. kau tunggu di luar”, jawab mbok Randha.

Mbok Randha segera menemui anaknya. “Anakku, bawalah ini” katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil.

“Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” kata mbok Randha. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri. Mbok Randha sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi ia tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi oleh mbok Randha. Lalu ia marah dan mengejar Timun Mas ke hutan.

Raksasa mengejar timun mas dan semakin dekat. Timun Mas pun segera mengambil segenggam garam dari bungkusannya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa, dan butiran garam tersebut berubah jadi lautan luas, raksasa pun tenggelam namun sang raksasa berhasil menyelamatkan diri, ia harus berenang dengan susah payah.

Timun Mas khawatir, ia kembali berlari. Tapi Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari bungkusannya, ia mengambil sebuah jarum. jarum itu dilemparkan ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa, raksasa berhasil keluar walaupun dengan kondisi kaki yang berdarah-darah. Timun segera berlari lagi.

Lagi-lagi raksasa hampir menangkap timun mas. Tak ingin ketangkap oleh raksasa, Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang cukup luas. Karena dari tadi mengejar timun mas Raksasa pun sangat letih dan kelaparan. Maka dimakannya mentimun-mentimun tersebut dengan sangat lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa ketiduran.

Timun Mas kembali melarikan diri, kali ini ia berusaha lari sekuat tenaga. Namun ia kehabisan tenaga, lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa mengejarnya dan lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan, karena senjatanya hanya tersisa satu. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, yaitu segenggam terasi. Dan jatuhnya terasi tersebut menjadi sebuah danau lumpur mendidih yang terhampar luas. Raksasa terjerembab ke dalamnya dan ia tewas seketika. Selamatlah timun mas dari kejaran sang Raksasa.

Timun Mas lega, ia bisa mengalahkan sang raksasa yang sangat kuat itu. Dengan sisa tenaganya Timun Mas berjalan pulang ke rumah orang tuanya. Mbok Randha senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mbok Randha.

Sejak saat itu Timun Mas hidup dengan mbok Randha tanpa harus merasa ketakutan. Mereka hidup bahagia. Timun mas sering membantu mbok Randha bekerja mencari kayu di hutan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here