Kisah Si Serakah dengan Sebuah Batu Besar Ajaib

0
63
http://www.rmolsumsel.com/read/2014/02/26/2627/Ditemukan-Koin-Emas-Senilai-Rp-110-Miliar-

Alkisah di sebuah negara hiduplah sepasang suami istri yang bekerja serabutan untuk mencukupi segala kebutuhannya. Kadang kala mereka mencari kayu bakar di hutan lalu menjualnya di pasar atau ditawarkan kepada tetangga. Mereka pun sering menerima pekerjaan menjadi buruh tani untuk menggarap sawah tuan tanah. Meski hidup miskin mereka merasa bahagia dan cukup, sebenarnya si lelaki ini memiliki seorang kakak.

Kebetulan sang kakak ini memang kaya raya sehingga berbeda jauh dengan kehidupan sang adik. Naasnya sang kakak ini cenderung sombong dan tamak sehingga enggan membantu kehidupan sang adik yang kekurangan. Meski begitu sang adik dan istrinya tak pernah sekalipun mengeluh atau menghujat tabiat sang kakak.

Suatu hari seperti biasanya sang adik mencari kayu bakar sendirian di rumah sembari membawa mantel dari untaian daun kering. Mantel ini dibuatkan istri tercintanya sebagai pelindung di kala hujan. Sembari mencari ranting kayu yang jatuh dari pohonnya, mantel tersebut digeletakan di atas batu besar. Kebiasaan ini terus berlanjut dari waktu ke waktu.

Siang itu karena lelah memungut kayu bakar yang lumayan banyak dari biasanya. Sang adik ini memutuskan rebahan sebentar di dekat batu besar tempatnya menaruh mantel daun kering tadi. Saat bersantai menikmati semilir angin, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sebuah suara.

“Hei anak muda, tolong angkat mantelmu dari tubuhku. Aku merasa kepanasan..” sang adik ini pun celingukan mencari sumber suara. Alangkah terkejutnya ternyata batu besar di sebelahnyalah yang tengah berbicara. Tak menunggu lama sang adik ini mengangkat mantel dari atas batu tersebut.
“Terima kasih anak muda, aku sekarang tidak kepanasan lagi seperti biasanya sejak kau sering menaruh mantelmu itu di badanku.”
“Maafkan aku wajah batu besar, aku tak tahu kalau kau bisa bicara dan merasa kepanasan karena ulahku.”
“Tak apa. Berkat jasamu ini aku akan memberimu hadiah..” Kata batu besar tersebut.
“Hadiah? Hadiah apa wajah batu besar?”
“Taruh karung besarmu itu di depanku, maka aku akan mengisinya dengan hadiah.”

Sang adik pun mengikuti perkataan batu besar dan menaruh karung yang dibawanya dari rumah di depan batu besar tersebut. Kemudian si batu ini membuka mulutnya dan seketika tumpah banyak kepingan emas dan memenuhi karung tadi. Terkejutlah sang adik atas apa yang dilihatnya.

“Anak muda apakah hadiahku ini cukup?”
“Ini, ini lebih dari cukup bahkan kebanyakan wahai batu besar..”, seketika batu besar pun tertawa terbahak-bahak.
“Tak kusangkau kau memang pemuda yang baik hati. Biasanya orang yang kuberi hadiah ini mengaku tak pernah merasa cukup.”

Selepas kejadian ini, sang adik beserta istrinya mempergunakan kepingan emas tersebut dengan baik. Sebagian kecil dijual untuk membeli rumah dan juga mendirikan usaha. Berkat sifat sang adik yang memang baik hati meski sudah menjadi kaya raya dan punya usaha besar. Tetaplah ramah pada siapa saja dan bisnisnya pun semakin berkembang.

Siapa sangka perubahan ini malah membuat sang kakak merasa iri dan ingin tahu rahasia kaya mendadak sang adik. Tak ingin menunggu lama sang kakak pun menyambangi kediaman sang adik yang kini semegah istana. Bertanyalah ia mengenai asal usul bagaimana sang adik bisa kaya seperti sekarang. Tanpa merasa curiga dan menganggap sang kakak adalah keluarga satu-satunya maka diceritakanlah soal pertemuannya dengan sang batu.

Mendapat wangsit berharga seperti ini, sang kakak pun buru-buru pergi ke hutan sembari menyamar menjadi pencari kayu bakar. Tak lupa dibawa pula mantel daun kering kepunyaan sang adik. Kemudian begegas mencari batu besar yang diceritakan sang adik dan menaruh mantel tersebut di atasnya. Sudah merasa menunggu lama dan batu tersebut tetap diam. Sang kakak mencoba memancing.

“Wah.. udaranya panas sekali disini… Rasanya mau berendam dalam air saja.”

Meski sudah diucapkan berkali-kali namun belum juga mendapatkan respon, akhirnya dengan tidak sabaran. Sang kakak mulai memungut bebatuan dan dedaunan kering di sekitarnya. Lalu ditaruh di atas batu besar.

“Bagaimana, apa kurang panas? Kapan kau akan mau bicara padaku?”, tantang sang kakak.

Sang batu besar pun merasa kewalahan menahan udara panas di sekitarnya. Merasa tak tahan akhirnya ia memutuskan untuk bicara. Tak perlu menunggu banyak waktu sang kakak pun mengutarakan maksudnya untuk mendapatkan kepingan emas dari sang batu besar tersebut. Sengaja dari rumah membawa tiga karung dan dalam waktu singkat sang batu memenuhi ketiganya dengan kepingan emas.

“Apakah pemberianku ini cukup?”, tanya sang batu.
“Belum. Ini masih kurang!”

Ditambah lagi kepingan emas sesuai permintaan sang kakak.

“Apakah pemberianku ini cukup?”, tanya sang batu lagi.
“Belum. Ini kurang banyak!”

Akhirnya sang batu pun memberi kepingan emas lagi.

“Apakah pemberianku ini cukup?”, tanya sang batu.
“Belum. Ini masih sangat sedikit!”

Mendengar jawaban tersebut, sang batu kemudian berkata untuk memasukan tangan sang kakak sendiri ke mulutnya. Lalu mengambil sendiri kepingan emas yang diinginkannya sebanyak yang dia mau. Saking serakahnya sang kakak, maka masuklah ia ke dalam mulut sang batu untuk mengais kepingan emas sebanyak mungkin. Dianggapnya dengan masuk ke mulut batu besar bisa mengambil lebih banyak dibanding hanya memasukan kedua tangannya yang tidak begitu panjang.

Siapa sangka sesampainya di dalam batu, ketika tengah asyik memungut kepingan emas yang bergunung-gunung. Mendadak mulut sang batu tertutup. Ia pun tak bisa keluar. Kali ini tak bisa keluar untuk selama-lamanya. Inilah balasan untuk orang yang tamak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here