Kisah Serigala dan Kambing

0
50

Kisah Serigala dan Kambing

Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga kambing. Kambing itu terdiri dari ibu dan tujuh anaknya. Ibu kambing itu sangat kuat dan sangat menyayangi anak-anaknya. Mereka hidup di tengah hutan. Tempat tinggal mereka cukup jauh dari pemukiman keluarga yang lain.

Saat pagi, ibu kambing sudah sibuk membagi tugas untuk ketujuh anaknya. Yang paling besar mencuci pakaian di sungai dekat rumah mereka. Yang kedua menjemur pakaian. Yang ketiga membersihkan halaman. Yang keempat membuang sampah-sampah yang terkumpul. Yang kelima mencuci piring. Yang keenam dan ketujuh membantu ibu kambing memasak.

Tanpa mereka sadari, mereka sudah diperhatikan oleh seekor serigala jahat. Serigala itu sudah memperhatikan keluarga kambing itu selama beberapa pekan.

“Hahaha, banyak makanan. Anak-anak kambing itu akan membuatku kenyang,” kata serigala itu pada dirinya sendiri.

Maka pada suatu hari kesempatan itu seperti datang. Persediaan makanan di rumah keluarga kambing itu habis. Keadaan itu membuat ibu kambing harus ke pasar. Letak pasar itu cukup jauh, dan dia tidak ingin mengajak anak-anaknya berjalan jauh ke pasar, hal itu akan membuat abak-anaknya kelelahan.

“Ah, mereka masih belum cukup kuat,” katanya pada dirinya sendiri.

Selain itu dia akan kerepotan mengawasi anak-anaknya jika harus mengajak semuanya. Maka, dia pun memutuskan untuk meninggalkan mereka di rumah. Dan ia juga tidak lupa berpesan.

“Jangan pernah membukakan pintu pada siapa pun selama ibu pergi.”

“Baik ibu,” kata para anak kambing.

Dan setelah itu ibu kambing pergi ke pasar. Meninggalkan tujuh anaknya di rumah.

Serigala melihat ibu kambing sudah pergi. Dia pun berjalan senang menuju rumah keluarga kambing.

“Selamat datang daging-daging segar,” kata serigala pada dirinya sendiri.

Dengan penuh rasa percaya diri serigala mengetuk pintu rumah kambing.

Tok tok tok

“Nak, tolong bukakan pintunya,” suara kasar serigala terdengar.

Para anak kambing yang mendengar suara kasar itu merasa ketakutan dan tak berani membukakan pintu.

“Suara ibu kami tidak kasar. Kami tidak akan membukakan pintu,” teriak anak kambing paling besar.

Serigala pun pergi dengan kesal. Dia belum menyerah. Dia melihat jendela yang terbuka namun posisi jendela itu agak tinggi, menjadikan serigala harus melakukan sesuatu guna mencapai jendela. Dia pun kembali lagi dengan membawa beberapa batu bata.

Dia menyusun batu bata itu dan mulai menaiki susunan batu bata itu.

Dia tertawa jahat saat melihat wajah-wajah ketakutan para anak kambing.

Anak kambing paling besar segera melemparkan barang-barang yang ada di dalam rumah untuk dilempar pada serigala.

Serigala itu mengerang kesakitan. Keseimbangan serigala hilang, dia pun terjatuh.

Dia berpikir lagi.

“Sudahlah, aku dobrak saja pintunya,” kata serigala geram.

Serigala membawa sebatang kayu yang sangat besar. Dia pun mulai mendobrak.

Anak-anak kambing ketakutan. Namun, si sulung mengajak adik-adiknya untuk berdiri di balik pintu. Menahan pintu agar tidak kena dobrak.

Usaha para anak kambing membuahkan hasil. Serigala gagal mendobrak pintu. Serigala makin kesal. Maka dia kembali menggunakan cara pertama, menirukan suara ibu kambing.

“Nak, ayo bukakan pintu. Belanjaan ibu sangat berat,” suara serigala terdengar lebih lembut dari sebelumnya.

Anak-anak kambing mulai ragu.

Si sulung menelungkup di lantai. Melihat kaki yang terlihat dari celah pintu.

“Kau bukan ibu kami. Kaki ibu kami putih, tidak hitam. Pergi kau serigala jahat,” teriak si sulung.

Serigala sangat kesal. Dia kehabisan ide. Dan setelah berpikir lama, dia menemukan sebuah ide.

Dia pergi ke gudang milik keluarga kambing. Dia melihat ada beberapa kantung tepung, persediaan keluarga kambing. Dia menumpahkan semua tepung ke kakinya. Kakinya yang semula hitam berubah putih.

Serigala mengetuk kembali pintu rumah keluarga kambing.

Kini suaranya terdengar sangat halus.

“Nak, ayo bukakan pintu untuk ibu,” katanya halus.

Anak-anak kambing bimbang.

Si kambing paling kecil meniru cara kakaknya. Dia melihat celah pintu. Dan melihat sepasang kaki putih di sana.

“Dia ibu kita, kakinya putih,” teriaknya.

Lalu anak-anak kambing itu bernafas lega dan membukakan pintu.

Betapa kagetnya mereka melihat siapa yang ada di depan mereka.
Serigala tertawa senang. Anak-anak itu berlarian mencari tempat persembunyian. Namun, sayangnya persembunyian mereka langsung diketahui oleh serigala.

Setelah berhasil menangkap para anak kambing, serigala menelan mereka hidup-hidup.

“Ah, kenyang sekali perutku. Baiknya aku pergi,” kata serigala. Kemudian dia pergi dari rumah kambing.

Namun, ada satu anak kambing yang selamat dari serigala. Anak kambing itu adalah adalah yang paling bungsu. Serigala tidak berhasil menemukannya karena dia bersembunyi dalam jam tua.

Ibu kambing yang baru sampai terkejut dan bersedih.

Si bungsu menceritakan pada ibunya tentang kakak-kakaknya yang ditelan serigala.

Ibu kambing sangat marah. Kemudian dia mengajak si bungsu mencari serigala dengan membawa benang, jarum dan gunting. Ketika sudah berjam-jam berjalan mencari keberadaan serigala, akhirnya mereka menemukan serigala yang tengah tidur karena kekenyangan. Ibu kambing dapat melihat perut serigala membuncit.

“Mereka pasti ada di dalam dan masih hidup,” kata ibu kambing dengan suara pelan.

Mereka berdua pun memulai aksi mereka. Ibu kambing menggunting perut serigala dengan sangat pelan. Kemudian ibu kambing mengeluarkan anak-anaknya.

Serigala itu tetap tertidur lelap, dia benar-benar kekenyangan.

Sementara itu si bungsu mulai mencari banyak batu dan dikumpulkan dekat ibunya.

“ibu sebelum dijahit, masukkan batu-batu ini ke dalam perut serigala,” kata si bungsu.

Ibu kambing mengangguk, maka dengan cekatan ibu kambing memasukkan batu-batu itu dan mulai menjahit lagi. Setelah selesai mereka berdelapan pulang dengan perasaan senang karena mereka berhasil selamat dari serigala.

Sementara itu serigala yang terbangun karena merasa sangat haus berjalan limbung.

“Kenapa berat sekali anak-anak kambing ini. Benar-benar sulit dicerna,” katanya sempoyongan. Dia berjalan menuju sungai. Saat ia sedang membungkuk untuk minum air sungai, ia jatuh tersungkur ke dalam sungai. Karena beban dalam perutnya serigala tidak dapat berenang keatas permukaan. Dia pun tenggelam dan berakhir dimakan oleh para buaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here