Kisah Segenggam Garam dan Telaga

0
46
https://iphincow.com/2017/05/01/filosofi-air/

Suatu ketika hiduplah seseorang yang dikenal bijak, kebijakannya membuat pria bijak ini didatangi banyak orang yang meminta petuah. Banyak yang mengaku mendapatkan petuah atau nasehat yang tepat dan terbaik sesuai situasi yang dihadapi. Nama lelaki bijak ini pun semakin tersohor dan dikenal di berbagai negeri.

Hingga suatu ketika lelaki bijak ini kedatangan seorang tamu, tamu kali ini adalah seorang pemuda yang penampilannya bersih dan tampan. Hanya saja sekilas melirik mimik mukanya lelaki bijak bahkan orang biasa sekalipun tahu. Jika pemuda tampan tersebut tengah gundah gulana karena menghadapi permasalahan yang cukup pelik.

Raut wajah yang memang memprihatinkan membuat lelaki bijak tersebut segera menjamu tamunya tadi. Tidak menunggu lebih lama si pemuda tampan pun mulai bercerita panjang lebar mengenai permasalahan yang dihadapinya. Pemuda tampan ini mengaku hidupnya terasa pahit dengan kehadiran masalah silih berganti.

Lelaki bijak tadipun mendengarkan dengan seksama, memastikan apa yang disampaikan si pemuda tidak terlewat begitu saja. usai mengetahui cerita si pemuda sudah selesai maka lelaki bijak ini kemudian masuk ke bagian dalam rumahnya. Sekembalinya ke ruang depan dimana pemuda tadi duduk, ternyata lelaki bijak membawa segenggam garam.

“Anak muda, ambillah garam di telapak tanganku ini. kemudian tuang ke dalam gelas berisi air minum di depanmu.” Pinta lelaki bijak tersebut.

Perintah inipun langsung dilaksanakan si pemuda tampan, dituangkan seluruh garam di dalam genggamannya. Kemudian diaduk sesuai dengan perintah dari lelaki bijak tadi.

“Minumlah air garam tersebut anak muda..”, pinta lelaki bijak yang seketika membuat wajah pemuda tampan heran sekaligus kaget.

Namun karena memang merasa harus mematuhi lelaki bijak di depannya, maka air bercampur garam tersebut pun diminumnya. Baru masuk ke mulut si pemuda pun langsung memuntahkan air garam tersebut. Lelaki bijak pun tersenyum lembut melihat pemandangan di depannya.

“Bagaimana rasa air itu anak muda?”, tanya lelaki bijak tersebut.
“Pahit, pahit sekali…”, jawab pemuda tampan masih sibuk menuntaskan semua air garam yang berhasil masuk ke mulutnya.

Kemudian lelaki bijak tersebut mengajak si pemuda tadi untuk keluar rumah. diajaknya menuju ke telaga yang ada di belakang rumah tersebut. Lelaki bijak ini tidak terlupa juga masih menggenggam garam lainnya, dan kemudian menuangkannya ke air telaga tadi. diaduknya air telaga tersebut memakai tangannya sehingga menciptakan riak pelan.

Kemudian disuruhnya si pemuda tadi untuk mengambil air di telaga secukupnya lalu diminum. Pemuda tampan pun mengikuti arahan yang disampaikan lelaki bijak tersebut.

“Bagaimana rasa air telaga ini?”, tanya lelaki bijak.
“Rasanya manis dan menyegarkan..”, jawab si pemuda tampan tadi.
“Tidakah kau merasakan adanya garam di dalam air telaga yang kau minum barusan?”
“Tidak..”, jawab pemuda tampan tersebut secara tegas.

Lelaki bijak tadi pun tersenyum dengan lembut, sembari menepuk pundak si pemuda tampan beberapa kali. Diajaknya si pemuda duduk bersimpuh di bebatuan cadas yang ada di tepi telaga untuk mengobrol sebentar.

“Anak muda yang tampan, dengarkanlah kata-kataku. Dalam hidup kepahitan di dalamnya ibarat segenggam garam yang kubawa tadi. entah sedikit atau banyak kepahitan dalam hidup yang dialami, tidak selalu menciptakan duka berkepanjangan. Tergantung wadah untuk menyikapi kepahitan hidup tersebut.”
“Maksudnya bagaimana?”, potong si pemuda sedikit penasaran dan kebingungan.
“Masalah dalam hidup yang membuatnya terasa pahit pastilah ada, dan ini kondisi biasa atau lumrah. Namun permasalahan ini tidak akan terasa manakala hati sudah ikhlas menerimanya. Memilih menyikapinya dengan tenang dan bijak..”

Pemuda tampan tadi pun sedikit terdiam, terlihat mencoba meresapi setiap kata demi kata yang diucapkan oleh lelaki bijak tadi.

“Wadah permasalahan di hidupmu adalah hatimu sendiri. semakin besar hati yang kau miliki semakin terasa manis semua permasalahan yang mencuat ke permukaan.”, tambah lelaki bijak tersebut.

Mendengar penjelasan lelaki bijak tersebut si pemuda tampan yang mengaku hidupnya pahit pun tersadar. Bahwa permasalahan yang dihadapinya akan terasa manis dan menyegarkan apabila bisa diterima dengan lapang dada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here