Kisah Rapunzel

0
45

Pada zaman dahulu, dalam sebuah negeri, hiduplah sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak. Mereka berdua berdoa siang dan malam agar dikaruniai seorang anak.

Dan penantian mereka tidak sia-sia. Si istri akhirnya hamil.

Pada suatu hari, si istri mengalami ngidam. Dia sangat ingin memakan bunga lotus. Dan karena keinginan makan bunga lotus yang snagat besar ia tidak mau memakan apa pun yang suaminya berikan.

Sang suami tidak tega melihat sang istri yang sangat menginginkan bunga lotus. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi mencari bunga lotus di hutan.

Sang suami sudah menjelajah hujan selama berjam-jam, namun bunga lotus tidak juga ia temukan. Namun, ketika ia berhenti untuk istirahat sejenak, ia melihat banyak tanaman bunga lotus di sebuah pekarangan milik seorang penyihir tua di hutan.

Ia pernah mendengar kabar bahwa si penyihir sangat jahat dan menakutkan, sangat tidak mungkin untuknya meminta izin pada si penyihir untuk meminta bunga lotus. Tapi, ia juga tidak ingin menjadi pencuri. Sang suami sangat bingung. Namun, demi mengingat istrinya yang sedang ngidam dan benar-benar menginginkan bunga itu.

Maka ia pun memberanikan diri mengambilnya satu dan kemudian berlari kembali pulang. sesampainya di rumah ia memberikan bunga itu pada istrinya, istrinya langsung melahap habis bunga itu.

Sang suami bernafas lega ketika ia melihat kondisi istrinya membaik. Namun, ternyata setelah memakan bunga lotus itu keinginan sang istri memakan bunga lotus itu semakin meningkat. Ia menginginkan lagi dan lebih banyak.

Sang suami pun pergi lagi ke rumah peyihir, dia bermaksud memetik bunga lotus itu lagi. Tapi sayangnya, kali ini dia ketahuan oleh si penyihir.
Si penyihir tidak dapat menerima perlakuan dari laki-laki yang telah mencuri bunga lotusnya. Si laki-laki yang akan mengambil bunga lotus itu pun gemetaran menjelaskan bahwa istrinya sedang hamil dan sangat ingin memakan bunga lotus. Si penyihir terdiam dan kemudian dia mengatakan bahwa laki-laki itu dapat mengambil bunga lotus sebanyak yang ia mau asalkan nanti anak dari sepasang suami istri itu diserahkan kepada si penyihir atau ia akan membunuh laki-laki itu dan istrinya.

Laki-laki itu mengangguk, dia pikir ia tak memiliki pilihan. Maka pulanglah ia dengan banyak bunga lotus.

Sampai di rumah dia menyerahkan semua bunga lotus kepada istrinya.

Dengan segera sang istri memakan semua bunga lotus itu.

Dan tibalah saat sang istri melahirkan si buah hati. Dia melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik dengan rambut emas berkilau.

Dia menamai putrinya, Rapunzel.

Si penyihir tahu anak dari laki-laki yang mencuri bunga lotusnya telah lahir. Dia mengambil anak itu dengan paksa dan membawa pergi Rapunzel ke dalam menara yang sudah ia sihir.

“Baiklah. Namamu adalah Rapunzel bayi cantik,” timang si penyihir.

Semakin tahun Rapunzel tumbuh menjadi remaja yang cantik dan rambut emasnya semakin panjang setara dengan tinggi menara yang ia tinggali. Rambutnya juga sangat ajaib, dapat menyembuhkan beberapa penyakit.

Menara yang menjadi tempat tinggal Rapunzel tidak memiliki pintu. Hanya memiliki jendela.

Yang Rapunzel tahu si penyihir adalah ibunya. rapunzel sangat menyayangi ibunya. maka di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun dia meminta hadiah pada ibunya untuk melihat dunia luar. Selama ini dia tidak pernah diijinkan keluar dari menara. Ia sangat bosan.

“Ibu, bolehkah aku keluar dari menara sebentar?”

“Tidak boleh. Di luar sangat berbahaya. Kau bisa celaka,” kata si penyihir.

Rapunzel tidak membantah. Walaupun dalam hati kecilnya ia sangat kecewa.

Selain memiliki wajah cantik, Rapunzel juga memiliki suara yang sangat merdu.

Suatu hari ada seorang pangeran yang sedang berkelana dalam hutan mendengar suara merdu Rapunzel. Pangeran itu terpesona dan mendekati menara. Setiap hari pangeran datang ke dekat menara dan melihat Rapunzel menyanyi. Ia berharap bisa berkenalan dengan si pemilik suara merdu itu.

Dan saat kesempatan itu datang, Rapunzel yang tengah menyanyi dekat jendela melihat pangeran. Dia terkejut. Pangeran tampak salah tingkah dan memutuskan keluar dari persembunyiannya.

“Siapa kau?” tanya Rapunzel.
“Aku seorang pengelana, Nona. Bisakah kau menolongku. Aku sangat haus,” kata pangeran. Pangeran tidak bohong, namun ia tahu itu satu-satunya cara agar ia bisa tahu siapa gadis itu.

“apakah kau orang jahat?” tanya Rapunzel.
“apakah aku terlihat seperti orang jahat?”

Rapunzel akhirnya memutuskan untuk menolong pemuda itu. Rapunzel menatap sekelilingnya, ia tak tahu bagaimana cara menurunkan air dalam teko tanpa takut air di dalamnya tumpah. Maka sebuah ide muncul, ia akan menaikkan pangeran ke atas menara dan menyuruhnya menuang sendiri air yang ia butuhkan. Tapi, ia tak memiliki benda yang panjangnya setara dengan tinggi menara.

Ia melirik rambut emasnya yang berpendar-pendar.

Baiklah, mungkin rambut emasku akan berguna kali ini selain untuk menyembuhkan penyakit.

Rapunzel menurunkan rambut emasnya yang sangat panjang dan berteriak.

“Naiklah!”

Sang pangeran terpesona dan memegang rambut Rapunzel yang berkilau.

“Rambutmu sangat indah, Nona. Maaf siapa namamu?”
“Rapunzel,” jawab Rapunzel.

Sang pangeran benar-benar menyukai Rapunzel. Dia sangat cantik dan baik hati.

“Rapunzel, apakah kau pernah ke pesta dansa?” tanya pangeran
“Pesta dansa? Aku bahkan belum pernah melihat dunia luar,” kata Rapunzel suram.

Pangeran tampak kasihan. Lalu sebuah ide muncul. Dia berencana mengajak Rapunzel ke pesta dansa.

“Lusa ada pesta dansa di istana, kau bisa datang jika kau mau. Aku akan menjemputmu” kata pangeran.
Rapunzel bimbang. Kemudian ia mengangguk.

Setelah puas saling berbagi cerita, pangeran berpamitan untuk pulang.

Rapunzel menurunkan kembali rambutnya dan mengucapkan salam perpisahan. Dia sangat senang hari ini dapat mendapatkan seorang teman.

Si penyihir yang melihat ada seorang pangeran sudah berkunjung ke menara. Dia sangat marah. Dia berpikir Rapunzel baru saja keluar dari menara.

“Kau sudah melanggar peraturan yang ibu buat, Rapunzel!” teriaknya.

Rapunzel bingung. Ia tidak melanggar apa pun yang sudah ibunya tetapkan.

“Ibu, aku tidak melanggar apapun,” kata Rapunzel.
“Kau bohong Rapunzel. Kau pasti tadi keluar dari menara,” bentak si penyihir.
“Bohong!”

Dan Rapunzel menyerah untuk menjelaskan. Namun, tanpa dia duga si penyihir memantrai menara yang menjadi rumahnya.

“Menara yang tinggi. Menara tinggi jangan biarkan seorang pembohong keluar dari menara ini. Jangan biarkan pembohong keluar dari cakupanmu, selamanya,” si penyihir memotong rambut Rapunzel dengan kasar dan kemudian turun dengan sapu terbangnya.

Rapunzel terkejut. Lusa akan ada pesta dansa. Dan dia sudah mengiyakan permintaan itu. Bagaimana jika saat pangeran datang dia tak bisa keluar. Dan rambutnya yang dulu berkilau kini redup.

Saat hari yang dijanjikan tiba, Rapunzel tertunduk lesu dalam menaranya. Menara itu sudah dimantrai oleh si penyihir. Ia tak dapat keluar dari menara itu selamanya. Ketika ia sedang putus asa dengan nasibnya, suara kuda terdengar. Pangeran benar-benar datang menjemputnya. Rapunzel menuju jendela menara.

“maaf pangeran. Ibuku tidak mengijinkanku untuk keluar. Dan menara ini telah dimantrai oleh ibuku,” kata Rapunzel sedih/

Pangeran sangat sedih dan kecewa.

“apa yang ia katakan saat memantrai menaramu Rapunzel?”

Rapunzel kemudian menirukan apa yang penyihir katakan.

“Menara yang tinggi. Menara tinggi jangan biarkan seorang pembohong keluar dari menara ini. Jangan biarkan pembohong keluar dari cakupanmu, selamanya.”

Pangeran berpikir keras.

“Rapunzel apakah kau telah berbohong padanya?”
“Tidak.”
“Itu dia. Kau tidak berbohong. Ayo sekarang turun. Aku bisa keluar dari menara. Kau bukan pembohong,” kata pangeran bersemangat.

Rapunzel tersenyum senang. Lalu wajahnya murung lagi.

“Tapi dengan apa aku akan turun?” katanya.
“Rambutmu?”
“Rambutku sudah dipotong,” kata Rapunzel.

Pangeran mencari cara agar Rapunzel dapat turun. Dia mendapatkan ide. Dia mencari tanaman merambat dan menjadikannya tali. Setelah itu ia melemparkan tali itu pada Rapunzel dengan sangat kuat. Rapunzel menangkap ujung tali tersebut dan mengikatkanya pada jendela menara dengan sangat kuat. Dia pun turun.

“Terima kasih,” kata Rapunzel.

Setelah berhasil turun, Rapunzel menaiki kuda bersama pangeran menuju istana.
Di istana Rapunzel mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih indah dan rambut pendeknya dirapikan oleh para pelayan istana.

Dia pun berdansa dengan pangeran. Pangeran tak dapat melepas pandangannya dari Rapunzel.

Untuk sementara, Rapunzel tinggal di istana. Rapunzel sangat senang. Ia dapat melihat banyak hal di istana. Dan di istana ada salah seorang pelayan yang mengenalinya sebagai anak seorang dari sepasang suami istri yang bayinya dibawa oleh penyihir jahat. Pelayan itu menunjukkan pada Rapunzel siapa orang tuanya.

Rapunzel pun meminta pada si pelayang untuk menunjukkan siapa orang tua kandungnya. Pelayan baik hati itu pun mengantarnya.

Saat bertemu kedua orang tuanya, Rapunzel memeluk mereka dengan perasaan haru. Dia tak mengira ternyata ia bukan anak dari si penyihir. Ternyata selama ini ia telah dibohongi oleh si penyihir.

Setelah bertemu dengan orang tuanya Rapunzel dilamar oleh pangeran. Rapunzel yang juga memiliki perasaan yang sama dengan pangeran pun mengiyakan ajakan menikah pangeran.

Pesta pernikahan digelar sangat meriah. Sepasang kekasih itu benar-benar sangat bahagia.

Sedangkan di menara, si penyihir masuk ke dalam menara untuk mencari Rapunzel dalam menara. Ia sangat marah karena Rapunzel tidak ada. Ketika ia akan keluar dari menara ia tak dapat keluar. Dia pun terjebak dalam menara selamanya. Ia terkurung mantranya sendiri.

“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK,” teriaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here