Kisah Perjalanan Jatuh Bangun Asma Nadia di Dunia Penulis

0
49
https://hot.detik.com/kpop/d-3417744/surga-yang-tak-dirindukan-dan-karya-lain-asma-nadia/3

Bagi yang hobi membaca dijamin familiar dengan beberapa atau malah semua karya Asma Nadia. Asma Nadia sampai detik ini memang dikenal sebagai salah satu penulis terbaik di tanah air. Karyanya cukup banyak ada sekitar 50-an judul novel. Beberapa diantaranya sudah pernah diangkat menjadi film layar lebar, dan nyaris semua karyanya selalu terpajang di rak best seller berbagai toko buku.

Menapak Tilas Perjalanan Menulis Seorang Asma Nadia

Sebelum sampai di titik ini, Asma Nadia menjalani proses menulis yang panjang sebagaimana penulis pada umumnya. Dalam sebuah sesi wawancana, perempuan kelahiran tahun 1972 ini mengaku mengalami masa jatuh bangun. Ketika meniti karir di dunia menulis sebelum bisa lancar menelurkan karya emas seperti sekarang.

Sebelum mengarang cerpen, cerbung, ataupun novel yang merajai media cetak dan toko buku. Wanita yang sudah memiliki dua orang anak ini memulai karir menulisnya dengan menulis lagu. Hal ini menjadi pilihan pertamanya karena melihat sang papa yang juga sebagai penulis lagu. Inilah alasan mengapa beberapa film yang diangkat dari bukunya berisi soundtrack ciptaanya sendiri.

Seperti lagu dalam film Surga Yang Tak Dirindukan, dimana dinyanyikan oleh Raline. Merupakan salah satu karya lagu yang diciptakan sendiri oleh Asma Nadia.

Sebelum fokus menjadi penulis, karir menulis Asma Nadia dimulai di usia remaja. Kala itu Asma sudah mencoba menulis berbagai judul cerpen atau cerita pendek. Zaman dulu karya cerpen musti dicetak, diketik memakai mesin tik. Biayanya juga lumayan lalu dikirimkan lewat pos ke alamat redaksi majalah yang menerima cerpen.

Sering menulis cerpen dan menjajal peruntungan mengirimkannya ke berbagai redaksi majalah dan surat kabar. Ternyata tidak membuahkan hasil, bahkan semangat menulisnya sempat drop. Ketika banyak orang di sekitarnya yang mencibir karya tulisnya, sehingga Asma memutuskan untuk rehat. Baru ketika masuk ke jenjang SMA, Asma mulai aktif menulis kembali meski hanya menelurkan beberapa judul cerpen.

Semangatnya kala itu mulai berkobar manakala cerpennya berjudul “Surat Buat Ashadullah di Surga” dimuat di Annida. Cerpen ini sendiri terinspirasi dari kisah nyata, yakni anaknya teman keponakannya yang berusia 1 tahun 11 hari mendadak meninggal. Meskipun karyanya sudah dimuat Asma mengaku kepercayaan dirinya dalam menulis belum tumbuh maksimal.

Selepas dimuatnya cerpen tersebut di Annida, Asma pun mencoba menulis lebih aktif. Perjuangannya berbuah manis ketika cerbung atau cerita bersambung karyanya mulai diterbitkan oleh beberapa majalah. Selain itu Asma juga terbilang bersemangat untuk aktif mengikuti berbagai lomba menulis cerpen, dan sempat beberapa kali menjadi pemenang.

Asma mengaku tetap berusaha mempertahankan ketidak percayaan dirinya dalam menulis. Sebab perasaan ini diakuinya mampu meningkatkan semangat untuk terus berkarya dan tidak mudah pongah. Mengingat prestasinya dalam menulis sudah mulai terlihat dan diakui berbagai pihak. Sampai pada tahun 2000-an, Asma Nadia meluncurkan novel pertamanya kepada publik.

Buku pertama wanita keturunan Aceh Tionghoa ini berjudul “Lentera Kehidupan”, dan diakui Asma jika kecewa dengan hasilnya. Menurut Asma pihak penerbit kurang maksimal dalam menerbitkan karya tulisnya ini. Terlihat dari desain sampul yang menurutnya jelek dan pemilihan kertas yang jauh dari kata berkualitas. Buku pertamanya ini diakui bukan pilihan teman bepergiann karena desain fisiknya yang tidak keren.

“Aku nggak ngakuin buku pertamaku itu. Sebab desain sampulnya jelek, kertasnya juga lusuh seperti kertas koran yang sudah usang..”, ucap Asma Nadia menjelaskan kekecewaannya.

Belajar dari kekecewaan tersebut, maka di tahun 2009 Asma Nadia merintis penerbitan sendiri. diberinya nama “Asma Nadia Publishing House”. Penerbitan karya Asma Nadia ini pertama kali mencetak karya Asma bertajuk “Emak Ingin Naik Haji”. Asma mengaku terlibat langsung dalam proses percetakan dari nol sampai didistribusikan ke berbagai toko buku.

Termasuk untuk urusan desain cover, sehingga Asma memastikan karyanya memang keren dan menarik untuk dibaca di tempat umum.

“Penerbitannya kecil sih, dalam setahun hanya mencetak antara 4-5 judul buku saja..” ungkap Asma menceritakan proses merintis penerbitan sendiri.

Asma Nadia ingin konsisten mencetak novel dan buku yang menginspirasi, dan begitupun dengan karya tulisnya. Inilah hasil dari perjuangannya selama meniti karir di dunia penulis. Memang tidak mudah namun kerja keras tidak pernah membohongi hasil. Sehingga siapa saja yang ingin sukses di dunia menulis bisa mengintip kisah seorang Asma Nadia ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here