Kisah Nyata Ibu Yang Tinggal Di Kandang Kambing Demi Tidak Jadi Beban Anaknya

0
92
liputan6.com

Inilah kisah seorang ibu, dimana ibu ini tinggal di sebuah tempat yang bisa di bilang jauh dari kata layak. Ibu ini berada di desa isimu raya, kecamatan tibawa, kabupaten gorontalo, gorontalo, memilih untuk tinggal di kandang kambing yang hanya di lapisi sebuah kain. Ibu yang bernama maryam huba ini adalah seorang ibu yang mempunyai tiga orang anak yang sudah tidak punya ayah. Namun bukan karena tidak ada alasan, ibu yang usia nya 50 tahun ini hanya bisa berpasrah dan sengaja untuk memilih kandang kambing sebagai tempat tinggalnya.

Sore hari itu ketika menemui ibu maryam, ibu maryam sedang merapikan tempat tidurnya. Dia pun mengaku sebelum tinggal di kandang kambing, dia pernah tinggal di rumah anak mertuanya yang Cuma berjarak 10 meter dari kandang kambing miliknya. Dia menceritakan pada suatu hari, anak tertuanya bertengkar dengan saudaranya, hal itu terjadi karena dia lupa mematikan mesin pompa air. Mesin air memang lupa di matikan, anak saya pun marah dan bilang bahwa kami hanya menambah beban utang saja tinggal di rumahnya. Pada saat mendengar pertengkaran itu, perasaan sedih di rasakan oleh maryam. Apalagi sikap anaknya sudah berubah dan tidak lagi seperti dulu, dimana anaknya itu sudah tidak mau berbicara dengannya.

Ibu maryam juga merasa bahwa dirinya hanya menjadi bebanbagi anak nya itu, ibu maryam lantas memutuskan pergi dari rumah dan tinggal di kandang kambing. Di kandang kambing yang menjadi tempat tinggalnya, ibu maryam habu kini tinggal dengan anak bungsunya. Masalah muncul karena kandang kambing yang dia tempati itu tidak layak di jadikan tempat tinggal untuk dia dan anak bungsungnya. Ibu maryam pun punya seekor kambing yang merupakan harta ibu maryam satu-satunya, namun kambing satu-satu nya itu terpaksa di jual karena dirinya membutuhkan uang itu.

Uang hasil penjualan kambing di gunakan ibu maryam untuk membuat dinding rumah nya. Akan tetapi itu pun belum cukup, dia pun memakai beberapa lembar kain sebagai tambahan dinding. Ibu maryam pun mengatakan jika malam datangn sangat lah dingin dan jika hujan aka nada genangan air masuk membasahi dalam kandang. Sedangkan untuk makan sehari-hari, dia mengaku menggantungkan hidupnya sebagai pekerja haria meskipun penghasilannya tidak tentu.

Hanya itu yang bisa dia kerjakan. Sejak saat tinggal di kandang kambing, tidak ada satu pun anaknya yang bersedia menjenguk maryam. Biasanya pun upah kerja membantu menanam jagung atau membersihkan jagung jika ada petani yang panen. Namun jika tidak ada yang panen ibu maryam bahkan tidak makan pada hari itu.

Ibu maryam dan anak bungsungya selalu mengatakan bahwa mereka selalu bersyukur dengan segala yang dia miliki sekarang. Walau tidak cukup ibu maryam dan anak bungsungnya tetap lebih senang tinggal di kandang kambing, karena menurut nya dengan begitu dirinya tidak membebani siapa pun. Ibu maryam juga bilang kepada anak bungsunya agar kelak dirinya menjadi anak yang selalu taat pada agama dan tidak boleh sombong saat kejayaan di dapat.

Sesekali ibu maryam merasa sedih jika mengingat anak-anaknya tidak sama sekali yang mengunjungi nya, bahkan sekedar kirim surat pun tidak. Ibu maryam anak-anaknya di berikan hidayah dan di buka kan mata hati nya. Di usia senja nya ibu maryam berharap anak bungsungnya itu bisa segera mendapatkan apa yang di cita-cita kan nya. Menurut nya anak bungsunya itu selalu menyanyanginya tanpa mengeluh sedikit pun dengan keadaannya sekarang ini.

Namun setelah berita ini tayang di berbagai media, tidak sedikit orang bersimpati kepadanya, bahkan mengirim makanan dan juga uang. Saat ketika banyak orang yang datang mengunjungi ibu maryam karena rasa iba, mereka pun membawa sejumlah pakaian dan tempat tidur sebagai alas tidur ibu maryam. Namun setelah berita nya tersebar pemerintah setempat mengusulkan agar ibu maryam di berikan tempat tinggal yang layak, maka saat itu lah pemerintah meminta ibu maryam untuk tinggal di rumah hasil subsidi pemerintah bagi orang-orang tunawisma. Ibu maryam pun menagis dan terharu karena di balik ketidakpeduliaan anak-anaknya masih banyak orang-orang yang bersimpati pada dirinya.

Sejak saat itu ibu maryam dan anak bungsunya mempunyai kehidupan yang lebih layak. Dan tidak lama berselang anak bungsunya itu di terima bekerja di pabrik makanan sehingga membuat dirinya mampu memberikan nafkah bagi sang ibu yang sudah tua dan rentan. Ibu maryam Pun tidak henti-henti nya berdoa untuk anak-anaknya yang sudah melupakannya. Saat itu pun anak bungsung nya membuka kan tempat dagang di rumahnya karena dirinya tidak mau melihat ibu nya cape-cape lagi memanen jagung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here