Kisah Malin Kundang

0
94
siloka.com

Pada zaman dahulu kala hiduplah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang bernama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang. Besar harapan malin dan ibunya, tapi suatu hari ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang di gunakan untuk keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan berlalu ternyata ayah malin tidak kembali juga dan akhirnya hancur sudah harapan malin kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang mulai menjadi dewasa, ia berfikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan berharap nanti saat ia kembali ke kampunya, ia sudah menjadi orang yang sukses. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halaman nya yang sudah sukses kehidupannya. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar ilmu pelayaran pada anak buahnya di kapal yang sudah punya pengalaman. Malin pun belajar dengan giat dan tekun mengenai perkapalan dengan temannya yang sudah jauh lebih dulu memiliki pengalaman. Karena usaha belajarnya Malin kundang pun menjadi sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau yang sudah ia kunjungi hingga dengan suatu hari pada perjalanannya tiba-tiba kapal yang ia tumpangi di serang bajak laut. Semua barang dagangannya yang berada di kapal di rampas oleh bajak laut. Malin Kundang sangat berhuntung karena dirinya tidak di bunuh oleh para bajak laut itu. Pada saat kejadian itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang di tutupi kayu.

Malin Kundang terlonta-lonta di tengah laut, sampai akhirnya kapal yang ia tumpangi terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Dan sampainya di desa itu, Malin Kundang di bantu oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya ia bercerita kejadian yang ia alami. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang begitu subur.

Berkat keuletannya dan kegigihannya dalam bekerja, Malin pun lama kelamaan menjadi berhasil dan kaya raya. Ia pun mempunyai banyak kapal dagang dengan anak buah yang berjumlah 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Setelah beberapa waktu lama menikah, Malin dan istrinya berlayar dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang sangat banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggu anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu memasuki pelabuhan.

Ia pun melihat dua orang sedang berdiri di atas geladak kapal itu. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya. Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah begitu dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakin saja ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. Saat ibunya memeluk Malin Kundang, Malin

Kundang pun melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga jatuh. Malin kundang pun membentak ibunya dengan mengatakan bahwa ibunya itu tidak tahu diri karena mengaku-ngaku sebagai ibunya. Malin kundang pun tidak mengakui ibunya karena dia malu dengan kondisi ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. Istri nya seketika bertanya apakah itu ibu kamu? Malin kundang menjawab bahwa wanita tua itu hanyalah seorang pengemis tua. Saat mendengar perkataan Malin Kundang Ibunya pun sangat marah dan kecewa. Ia tidak menyangka anaknya akan menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.

Karena rasa sakit atas ucapan anaknya itu, ibunya pun semakin memuncak kemarahannya, hingga ibu Malin Kundang pun menengadahkan tanganya sambil berkata” Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku bersumpah ia akan menjadi batu”. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh kencang yang berasal dari badai dasyat yang datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah saat kejadian tersebut perlahan-lahan tubuh Malin Kundang menjadi kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Saat itu pula Malin Kundang berubah bentuk menjadi sebuah batu karang.

Seketika itu pula ibu nya menangis karena ia melihat anaknya yang durhaka itu berubah menjadi batu karang tepat di hadapannya. Istri Malin Kundang pun menangis melihat keadaan suami nya tersebut dan sempat memohon maaf untuk Malin Kundang kepada ibunya, akan tetapi ibu nya berkata bahwa ia tidak bisa mengembalikan kondisi putranya. Bahkan ibunya berkata bahwa putranya lah yang membuat dirinya menjadi seperti itu. Saat itu pula istri seketika menangis sedih melihat kondisi sang suami yang sudah terbujur kaku dan tidak bernyawa lagi.

Nah, itu dia kisah yang bisa di jadikan pelajaran untuk kita supaya nantinya kita bisa menjadi anak yang lebih berbakti lagi apapun kondisi kita nanti.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here