Kisah Malin Kundang

0
35

AlKisah pada zaman dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga miskin di daerah pesisir pantai sumatera. Keluarga miskin itu memiliki seorang anak lelaki yang masih kecil, bernama Malin Kundang. Malin Kundang termasuk anak yang berbakti dan sering membantu pekerjaan ibunya. Sehingga ibunya sangat sayang pada Malin Kundang. Sementara sang ayah sehari-harinya bekerja di sebuah kapal dagang. Ia berlayar hingga berbulan-bulan lamanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Suatu ketika sang ayah meminta izin untuk berlayar, namun setelah itu sang ayah tidak pulang lagi dan tidak diketahui keberadaannya. Sudah bertahun-tahun sang ayah tidak pulang, hingga membuat malin kundang dan ibunya sedih. Kemudian sang ibulah yang kini menjadi tulang punggung keluarga, ia bekerja keras dari pagi sampai sore. Terkadang si malin kundang juga turut membantu sang ibu.

Hingga pada suatu saat malin kundang tak tega melihat ibunya terus-terusan bekerja, ia berpikir untuk membantu ibunya mencari uang dengan cara merantau.

Hingga Pada suatu hari, Si malin akhirnya pergi pamit kepada ibunya untuk merantau, ia bekerja berlayar dengan menjadi pekerja di sebuah kapal yang mengangkut barang-barang. Hal ini mirip dengan Ayahnya yang juga seorang pelayar di laut. Malin pun merasa sangat senang, karena mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang akan bisa terwujud. Awalnya sang ibu tak rela ditinggal malin merantau, namun karena tekad kuat si malin untuk mencari harta yang banyak sang ibu akhirnya memberikan ijin.

Setelah ditinggal merantau si malin, kini sang ibu tinggal seorang diri, ia selalu merindukan si malin dan sang suami yang sudah lama tidak pulang. hampir setiap hari sang ibu selalu berdiri di pantai memandang cakrawala, berharap malin segera pulang. Setiap ada kapal yang singgah, sang ibu selalu berlari menghampirinya, berharap anaknya ada di kapal itu. Namun selalu saja kekecewaan yang didapatkan, karena malin tidak ada disitu.

Sehari-harinya sang ibu sering terlihat melamun, sepertinya memikirkan si malin yang sudah sejak lama merantau. “Malin, sedang apa kau disana?, kapan kau pulang nak?, gumamnya.

Berpuluh-puluh tahun lamanya sang ibu menunggu kepulangan malin, hingga tubuhnya semakin renta dan jalannya tidak secepat dulu lagi. Hingga pada suatu ketika, para penduduk tampak ramai-ramai berlarian menuju ke pelabuhan. sang ibu yang saat itu sudah tua renta dan sakit-sakitan bertanya pada salah seorang penduduk.

Ternyata, di pelabuhan sedang berlabuh sebuah kapal yang sangat besar dan sangat mewah. Pemiliknya adalah seorang pemuda yang tampan dan kaya raya, mereka membawa barang dagangan yang banyak sekali. Mendengar hal itu, sang ibu penasaran dan langsung ikut berlari menuju pelabuhan. Langkahnya terlihat lemah dan tertatih-tatih karena tubuhnya sudah tua.

Setelah sampai di pelabuhan ternyata sudah banyak orang yang berkumpul, mereka terlihat sangat bahagia ketika ada sepasang seorang yang tampan dan gadis yang cantik dari atas kapal membagikan sejumlah uang kepada mereka. sang ibu yang penasaran lalu mendekat ke kerumunan warga tersebut. setelah dilihatnya dari dekat sang ibu yakin bahwa seorang yang tampan di atas kapal tersebut adalah si malin, anaknya yang sudah lama merantau. karena melihat tanda lahir yang ada dalam tubuh malin. Langsung saja sang ibu naik ke atas kapal dan memeluk si malin.

“Malin, kau sudah pulang nak, emak sangat sangat senang sekali bertemu dengan mu”, ucap sang ibu smabil memeluk malin.

Namun perlakuan malin sungguh di luar dugaan, dia melemparkan perempuan tua itu hingga terjungkal. ”Siapa kau? Berani-beraninya mengotori baju ku yang mahal ini?”. Bentak malin.

“Ini aku emak kau malin, yang telah melahirkan kau malin, ternyata kau sudah sukses malin, emak sangat senang kau sudah pulang”. jawab sang ibu.

Malin terkejut mendengarnya, tak disangka perempuan tua dengan pakaian lusuh itu adalah ibunya yang sudah lama dia tinggalkan.

“pengemis jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!”ucap istri malin kundang. “Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang yang kaya raya?.”

Namun karena malu dengan istrinya, si malin berpura-pura tidak mengenali ibunya. “Siapa kau?, jangan mengaku-ngaku sebagai ibu saya, saya bukan anak kau”, ucap si malin dengan kasar.

Kemudian si malin meminta awak kapal untuk mengusirnya dengan kasar.
Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Sang ibu malin pingsan dan terbaring sendiri di tepi pantai. Ketika ia sadar,kondisi pantai sudah sepi. Dilihatnya kapal si Malin semakin jauh. Ia tak menduga, si malin kundang yang sejak kecil ia sayangi berbuat demikian.

Mendapat perlakuan yang sudah keterlaluan dari anaknya, sang ibu malin merasa sangat kecewa dan marah. Hatinya sakit. Akhirnya, dia berdo’a pada yang maha kuasa. .”Ya Allah.. engkau adalah dzat yang maha pengampun, engkau juga maha adil dan maha mendengar setiap do’a hamba mu. Jika benar dia bukan Malin anak ku, maka berilah dia keselamatan dan kebahagiaan. Tapi jika dia benar-benar Malin anak ku yang telah lama pergi merantau, maka aku rela ya Allah dia menjadi batu”.

Kemudian, tiba-tiba langit menjadi gelap, hujan turun dan petir menyambar-nyambar. doa sang ibu dikabulkan, si malin kundang telah berubah jadi batu dan kapal yang di tumpanginya hancur berkeping-keping terkena badai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here