Kisah Ki Ageng Pandanaran

0
22

Alkisah, sekitar abad ke-16 M., hiduplah seorang bupati yang bernama Pangeran Mangkubumi yang memerintah di daerah Semarang. Ia adalah putra Harya Madya Pandan (Bupati semarang pertama). Ketika ayahnya sudah meninggal, Pangeran Mangkubumi menggantikan kedudukan sang ayah sebagai Bupati Kedua Semarang dengan gelar Ki Ageng Pandanaran. Ia diangkat menjadi Bupati Semarang pada tanggal 2 Mei 1547 M. atas hasil perundingan antara Sutan Hadiwijaya (penasehat Istana Demak) dengan Sunan Kalijaga.

Sebagai Bupati, Ki Ageng Pandanaran melanjutkan tugas-tugas yang telah dirintis oleh ayahnya. Di sela-sela kesibukannya tersebut, ia juga giat mengembangkan kegiatan-kegiatan keagamaan untuk membina rakyatnya. Kegiatan tersebut di antaranya mengadakan pengajian secara rutin, menyampaikan ceramah-ceramah melalui khotbah Jumat, serta mengembangkan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah. Dengan demikian, ia dianggap telah berhasil dalam memimpin daerah dan juga telah berhasil dalam membina rakyatnya ke jalan yang benar.

Namun seiring dengan keberhasilan yang diraihnya, sifat ki ageng pandanaran berubah, ia menjadi sombong, angkuh dan kikir. ia tidak lagi mengurusi rakyatnya dan tidak lagi mengajarkan kehidupan beragama kepada umatnya.

Mengetahui perubahan sikap dan perilaku Ki Ageng Pandanaran tersebut, Sunan Kalijaga segera memperingatkannya dengan cara menyamar sebagai penjual rumput. Dengan kecerdasannya, sunan kalijaga menyisipkan nasehat-nasehat kepada sang bupati pada saat ia menawarkan rumputnya.

Suatu hari, Sunan Kalijaga bertamu ke kediaman Ki Ageng Pandanaran dengan mengenakan pakaian compang-camping layaknya seorang tukang rumput. Di sela-sela menawarkan rumputnya itu, ia sembari memberikan nasihat kepada ki ageng pandanaran.

“Maaf, Tuan! Alangkah baiknya jika Tuan segera kembali ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT!” ucap sunan kalijaga yang menyamar jadi tukang rumput.

“Hai, tukang rumput! Apa maksudmu menyuruhku kembali ke jalan yang benar? Memang kamu siapa, sudah berani menceramahiku?” tanya Ki Ageng Pandanaran dengan nada keras.

“Maaf, Tuan! Saya hanyalah penjual rumput yang miskin. Hamba melihat Tuan sudah terlalu jauh terlena dalam kebahagiaan dunia. Hamba hanya ingin tuan agar tidak melupakan kebahagiaan di akhirat, sebab kebahagiaan yang abadi ada di akhirat” ujar si penjual rumput.

Mendengar nasehat itu, Ki Ageng Pandanaran bukannya sadar, melainkan marah dan mengusir si penjual rumput itu. Meski begitu, si tukang rumput tak putus asa untuk selalu mengingatkan ki ageng pandanaran. Namun setiap kali diberi nasihat ia tidak pernah menghiraukannya. Sunan kalijaga pun akhirnya menunjukkan kesaktiannya karena ia khawatir sifat ki ageng pandanaran akan semakin menjadi-jadi.

“Wahai Bupati yang angkuh dan sombong! Ketahuilah, harta yang kamu miliki tidak ada artinya dibandingkan dengan harta yang aku miliki,” kata penjual rumput itu.

“Hai, tukang rumput! Kamu jangan mengada-ada! Buktikan kepadaku jika kamu memang orang kaya!” seru Ki Ageng Pandanaran.

Kemudian Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya dengan mencangkul sebidang tanah. Lebih ajaibnya setiap bongkahan tanah yang dicangkulnya berubah menjadi emas. Menyaksikan kesaktian penjual rumput itu, ki ageng pandanaran menjadi heran dan bertanya-tanya. Dalam hatinya ia berkata bahwa penjual rumput itu bukanlah orang sembarangan.

”Hai, Tukang rumput! Siapa kamu sebenarnya?” tanya Ki Ageng Pandanaran penasaran bercampur rasa panik.

Akhirnya, penjual rumput itu menghapus penyamarannya. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa penjual rumput tersebut adalah sunan kalijaga. Ia pun segera bersujud seraya bertaubat.

“Maafkan, saya Sunan! saya merasa bersalah dan selama ini banyak melakukan dosa, kalau tidak keberatan ijinkan saya menjadi murid sunan.” pinta Ki Ageng Pandanaran.

“Baiklah,! Jika kamu serius ingin bertaubat, saya dengan senang hati menerimamu menjadi muridku. Besok pagi-pagi, datanglah ke Gunung Jabalkat! Saya akan menunggumu di sana.

“Tapi ingat, jangan sekali-kali membawa harta benda sedikit pun!” ujar Sunan Kalijaga mengingatkan.

Dengan semangat tinggi ingin belajar ilmu agama islam. Ki ageng pandanaran pun melepaskan jabatannya sebagai bupati semarang dan memberikannya kepada adiknya. Setelah itu, bersama istrinya, ia meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat. Namun, ia lupa mengingatkan istrinya untuk tidak membawa harta benda sedikit pun. Naluri sebagai seorang wanita, sang istri memasukkan seluruh perhiasan dan uang dinarnya ke dalam tongkat yang akan di bawanya.

Dalam perjalanan, sang istri selalu tertinggal oleh ki ageng pandanaran karena ia keberatan membawa harta benda yang begitu banyak. Ki ageng pandanaran baru menyadari hal itu ketika mendengar suara teriakan istrinya dari belakang.

Kangmas, tulung! Wonten Tyang salah tiga!” artinya “Kangmas, tolong! Ada tiga orang penyamun!”

Mendengar suara tersebut, Ki Ageng Pandanaran segera berlari menolong istrinya. Begitu tiba di dekat istrinya, ia mendapati tiga orang penyamun sedang berusaha merebut tongkat yang dibawa istrinya. Ia pun menjadi marah dan menasehati mereka.

“Hai, kau manusia! Mengapa kamu nekat seperti kambing domba!” seru Ki Ageng Pandanaran kepada tiga penyamun tersebut.

Seketika itu juga, wajah pemimpin penyamun yang bernama Sambangdalan berubah menjadi wajah domba. Rupanya, setelah menjadi murid sunan kalijaga, ia menjadi sangat sakti, setiap ucapannya menjadi sakti mandraguna. Melihat kesaktian itu, para penyamun tersebut menjadi ketakutan. Sambangdalan pun bertaubat dan meminta wajahnya dikembalikan seperti semula. Akhirnya, Ki Ageng Pandanaran pun memaafkan mereka. Tetapi wajah mereka nampak seperti wajah domba, lalu mereka pun menjadi murid ki ageng pandanaran dan memiliki nama syeh domba.

Setelah kejadian tersebut, Ki Ageng Pandanaran bersama istrinya melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di Gunung Jabalkat. Kedatangan mereka disambut baik oleh Sunan Kalijaga.

“setelah sekian lama saya menunggu, Akhirnya kau datang juga, ki ageng,” ucap sunan kalijaga. Sejak itulah, Ki Ageng Pandanaran resmi menjadi santri dari sunan kalijaga.

Setelah cukup lama berguru pada sunan kalijaga, ki ageng pandanaran pun menjadi orang yang cerdas dan rutin lalu ia ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Ia pun mendirikan sebuah perguruan di Gunung Jabalkat. Ajaran Ki Ageng Pandanaran yang paling menonjol disebut dengan istilah Patembayatan, yaitu kerukunan dan kegotongroyongan. Setiap orang yang ingin memeluk agama islam harus mengucapkan kalimat syahdat tembayat. ia juga berhasil mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala berkat menekuni ajaran patembayatan.

Selain pengetahuan agama, Ki Ageng Pandanaran juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara bergaul dengan baik kepada penduduk sekitarnya. Setelah itu, ia pun tinggal di Gunung jabalkat hingga akhir hayatnya. Daerah Jabalkat dan sekitarnya sekarang dikenal dengan nama Tembayat atau Bayat. Itulah alasannya kenapa ki ageng pandanaran di sebut sebagai sunan tembayat atau sunan bayat. Makam Ki Ageng Pandanaran dapat ditemukan di atas Bukit Cakrakembang di sebelah selatan bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here