Kepiting dan Bangau yang Licik

0
48

Di ceritakan pada suatu ketika di sebuah sungai hidup berbagai binatang seperti ikan, kepiting, dan katak. mereka hidup bahagia karena kondisi air sungai yang jernih dan bebas dari gangguan manusia. sampai suatu saat terjadi musim kemarau yang menyebabkan kondisi air sungai menjadi habis dan hanya menyisakan kubangan kecil di sungai yang mengering dan airnya sedikit.

Di dalam kubangan kecil tersebutlah para binatang penghuni sungai seperti sekelompok ikan, katak dan kepiting sedang berkumpul. Mereka sedang bermusyawarah untuk mencari solusi dari masalah yang tengah mereka hadapi. Kemarau yang berkepanjangan telah membuat sungai mengering dan hanya menyisakan sebuah kubangan kecil yang bisa mereka tinggali.

“Kita disini akan mendiskusikan mengenai masalah yang sedang kita hadapai yaitu kemarau yang menyebabkan tempat tinggal kita menjadi kekeringan”, ujar seekor katak selaku pemimpin rapat.

Karena keadaan tersebut, membuat populasi mereka semakin berkurang karena banyak diantaranya yang tidak bisa bertahan hidup dan mati. “Aduh…bagaimana ini! Air di kubangan ini semakin hari semakin menyusut, teman-teman kami banyak yang mati” kata para ikan panik.

“Teman-teman kami juga banyak yang mati, air yang semakin sedikit membuat kubangan ini semakin panas tiap hari” kata para kepiting menimpali.

“Benar sekali kata engkau kepiting, kami pun sudah tidak punya tempat untuk berteduh dan bersembunyi. Rumput dan tumbuhan sekitar mulai pada mati, sehingga burung elang dan ular pun sangat mudah menemukan kami!” kelompok katak ikut angkat bicara.

Mereka berdiskusi dengan tenang dan damai, tetapi mereka tidak menyadari, bahwa ada seekor burung bangau yang mendengar percakapan mereka. Muncullah niat licik dan jahat dari si burung bangau untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. “Wah..sepertinya aku tidak usah repot-repot mencari makanan jauh-jauh. Mereka sendiri yang akan menyerahkan diri untuk kumakan ha…ha…ha.” kata si bangau dalam hati.

Burung bangau pun mulai mendekati mereka, sehingga membuat mereka terkejut.

“Mau apa kau kesini hai bangau?”, tanya sekelompok kepiting.

“Iya, mau apa kau kesini?,” ujar sekelompok ikan menimpali.

“Jangan takut…! Aku kesini bukan untuk memangsa kalian! Aku tadi tidak sengaja mendengar percakapan kalian, aku mungkin bisa membantu kalian…!” kata si bangau mulai menjalankan siasat liciknya.

“Apa yang bisa kamu bantu, wahai bangau? Biasanya kau memakan kami..kenapa tiba-tiba malah ingin membantu kami?” tanya para binatang itu curiga.

“Apa kalian tahu…! Kalau sampai kalian semua mati, maka aku juga akan mati…!” kata si bangau.

“Nah…tidak jauh dari tempat ini, di dalam hutan sana ada sebuah telaga yang walaupun musim kemarau airnya tidak akan habis. Kalau kalian setuju, aku bisa memindahkan kalian kesana” kata si bangau lagi.

“Benarkah itu? Ada telaga?” tanya para binatang tersebut masih belum yakin.

“Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa tanya para merpati. Mereka tahu tempat itu!” kata si bangau mencoba meyakinkan para binatang itu.

“Bagaimana ini, apakah engkau setuju untuk pindah wahai kepiting”, tanya ikan pada kepiting.

“Ok baiklah, daripada kita nanti lama kelamaan tinggal disini dan akhirnya kita semua mati lebih baik memang kita harus pindah dari sini”, ujar katak.

Namun sekelompok katak masih belum yakin dengan niat baik si bangau, katak tersebut menganggap bahwa si bangau hanya akan menjebaknya. “Hai bangau, apakah kau sendiri pernah melihat sebuah telaga di dalam hutan tersebut”, tanya seekor katak.

“Oh ya jelas sudah,, kan aku sendiri yang menawarkan kalian untuk pindah ke telaga tersebut, ya pasti aku sudah pernah melihatnya lah”, jawab si bangau.

Akhirnya setelah melalui perundingan panjang, mereka semua setuju untuk pindah. Dimulai dengan urutan yang telah di sepakati, yaitu pertama kelompok para ikan, kedua kelompok para katak dan yang terakhir adalah kelompok kepiting. si bangau akhirnya membawa mereka satu persatu, begitu secara bergantian. si bangau beralasan membawa mereka satu persatu karena untuk menghemat tenaga.

“ok,, sekarang mari kalian akan saya antar ke tempat telaga tersebut, namun untuk menghemat tenaga, aku akan bawa kalian satu per satu”. Ujar si bangau.

Tapi tentu saja mereka tidak dibawa ke telaga seperti yang telah si bangau janjikan, melainkan dibawa ke sebuah parit kecil untuk kemudian dia makan. Setelah kenyang, dia akan beralasan bahwa dia telah capek dan akan dia lanjutkan besok lagi. Dia ulang perbuatan tersebut hingga satu minggu lamanya. Ketika kelompok para ikan telah habis, kini tinggal kelompok katak dan kepiting.

Ketika katak pertama mau dipindahkan, tiba-tiba dia berkata agar si bangau memindahkan kelompok kepiting terlebih dahulu. “Kau bawa saja dulu kelompok kepiting karena air telah kering dan mereka tidak akan bisa bertahan hidup. kau pindahkan sekelompok kepiting saja dulu, kami para katak terakhiran” kata si katak bersikap bijak.

“Tapi kan semua sudah disepakati sesuai urutan yang telah di tentukan, jadi aku bawa kalian terlebih dahulu” kata si bangau mencoba merayu.

“Jika kau tidak bawa mereka terlebih dahulu, kami tidak mau dipindahkan..Lebih baik kami mati bersama-sama disini!” kata para katak tegas.

Akhirnya dengan perasaan kecewa dan sangat berat hati, si bangau pun mau memindahkan kelompok para kepiting terlebih dahulu.

“Ok lah,,,, jika itu mau mu wahai para katak”, ucap si bangau.

“Sial….Sepertinya hari ini aku akan kelaparan. Padahal aku menaruh kelompok kepiting paling belakang karena aku memang tidak berniat untuk memindahkan mereka. karena cangkang yang keras dan tidak bisa dimakan…Sial…sial…!” gerutu si bangau dalam hati.

Lalu, dengan menaruh di paruhnya, dia membawa kepiting terbang. Dia berniat membuang kepiting itu ke parit tempat biasa dia memakan mangsa-mangsanya kemarin. Namun, dari atas si kepiting melihat sisa-sisa bangkai ikan berserakan. Dia pun mulai sadar bahwa selama ini si bangau telah menipu mereka. si kepiting yang merasa nyawanya terancam mulai ketakutan, “Matilah aku kali ini dimakan oleh si bangau.”, ujar kepiting.

Namun saat si bangau akan menjatuhkannya, dengan cepat si kepiting menyapit leher si bangau. Capitnya yang keras dan kuat mencekik leher si burung bangau hingga membuatnya sulit bernapas. Karena sulit bernapas, si bangau pun terbang rendah berusaha melepaskan cekikan capit si kepiting. Namun karena capit tersebut terlalu kuat, si bangau tidak bisa melepaskannya. Akhirnya si bangau pun jatuh tersungkur ke tanah dan mati karena tidak bisa bernapas.

Si kepiting merasa lega karena berhasil keluar dari bahaya yang mengancamnya, “Akhirnya aku bisa lepas dari si bangau yang licik, sangat bersyukur aku masih bisa selamat”, ucap si kepiting.

Setelah si bangau mati, si kepiting berjalan menyusuri parit dan kembali ke kubangan kecil di sungai untuk menemui kawan-kawannya. Dia menceritakan apa yang telah dia alami dan tentang semua kelicikan si bangau. Mereka semua merasa sedih dan berduka cita atas matinya teman-teman mereka khususnya sekelompok ikan yang telah di mangsa si bangau. Beberapa hari kemudian, akhirnya hujan pun turun dan kehidupan di sungai itu kembali normal serta membuat sekelompok katak, kepiting dan beberapa ikan yang masih hidup kembali hidup bahagia.

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah menjadi manusia janganlah suka berbohong dan jangan pula berbuat licik, karena sifat jahat yang kita miliki suatu saat akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here