Kisah Cinta Putri Duyung

0
47

Kisah Cinta Putri Duyung

Di lautan yang sangat dalam, hiduplah sebuah kerajaan duyung. Kerajaan itu terdiri atas Ratu duyung dan ketujuh putri duyung.
Pada hari itu adalah perayaan ulang tahun putri duyung keenam, Putri Pink.

“Selamat ulang tahun, Pink,” peluk ratu duyung yang tak lain adalah ibunya.
“Terima kasih, ibu. Apakah ini artinya aku akan mendapatkan tiara baru?” tanya Putri Duyung Pink.

Sudah menjadi tradisi jika seorang putri duyung yang beranjak dewasa atau menginjak usia tujuh belas tahun akan dihadiahi dengan tiara. Dan Putri Duyung Pink mendapat tiara dengan hiasan mutiara berawarna pink, sesuai namanya.

“Dan apakah ini artinya aku dapat melihat permukaan, ibu?” tanya Putri Pink antusias.

Sang Ratu pun mengangguk dan tersenyum.

“Tentu putriku. Kau sudah dewasa dan bisa melihat permukaan,” jelas Ratu Duyung.

“Oh, Ibu, bolehkah aku ikut Kak Pink ke permukaan?” tiba-tiba Putri Duyung paling kecil bertanya antusias.
“Tidak. Kau tidak bisa ke permukaan, Sayangku. Kau masih kecil,” Ratu Duyung menggeleng tegas.

Putri paling kecil yang tak lain adalah Putri Ungu menunduk lemah dan beranjak dari istana.

Putri Ungu merasa kesal. Kenapa usia tujuh belas tahunnya masih lama.

Setelah bosan berdiam diri dalam ruangan pribadinya, dia beranjak ke ruangan kakaknya, Putri Pink. Dia ingin menanyakan dunia permukaan. Seharian tadi Putri Pink sudah berangkat ke permukaan.

“Kak, bagaimana dunia permukaan?” tanya Putri Ungu bersemangat.
“Oh, sangat indah adikku. Aku bisa melihat manusia. Melihat kapal-kapal yang berlayar. Merasakan sinar matahari yang hangat,” jelas Putri Pink.
“Wah, hebat sekali kak. Aku sudah tidak sabar,” kata Putri Ungu.
“Tunggulah, adikku sayang. Tunggu satu tahun lagi.”
“Apakah manusia-manusia itu baik?”
“Tidak semua, sayang. Mereka ada yang mencintai laut, ada juga yang merusak laut kita,” jelas Putri Pink.

Putri Ungu mengangguk-angguk paham.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Putri Ungu pun berusia tujuh belas tahun.

Seperti kakaknya dulu. Ia mendapat tiara juga, hanya saja ia menfdapat tiara dengan mutiara berwarna ungu. Dia sangat bersemangat ketika sudah mendapat ijin dari ibunya untuk ke permukaan.

Pagi itu, setelah acara pesta ulang tahunnya, bersama Lobsty, Putri Ungu berenang ke permukaan.

Dan betapa senang hatinya. Dia melihat semua keindahan seperti yang kakaknya ceritakan.

Ketika sedang asyik bermain lempar koral dengan Lobsty di permukaan, Putri Ungu melihat seorang pangeran tampan terapung-apung di atas sebatang kayu. Putri Ungu merasa kasihan. Dan memutuskan untuk menolong pangeran itu.

“Pangeran ini sangat tampan, Lobsty. Kurasa aku menyukainya,” kata Putri Ungu saat menolong pangeran.
Lobsty hanya terdiam.
Putri Ungu sangat senang saat membawa pangeran ke pantai. Ia tak pernah memalingkan wajahnya kemana pun. Dia hanya memandang pangeran itu penuh cinta. Namun, kesenangannya harus berakhir saat segerombolan gadis melewati garis pantai. Putri Ungu memutuskan beranjak dari situ.

“Ayo, Lobsty!” teriaknya.

Ketika Putri Ungu melihat dari kejauhan, dia melihat salah seorang dari mereka mendekati pangeran dan mengecek keadaan pangeran.

Tak lama berselang, pangeran tersadar dan melihat seorang gadis di depannya yang tadi mengecek keadaan pangeran.

“kau selamatkan aku. Terima kasih,” kata pangeran.

Gadis itu hanya tersenyum senang.

“kau yang menyelamatkannya, dia yang menuai cintanya,” kata Lobsty.

“Biarkan saja. Dia selamat, itu sudah cukup bagiku,” kata Putri Ungu lemah dan dia memutuskan kembali ke istananya.

Di ruang pribadinya, Putri Ungu tidak bisa menghilangkan bayangan pangeran.

“Lobsty, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Aku ingin bersamanya. Tapi, aku bukan manusia. Dia tak mungkin menyukaiku,” katanya sedih.
Lobsty sahabat yang baik. Dia tahu bagaimana perasaan Putri Ungu. Tapi dia tidak tahu harus bagaimana.
“Tunggu Putri. Aku tahu, kau bisa ke Lautan Dalam, menemui Penyihir Duyung. Dia pasti bisa membantumu mengatasi masalah ekormu. Tapi dia dikenal sangat jahat,” jelas Lobsty akhirnya.

Tanpa berpikir panjang, Putri Ungu langsung bergegas menuju Lautan Dalam, menemui Penyihir Duyung.

Disana Putri Ungu diberi ramuan yang bisa mengubah ekornya menjadi kaki, namun sebagai gantinya dia harus kehilangan suara indah serta tiara ungunya. Selain itu, jika dalam hari itu dia tidak bisa mendapatkan cinta pangeran, dia akan mati.

Setelah mendapatkan ramuan itu, Putri bergegas menuju pantai.

Dia meminum ramuan itu.

Setelah meminum ramuan itu, dia jatuh pingsan. Setelah sadar dari pingsannya dia terkejut. Dia berada dalam sebuah kamar yang sangat indah.

Pangeran itu tersenyum.

Namun sayangnya, Putri Ungu yang tidak bisa mengeluarkan suaranya hanya membuka-buka mulutnya. Pangeran tak mengerti apa maksud dari si Putri Ungu.

Karena tak paham, pangeran pergi dari kamar itu. Putri Ungu sangat sedih. Pangeran bahkan tidak peduli dengannya.

Tak lama kemudian, pangeran membawakan makanan. Selain itu ia juga mengajak Putri Ungu berdansa.

Putri Ungu merasa senang. Dia merasa pangeran juga mencintainya.

Namun, kebahagiaanya harus hilang karena ternyata pangeran akan menikah dengan gadis yang menemukannya di pantai.

Putri Ungu sangat sedih. Dia pergi dari istana hari itu juga.

Sementara itu di istana bawah laut, sang Ratu sangat panik. Dia dan keenam putrinya pun mencari Lobsty. Lobsty menjelaskan semuanya. Setelah tahu bahwa Putri Ungu pergi ke Lautan dalam dia bergegas ke sana.

Di Lautan Dalam dia menemui seorang Penyihir Duyung.

Penyihir itu mengatakan bahwa Putri Ungu pergi ke dunia manusia. Dan jika gagal mendapatkan cinta pangeran ia akan mati. Dan untuk mencegah kematian Putri Ungu, Putri Ungu harus membunuh pangeran dengan belati yang sudah diberi mantra.

Ratu duyung berangkat menuju permukaan. Sesampainya di permukaan, dia melihat putrinya menangis.

“Ibu, maafkan aku!” teriaknya saat ia melihat ibu dan kakak-kakaknya, namun tak ada suara yang keluar.

‘Tidak nak. Kau harus membunuh pangeran, agar kau selamat,” kata sang Ratu.

“Aku tidak sanggup ibu. Biarkan aku mati saja, ditelan lautan.” Tak ada suara yang keluar lagi. Lalu sang Putri berlari ke tepi jurang dan melompat ke dalam lautan.

Biarlah aku mati. Daripada aku harus membunuh seseorang yang sangat aku cintai. Biarlah…
Katanya dalam hati.

Ratu Duyung dan kakak-kakaknya berteriak agar Putri Ungu tidak melakukan hal itu.

Terlambat. Putri Ungu sudah jatuh ke dalam laut. Sang Ratu menangis terisak-isak. Kakak-kakak Putri Ungu tertunduk sedih. Menyesal adik kecil mereka harus berakhir seperti ini. Membunuh dirinya sendirinya demi cintanya pada pangeran. Ketulusan cintanya ia bawa mati.

Sebelum matahari terbenam, tiba-tiba Putri Ungu muncul kembali. Ia tampak bersinar dan memiliki sayap di punggungnya. Kemudian ada tiga ibu peri mendampinginya.

“Ibu dan kakak-kakakku, janganlah kalian bersedih. Aku akan terbang bersama ibu peri,” katanya dengan wajah cerah.

Sang Ratu merasa berterima kasih pada ibu peri karena sudah menyelamatkan putrinya. Kini para duyung itu tampak lega. Dan Putri Ungu pun terbang ke langit bersama para ibu peri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here