Kisah Cinderalas

0
12

Pada Zaman Dahulu, Di Sebuah Kerajaan Jenggala. Hiduplah Seorang Raja Yang memiliki istana yang sangat megah Bernama Raden Putra. Ia mempunyai permaisuri yang cantik dan baik hati dan juga memiliki seorang Selir yang cantik. Namun, selir baginda memiliki sifat yang jahat, ia sangat iri Pada Permaisuri. Ia merencanakan sesuatu yang buruk kepada permaisuri. “Seharusnya akulah yang pantas menjadi permaisuri, aku harus merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan dia” pikirnya. Akhirnya ia Bekerja Sama Dengan Seorang Tabib Istana, Untuk Melaksanakan Rencananya.

Pada suatu hari selir baginda berpura-pura sakit. Sang Raja memanggil Tabib istana. Sang tabib istana mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang yang telah meracuni selir adalah sang permaisuri baginda” kata sang tabib. Sang Raja menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan dan membunuhnya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang hamil itu ke hutan belantara.
“Maaf tuan putri. Hamba tahu tuan putri tidak bersalah. Tapi hamba harus melaksanakan perintah Paduka Raja.” kata sang Patih.

Tapi, sang patih tidak jadi membunuh permaisuri karena sudah tahu niat jahat dari selir baginda, “Tuan Putri, hamba tidak akan membunuhmu. Namun, hamba Akan memberitahukan kepada Raja, Bahwa hamba sudah membunuh tuan putri. Dan untuk membuat Raja Dan Selir baginda percaya, hamba akan membunuh seekor kelinci, dan melumuri selendang milik tuan putri dan pedang hamba dengan darah kelinci.’’ Ujar Sang Patih. Raja sangat puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah di tinggal sang patih, Permaisuri hidup sendirian, karena sedang mengandung, beberapa bulan lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cinderalas tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan cerdas. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Pada suatu hari, ketika sedang asyik bermain, tiba-tiba seekor rajawali menjatuhkan sebuah telur. Cinderalas langsung mengambil telur tersebut dan menetaskannya, “Hmmmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.”iujarnya.

Setelah tiga minggu, telur itu menetas menjadi seekor ayam yang sangat lucu.

Cindelaras merawat ayam tersebut dengan baik hingga tumbuh menjadi seekor ayam jago yang kuat. Paruhnya runcing dan kokoh seperti paruh burung rajawali serta kedua kakinya terlihat kekar dengan kuku-kuku runcing tajam. Tapi ada satu hal aneh dari ayam jago milik Cindelaras yaitu suara kokoknya “Kukuruyuuuuk….Tuanku bernama Cinderalas, atap rumahnya terbuat dari daun kelapa yang terletak di tengah rimba, ayahnya adalah Raden Putra.”

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan kepada ibunya. Lalu, sang ibu menceritakan siapa ayahnya dan mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita dari ibunya, Cindelaras berniat pergi ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Awalnya sang ibu tidak mengizinkan cinderalas untuk pergi, namun karena tekadnya sangat kuat akhirnya di izinkan.

Setelah di ijinkan ibundanya, dengan ditemani oleh Ayam jago kesayangannya cinderalas pergi ke istana. Namun ketika sedang dalam perjalanan ada warga yang sedang mengadu ayam, “Hei pemuda,,Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” ujar warga tersebut.

“Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika di adu ayam jantan cinderalas dapat mengalahkan ayam jantan milik warga, dan saat di adu beberapa kali dengan ayam yang lain. ayam jantan cinderalas tidak pernah kalah.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaralas terdengar hingga ke istana. Baginda Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Baginda Raden Putra menyuruh prajuritnya untuk mengundang Cindelaras. Setelah diundang, cinderalas pun sampai di istana.

“Engkaukah yang bernama Cindelaras pemilik ayam jago tangguh itu? Maukah engkau mengadu ayam milikmu melawan ayam jago milikku?” tanya Raden Putra.

“Hamba bersedia Gusti Prabu. tapi ada syaratnya Gusti prabu”. kata Cindelaras dengan sopan. Ia mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah ayahandanya.

“Kalo begitu apa syaratnya?’ tanya Raden Putra.

“Syaratnya, jika ayam jago hamba kalah, hamba serahkan nyawa hamba dan ayam jantan ini pada Gusti Prabu. Tapi jika ayam jago hamba yang menang, hamba meminta setengah dari kekayaan gusti prabu, Hamba harap Gusti Prabu tidak tersinggung dengan tawaran taruhan hamba.” ujar Cindelaras.

“Baik. Mari kita mulai duel ayam jago kita, bersiap lah engkau untuk di pancung oleh algojo istana sesuai dengan pertaruhan” kata Raden Putra.

Kemudian dua ekor ayam jago itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi tidak butuh waktu lama, ayam jantan Cindelaras berhasil menaklukkan ayam jago sang Raja. Para penonton pun bersorak sorai, dan takjub terhadap ayam jantan cinderalas.

“Baiklah, aku mengaku kalah dan sekarang akan ku serahkan setengah kekayaanku kepada mu. Namun, Siapakah engkau sebenarnya’’ Ujar Sang Raja.

Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya, setelah itu ayam jantan tersebut mengeluarkan suara, “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahandanya adalah Raden Putra”, ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.

Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah apa yang dikatakan ayam jantanmu itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda yang diasingkan di hutan”.

Bersamaan dengan itu, sang patih tiba-tiba menghadap raden putra dan menjelaskan tentang semuanya yang terjadi. mendengar penjelasan dari sang patih, raden putra menjadi sangat marah. Raden putra pun memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Raden putra pun memanggil tabib istana dan selir untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mereka berdua mengakui perbuatan jahatnya. Kemudian raden putra menghukum mati tabib istana, sementara sang selir dibuang ke tengah hutan.

Setelah itu, Raden Putra beserta sang patih segera menjemput permaisuri di hutan. Akhirnya Raden Putra bersama dengan permaisuri dan cinderalas hidup bahagia. Setelah kematian raden putra, cinderalas menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang raja di kerajaan jenggala. Ia dapat memimpin dengan sangat baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here