Kisah Bawang Merah dan Bawang Putih

0
38

Pada zaman dahulu, di sebuah kampung yang asri hiduplah sepasang suami istri yang berbahagia. Mereka mempunyai anak yang sangat cantik serta baik bernama bawang putih. Bawang Putih sangat santun tingkah lakunya. Orang tua bawang putih sangat menyanyangi anaknya yang juga rajin tersebut. Mereka mendidik bawang putih dengan sangat baik sehingga bawang putih tumbuh menjadi gadis yang dewasa dan berbakti kepada orang tuanya.

Pada kebahagiaan keluarga tersebut tidak berlangsung lama, karena sang Ibu Bawang Putih meninggal dunia karena sakit yang cukup parah. sepeninggal ibu nya Bawang Putih menjadi sedih dan terasa kesepian. Untuk menghilangkan kesedihan bawang putih, sang ayah menikah lagi dengan seorang janda di kampungnya yang bernama mbok inem.

Mbok Inem mempunyai seorang anak perempuan bernama Bawang Merah. Ia seusia dengan Bawah Putih. jadilah bawang putih dan bawang merah kakak beradik.

Pada awalnya, mbok inem dan bawang merah sangat baik hati kepada Bawang Putih, khususnya jika sang ayah lagi di rumah. Namun, setelah cukup lama tinggal di rumah itu, Bawang Merah dan Ibunya mulai memperlihatkan sifat asli mereka yang selalu jahat kepada bawang putih.. Bawang Putih selalu disuruh mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sedangkan mereka berdua hanya santai-santai dan kerjanya hanya bermalas-malasan serta berdandan.

Ayah Bawang Putih sama sekali tidak mengetahui kejadian ini, karena ia sedang pergi berdagang ke luar kota. Mbok Inem dan bawang merah selalu memperlakukan bawang putih semena-mena, kadang juga memarahi serta menampar bawang putih. Jika ayahnya pulang Bawang Putih tidak berani mengadukan perbuatan Ibu dan saudara tirinya itu. Ia benar-benar tertekan, namun karena ia anak yang baik ia berusaha untuk ikhlas menghadapi perilaku mbok inem dan bawang merah.

Mbok inem selalu memanjakan Bawang merah, ia selalu di manja ibunya, segala keinginannya selalu di turuti, sementara bawang putih tidak sama sekali. suatu hari ayahnya bawang putih meninggal dunia karena sakit. bawang putih sangat sedih melihat kenyataan ini. Kini ia harus hidup dan tinggal bersama dengan ibu tiri dan saudara tiri nya yang kejam tersebut.

Suatu hari, Bawang putih lagi duduk di depan sambil menikmati pemandangan alam yang indah, tiba-tiba ibu tirinya menyuruhnya mencuci baju di sungai. “Bawang Putih, kamu cuci baju ibu di sungai sana, tapi ingat jangan harus sampai bersih dan baju ibu jangan sampai ada yang hilang”. Perintah ibu tirinya.

Sebagai anak yang penurut bawang putih langsung melaksanakan tugasnya. Lalu Bawang Putih pergi menuju sungai. sesampainya di sungai ia langsung mencuci. ketika sedang mencuci, tanpa sadar ia kehilangan selendang milik ibunya yang hanyut di sungai. Bawang Putih sangat panik dan takut, karena selendang yang hanyut adalah pakaian kesayangan ibu tirinya.

“Aduh gmna ini, bisa-bisa aku di marahi ibuku kalau selendangnya tidak ketemu”, gumam bawang putih

karena hari sudah siang dan bawang putih belum mempersiapkan makan siang untuk keluargnya, ia memilih untuk pulang. Bawang Putih akhirnya sampai di rumah, awalnya ia takut menceritakan tentang kejadian di sungai tersebut. Namun dengan hati yang tak karuaan ia berusaha berkata jujur pada ibu tirinya. mendengar penjelasan dari bawang putih. Ibu tirinya sangat marah. “Aduh,, selendangku..! dasar anak bodoh,,itu harganya sangat mahal. cepat kamu cari sekarang juga, dan jangan kembali sebelum ketemu”, ucap mbok inem dengan nada keras.

Kemudian bawang putih langsung kembali ke sungai, ia berjalan menyusuri aliran sungai. ia bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya, namun tak ada satu orang pun yang melihatnya.

Bawang putih merasa putus asa,karena hari sudah mulai gelap ia pulang, Ketika ia akan pulang, dari kejauhan ia melihat sebuah gua. Bawang Putih berjalan ke gua itu dan melihat seorang nenek tua yang tinggal di gua tersebut.

“Ada perlu apa anda kemari tuan putri?’’ Tanya nenek tua itu.

“Aku sedang mencari selendang ibuku yang hanyut. Apakah nenek melihatnya?” Tanya Bawang Putih.

“Kebetulan tadi aku sedang mengambil air di sungai dan aku menemukan sebuah selendang. Mungkin saja itu milik ibumu.’’ Kata nenek tua itu.

Kemudian di tunjukkan lah selendang itu dan benar itu milik ibunya. Ia sangat berterima kasih kepada nenek itu. Bawang putih ingin membawa selendang tersebut namun sang nenek menahannya karena hari sudah malam, bawang putih di suruh menginap di gua bersama nenek itu dan membantu bersih-bersih gua tersebut.

Bawang Putih yang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah sangat mudah menjalankannya, ia sangat rajin. Nenek sangat senang kepadanya. keesokan harinya ketika Bawang Putih akan pulang. Nenek itu memberikan sebuah hadiah kepada bawang putih.

“Bawang putih, ini nenek punya dua buah labu, buat kamu. pilih salah satu”. Kata nenek itu. Karena bawang putih tidak serakah, ia memilih labu yang kecil. Setelah mengucapkan terima kasih, ia langsung bergegas pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah ia langsung membelah labu tersebut dan betapa terkejutnya ketika di dalamnya terdapat banyak perhiasan dan harta yang melimpah. kemudian ia bercerita kepada ibunya tentang pengalamannya bersama nenek tua itu di sebuah gua.

Mendengar cerita Bawang Putih, ibu tirinya menyuruh bawang merah pergi ke sebuah gua. ibunya berpesan agar bawang merah memilih labu yang besar supaya perhiasannya semakin banyak.

Ia segera bertemu dengan nenek tua itu di sebuah gua. setelah menginap selama satu hari di gua, bawang merah segera bergegas pulang. namun ia tidak di beri labu. kemudian ia bertanya dengan kasar pada nenek itu, “Hey nenek tua yang jelek, bukankah engkau seharusnya memberikan aku sebuah labu”.

Kemudian si nenek tua memberikan sebuah labu besar, tanpa berterima kasih bawang merah langsung bergegas pulang. “Akhirnya aku dapat labu juga, pasti isinya perhiasan yang sangat banyak, dan aku akan kaya, hahaha..” Ucap bawang merah sembari berjalan menuju arah rumahnya.

Sampai di rumah ia dan ibunya segera membelah labu tersebut, namun mereka terlebih dahulu mengusir bawang putih ke luar rumah dan menguncina agar bawang putih tidak mengetahui isi yang ada dalam labu tersebut. ketika dibelah betapa terkejutnya mereka saat isi labu tersebut adalah ular dan binatang berbisa yang lainnya.

Binatang berbisa itu pun menyerang dan menggigit mbok inem dan Bawang Merah. Mereka akhirnya mati karena tamak. Kini setelah kematian ibu dan saudara tirinya bawang putih hidup sendirian. Walau demikian, karena Bawang Putih anak baik dan rajin, ia sangat disayangi oleh masyarakat sekitar. ia pun hidup berbahagia bersama para masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here