Kisah Ayam Jantan yang Sombong

0
4
http://www.mimbar-rakyat.com/detail/itulah-hidup/

Dahulu kala tersebutlah sebuah peternakan ayam besar yang dihuni oleh ratusan ekor ayam, dua diantaranya adalah ayam jantan atau ayam jago. Kedua ayam jago ini menjadi penguasa atau pemimpin di peternakan ayam tersebut dan mengawasi seluruh ayam betina di dalamnya. Hanya saja keduanya memiliki perangai yang jauh berbeda, satunya dikenal punya tabiat sombong dan serakah. Sedangkan ayam jago satunya dikenal sabar dan bijaksana.

Ayam jago yang sabar memang selalu memiliki pemikiran positif, sebab meski statusnya menjadi pemimpin peternakan. Namun tak seharipun dilewatkan tanpa mendengar cacian dan hinaan dari ayam jago sombong. Meski begitu ayam jago sabar selalu memperlakukan ayam jago sombong dengan baik dan tidak pernah ada niatan untuk membalas perlakuan maupun ucapan buruk yang sering didengarnya.

Suatu hari ayam jago yang dikenal sabar mencari makanan seperti biasanya, sehingga bisa memberi makan seluruh ayam di peternakan. Meskipun kadang kala jumlah makanan yang didapat masih jauh dari cukup. Namun berbeda di hari itu dan bisa disebut sebagai hari keberuntungan sebab ayam jagoi sabar berhasil menemukan lebih banyak makanan dari biasanya.

Sembari merasa senang akan makanan yang berhasil dikumpulkan maka ayam gajo sabar pun membuat pengumuman.

“Teman-teman aku menemukan banyak makanan untuk kita santap hari ini. Mari saling bantu untuk memboyongnya ke dalam peternakan.” Ajak si jago sabar.

Pernyataan inipun disambut riuh gembira semua ayam betina penghuni peternakan dan bersiap-siap menuju lokasi makanan yang disampaikan ayam jagi sabar. Semua penghuni peternakan pun bahu-membahu mengangkut makanan sedikit demi sedikit ke dalam peternakan. Sehingga beberapa bisa disantap langsung dan sisanya bisa disimpan sebagai persediaan untuk esok hari.

Berbeda dengan reaksi sebagian besar penghuni peternakan atas kabar yang dibawa ayam jago sabar. Ayam jago sombong justru merasa dipermalukan karena tidak berhasil menemukan makanan yang cukup untuk seluruh isi peternakan. Tak tahan dan tak bisa mengendalikan emosinya, maka sang jago sombong pun melabrak ayam jago sabar.

“Hei kamu! Bisa-bisanya temuanku kau akui sebagai temuanmu?”
“Apa maksudmu wahai sang jago?”, tanya jago sabar merasa bingung.

Sang jago sombong pun menggiring ayam jago sabar ke tepian agar bisa berbicara dan berduel satu lawan satu.

“Temuanku kenapa kau akui sebagai temuanmu? Maksudku makanan itu..” ucap jago sombong dengan kasar.
“Kenapa itu menjadi temuanmu padahal aku yang menemukannya?”, timpal jago sabar karena merasa posisinya benar.
“Enak saja, kau ingin dianggap pahlawan di peternakan dengan mengaku-ngaku seperti itu!!!” bentak jago sombong sembari menerjang jago sabar, dan berusaha melukainya dengan jalu panjang di kakinya.

Pertarungan pun berlangsung dan hanya ada kedua ayam jago tersebut di lokasi. Ayam jago sabar mulai merasa jika pertarungan ini nantinya akan berimbas pada pertumpahan darah. Dalam pikirannya tentu lebih mengutamakan kepentingan penghuni peternakan. Semua penghuninya ayam betina, tentu butuh perlindungan ayam jago. Apalagi soal mencari makan tentu tidak sesigap ayam jago.

Akhirnya ayam jago sabar memilih mengalah dan berpura-pura kalah dalam pertarungan tersebut. Setelah jago sombong merasa sudah menang dan lalai, jago sabar kemudian segera lari dan bersembungi di balik tumpukan jerami kering. Sejak saat itu ayam jagi ramah mencoba menjauh dari peternakan dan hanya memilih mengawasi saja demi menjaga martabat jago sombong.

Namun siapa sangka, pertarungan tersebut malah membuat kesombongan si jago sombong semakin menjadi. Kemenangan ini kemudian disiarkan ke seluruh peternakan. Merasa tidak puas, sang jago sombong pun memberi pengumuman pada hutan di sisi kiri peternakan. Tidak ketinggalan pula menyiarkan kabar sampai sisi kanan peternakan yang merupakan padang rumput luas.

Saking bahagianya mampu menyingkirkan pesaing beratnya yakni si jago sabar, maka nyaris setiap hari ia menyebarkan berita kemenangannya. Mulai dari menjelang subuh ketika berkokok, pagi hari saat penghuni peternakan sibuk mencari makan, saat sore hari pula, bahkan sampai tengah malam. Mulutnya tak pernah berhenti menggumamkan kemenangannya melawan si jago sabar. Hingga seluruh penghuni peternakan merasa bosan dengan ocehannya yang kaya akan kesombongan.

Hingga suatu ketika sang jago sombong naik ke atap kandang peternakan, dan berkoar-koar dengan suara kerasnya. Perihal kemenangannya melawan jago sabar dan menceritakan kemenangan telak atas pertarungan mereka berdua. Padahal kemenangan ini tidak pernah ada, jika jago sombong tidak terlalu tamak dan haus akan pujian. Sembari berkokok-kokok dan mengibaskan bulu sayapnya masih muncul kata-kata sombong atas kemenangan tersebut.

Tanpa disadari dari kejauhan di atas ketinggian kelakuan si jago sombong diamati oleh sepasang mata tajam seekor elang besar. ketika melihat si jago sombong sudah lengah dan berada di tempat tanpa perlindungan yakni atap kandang. Maka elang pun terbang menukik turun dengan tajam, seketika ayam jago sombong disambar dan dibawanya terbang berputar-putar di atas langit.

Penghuni peternakan yang memang ayam betina semua merasa kaget dan ketakutan lalu memutuskan masuk ke kandang. Sementara si jago sombong perlahan suara teriakannya meminta tolong semakin pelan, semakin lirih, dan perlahan mulai menghilang. Kabarnya pun tidak terdengar lagi. Melihat hal ini jago sabar pun memutuskan kembali ke peternakan. Bahagianya, seluruh penghuni peternakan menyambutnya dengan sukacita.

Sebab seluruh isi peternakan lebih menyukai ayam jago sabar yang bijaksana dibanding ayam jago sombong yang mulutnya selalu berteriak akan kesombongannya. Peternakan pun kini dalam kondisi yang aman dan damai sejak kepergian ayam jago sombong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here