Kisah Anak Rajin dengan Sebatang Pohon Pengetahuan

0
64
https://www.almrsal.com/post/561626

Dahulu kala di sebuah desa kecil tinggalah seorang anak laki-laki yang rajin dan juga pintar. Anak laki-laki ini bernama Mogu dan tinggal bersama ibunya yang sudah renta. Meskipun hidup dalam kemiskinan namun keduanya selalu merasa bahagia atas apa yang berhasil didapatkan. Mogu pun tak pernah sekalipun mengeluh bahkan selalu rajin membantu ibunya bekerja mencari uang.

Sebenarnya Mogu memiliki keinginan besar untuk belajar ke kota seperti teman-teman sebayanya. Namun apa daya karena minimnya biaya maka rasa haus Mogu akan ilmu pengetahuan hanya bisa dipenuhi dengan membaca buku yang dibawa temannya dari kota. Meskipun hanya membaca buku temannya dan tidak pernah menikmati pendidikan formal, namun berkat kecerdasannya. Mogu dengan mudah paham apa yang dibaca dan menjadi pintar karenanya.

Suatu hari Mogu membantu sang ibu yang sudah renta mencari kayu bakar ke tengah hutan. Malangnya Mogu tanpa sadar masuk ke area yang belum pernah dilewati sebelumnya dan tersesat. Berulang kali Mogu mencoba mencari jalan pulang namun tidak juga ditemukannya. Merasa lelah tanpa hasil Mogu memutuskan istirahat sejenak sembari merebahkan diri di bawah pohon besar.

Di tengah tidurnya Mogu merasa bermimpi ada suara yang memanggilnya. Semakin lama semakin jelas dan membuatnya terbangun.

“Siapa yang memanggilku?”, tanyanya sambil bergetar menahan rasa takut apalagi langit sudah mulai gelap.
“Tenanglah nak, aku tak ada niat jahat kepadamu. Aku adalah pohon dimana engkau berbaring di atas akarku.”

Mendengar penjelasan tersebut Mogu pun buru-buru bangun dan rasa takutnya semakin menjadi. Ketika sudah berdiri mendongaklah ia ke arah si pohon dan mendapati raut wajah pohon tersebut. Seketika membuatnya tercekat.

“Jangan takut, aku bukan pohon jahat. Aku adalah Tule yang dikenal orang sebagai pohon pengetahuan.”

Mendengar keterangan Tule, Mogu pun sedikit lebih lega.

“Kenapa kau bisa sampai disini Nak?” tanya Tule.
“Namaku Mogu wahai pohon pengetahuan, dan aku tersesat…”, Mogu pun mulai menceritakan perihal dirinya tersesat di hutan.

Mendengar penjelasan dan cerita Mogu, Tule pun menyadari jika anak laki-laki di hadapannya memiliki kecerdasan luar biasa. Kemudian ia pun bertanya.

“Mogu, kau adalah anak yang pintar. Ilmumu cukup banyak dan membuatku terkesan. Mendengar ceritamu yang ingin terus belajar. Sebenarnya tujuanmu belajar apa?”, tanya Tule penasaran.
“Bagiku ilmu ini sangat penting. Nantinya bisa digunakan untuk mengajari banyak orang mengenai banyak hal. Membantu menentukan mana yang baik dan mana yang benar. Menurutku ilmu pengetahuan sangat bermanfaat untuk menjadikan hidup manusia agar lebih baik.”
“Jawabanmu sungguh bijak. Mungkin hari ini kita bertemu karena sudah menjadi takdir. Maukah kau menjadi muridku?”, tawar Tule.

Mendengar tawaran tersebut hati Mogu pun bahagia, dan wajahnya memulaskan senyuman. Sejak hari itu Tule menjadi guru yang mengajarkan banyak pengetahuan kepada Mogu. Tule pula yang menuntun Mogu untuk keluar dari hutan, dan setiap hari Mogu menjenguknya untuk belajar lebih banyak hal. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun terus bergulir. Mogu menjadi pemuda yang tidak hanya tampan namun juga cerdas.

Selang beberapa bulan setelah ibunya wafat, Mogu diminta Tule untuk mengembara dan mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Mogu pun berkenala berpindah dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain. Membantu para penduduk yang dijumpainya untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Entah masalah dalam bergadang, membangun rumah, berburu, bercocok tanam, dan lain sebagainya.

Hingga sampailah Mogu di Ibukota, dan saat itu sedang diadakan ujian sebagai pejabat dan penasehat raja. Tanpa berpikir panjang Mogu pun mengikuti ujian tersebut, berkat ilmu yang dimilikinya maka bisa lolos dengan mudah. Kabar mengenai kecerdasan Mogu pun sampai pula di telinga sang raja. Ketenarannya membuat Mogu diutus untuk menemui raja secara langsung.

Disaksikan oleh semua pejabat istana Mogu pun menghadap kepada sang raja. Salah satu pejabat istana ternyata ada yang tidak suka dengan prestasi Mogu yakni Baralel. Baralel pun memita izin kepada sang raja untuk melakukan serangkaian tes kepada Mogu guna mengetahui seberapa cerdas pemuda satu ini. Pertanyaan pertama pun diajukan Baralel.

“Menurutmu berapa tinggi badanku?” tanya Baralel.
“Tinggi badan tuan sepanjang ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan ketika dibentangkan.”

Mendengar jawaban tersebut petugas istana pun melakukan pengukuran, dan ternyata jawaban Mogu benar.

“Kau memang pintar. Tapi bisakah menyalakan api tanpa pemantik?”, tantang Baralel.
“Bisa tuan.”, jawab Mogu dan langsung mengambil ranting dan dedaunan kering. diambilnya kaca cembung di kantong bajunya dan diarahkan ke sinar matahari. Tak berselang lama percikan api pun muncul.

Baralel pun merasa semakin marah karena tidak sanggup menunjukan kebodohan Mogu di hadapan sang raja. Namun sekilas muncul ide licik di kepalanya.

“Satu lagi pertanyaanku Mogu, dan kau harus berjanji akan menjawabnya dengan jujur.”
“Baik tuan.”, jawab Mogu.
“Kudengar kau bisa secerdas ini karena dibantu oleh pohon pengetahuan. Dimanakan pohon itu terletak?”

Pertanyaan ini tak pelak membuat Mogu kaget, namun karena sudah berjanji maka ia pun menjawab jujur. Kemudian Baralel meminta Mogu mengantarkan dirinya dan sang raja menghadap ke pohon pengetahuan. Mogu pun menurut dan mengajak raja maupun Baralel bertemu pohon pengetahuan. Tak dinyana pada hari itu Tule sang pohon pengetahuan memberikan sebuah buku berisi ilmu pengetahuan yang luas kepada Mogu.

Melihat itu Baralel pun meminta buku yang sama. Namun ditolak oleh Tule, Tule pun berujar.

“Hatimu kotor dan pikiranmu licik, belajar ilmu pengetahuan akan membuat dunia dan isinya dalam bahaya.”

Mendengar penjelasan tersebut Baralel pun marah dan menyuruh pasukan kerajaan menebang pohon pengetahuan. Seketika Tule pun ambruk dan meninggal. Baralel pun berencana merebut buku warisa Tule dari tangan Mogu. Namun tiba-tiba langit ynag tadinya cerah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan petir yang menyambar dengan rakus.

Pasukan kerajaan beserta raja dan Baralel pun mati terkena sambaran petir. Inilah balasan bagi orang yang serakah. Sebab menuntut ilmu harus ditunjang oleh hati yang bersih agar bermanfaat bagi banyak orang dan terhindar dari malapetaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here