Kenapa Orang India Suka Menari?

0
4

Negara India adalah negara yang kita kenal sebagai negara yang sangat identik dengan tari-tarian. Bahkan, di setiap film Bollywood yang diputar hampir selalu ada scene menari.

Tarian masyarakat India memang sangat unik dan berbeda dari jenis tari-tarian lainnya.

Budaya menari di kalangan masyarakat India memang sudah menjadi ritual wajib di setiap upacara. Menariknya lagi, tari-tarian yang mereka tampilkan selalu tampak sangat selaras dengan adat istiadat warga Anak Benua.

Kira-kira apa alasan warga negara Barata tak bisa lepas dari tarian ya? Hal khusus apa yang menjadi dasar begitu melekatnya tradisi menari di sana, dan sampai sekarang budaya itu masih tetap eksis.

Usut punya usut, ternyata tradisi itu ada hubungannya dengan kisah Bhasmasura lho. Seorang iblis jahat yang oleh orang Hindu disebut dengan ‘asura’, dia memiliki kekuatan yang dapat mengubah siapa saja menjadi abu saat tangannya menyentuh kepala.

Kisah ini bermula ketika seorang bernama Vrka (verka) menjadi salah satu pengikut Dewa Siwa. Vrka adalah seorang pengikut yang sangat patuh dan bertanggung jawab pada semua perintah Dewa Siwa. Vrka berharap dengan bersikap seperti itu ia akan mendapat pahala dari Dewa.

Suatu hari Vrka melakukan tapa berat yang ditujukan pada Dewa Siwa dalam jangka waktu yang lama. Vrka menunjukkan kesetiaan pada Sang Dewa dengan sungguh-sungguh, hingga membuat Dewa Siwa takjub dan setuju mengabulkan permintaan pengikutnya.

Batara Siwa mengunjungi Vrka dan menanyakan anugerah apa yang ia inginkan.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, Vrka meminta pada Dewa untuk memberinya keabadian. Sayangnya, Sang Dewa tak punya kekuatan untuk memberikan keabadian pada makhluk hidup.

Lalu, Vrka memikirkan alternatif lain. Tak bisa mendapatkan keabadian, ia meminta kekuatan sentuhan maut, ia ingin punya kekuatan mengubah siapa saja yang dia inginkan menjadi abu atau bhasma saat dia menyentuh kepala seseorang dengan tangannya.

Tanpa berpikir panjang, Batara Siwa mengabulkan permintaan pengikut setianya.

Setelah permintaan itu dikabulkan Vrka sangat senang. Namun, di saat bersamaan dalam hati Vrka, ada keraguan pada Dewa Siwa. Ia tak sepenuhnya percaya jika Sang Dewa telah memberinya anugerah sentuhan maut itu.

Untuk membuktikan kebenaran perkataan Sang Dewa, Vrka pergi ke hutan. Ia mencari sesuatu yang bisa ia jadikan kelinci percobaan. Ia menemukan kerbau, kepala kerbau itu ia sentuh dengan tangannya dan seketika hewan berkaki empat itu berubah jadi abu.

Setelah itu, Vrka benar-benar senang dan percaya pada Dewa Siwa. Vrka memutuskan kembali untuk menemui Sang Dewa. Ia ingin mengucapkan terima kasih atas kekuatan yang dimilikinya.

Sayangnya, kekuatan itu tidak digunakan oleh Vrka dengan bijak. Ia lebih sering berbuat kerusakan di bumi dan lama kelamaan, Vrka mulai merasa jika ia sudah lebih dari kuat untuk mengambil tahta Mahadewa dari Dewa Siwa sendiri.

Hati Vrka diselimuti oleh kegelapan dan dibutakan oleh kekuasaan. Pada titik itu, akibat dari semua kerusakan yang ia lakukan, ia mulai dikenal sebagai Bhasmasura dimana Bhasma memiliki arti ‘abu’ dan Asura berarti ‘iblis’. Dalam kepercayaan umat Hindu Bhasmasura berarti ‘abu setan’.

Vrka yang dikenal Dewa Siwa sangat setia berubah menjadi Bhasmasura yang haus akan kekuasaan dan berniat untuk mengubah dirinya menjadi abu. Dewa Siwa pun akhirnya memberikan tantangan pada Bhasmasura untuk menyentuh kepalanya.

Bhasmasura menerima tantangan itu dan ia mulai mengejar Dewa Siwa. Akan tetapi Batara Siwa sudah memperlambat waktu, sehingga Bhasmasura yang sudah tergila-gila dengan kekuasaan tak bisa mendekati Sang Dewa sama sekali.

Meski demikian, Bhasmasura tetap mengejar-ngejar Dewa Siwa.

Lalu, di sisi lain, Dewa Wisnu yang melihat Bhasmasura tak akan berhenti mengejar Dewa Siwa dan mengingat jika Batara Guru tak akan menyakiti makhluk baik makhluk dari kawan atau musuh, mengubah dirinya menjadi seorang wanita yang sangat cantik bernama Mohini.

Setelah itu, Mohini turun ke Bumi untuk menghadapi Bhasmasura yang semakin lupa diri.

Kecantikan Mohini menghipnotis Bhasmasura yang saat itu benar-benar sudah dikuasai oleh hawa nafsu. Tak berpikir lama, Bhasmasura menyatakan keinginannya untuk mempersunting Mohini.

Mohini menerima tawaran itu, tapi dengan syarat Bhasmasura harus bisa meniru setiap gerakan tari yang Mohini peragakan, dan harus sama persis.

Bhasmasura mengiyakan persyaratan itu tanpa berpikir panjang. Setelahnya, Mohini mulai menari dan Bhasmasura mengikuti gerakannya. Selama berhari-hari, Bhasmasura terus menirukan gerakan tari Mohini dan makin lama makin mirip. Terlalu asyik menirukan gerakan tari wanita pujaannya, Bhasmasura makin lengah.

Tepat di pertengahan tarian, Mohini meletakkan telapak tangannya di atas kepala. Tanpa sadar, Bhasmasura mengikuti gerakan itu, ia memegang kepalanya sendiri dengan tangannya dan dalam sekejap mata, ia berubah jadi abu.

Itulah kisah singkat dimana tarian dapat menghentikan kejahatan seorang Bhasmasura, yang kemudian menjadi alasan mengapa tari menjadi salah satu elemen penting dalam kebudayaan India yang terus diwariskan secara turun temurun, baik untuk mereka yang beragama Hindu maupun non Hindu.

Di kalangan masyarakat Hindu, tarian yang dibawakan oleh Mohini disebut dengan Mohiniyattam. Sayangnya, di era penjajahan Inggris sekitar abad ke-18, keberadaan tari ini sempat mengabur karena larangan Inggris. Larangan tersebut diberlakukan karena tari Mohiniyattam saat itu dianggap sebagai tarian yang berkaitan dengan kegiatan prostitusi.

Namun, beberapa tahun sebelum India merdeka, tepatnya tahun 1940, larangan itu dicabut dan tarian tradisional melawan setan itu mulai populer lagi di kalangan masyarakat India.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here