Kenalan Sama Cewek Cantik di Kamar Mayat

0
21

Hari ini aku mau share cerita yang agak serem. Kejadian ini udah berlalu 3 tahun yang lalu.

Kalau inget, aku masih merinding pakai banget. Malem itu sekitar jam 10, aku sedang berada di kamar mayat. Ruangan ini berada di gedung paling utara. Dari teras rumah sakit langsung masuk ke dalam lorong agak lebar dengan tulisan besar KAMAR MAYAT. 

Gedung ini terpisah dan sangat sepi.

Tapi, malam itu aku nggak sendiri, aku dan beberapa rekan perawatku ada disana. Kami ngopi-ngopi sambil bercanda. Salah satu temanku Rendi cerita hal lucu sampai aku dan rekan-rekan lainnya ketawa ngakak.

Tapi… salah satu dari kami ada yang cuma diem aja dan menatap horror kami semua yang tertawa.

Karena ngerasa serem juga penasaran, aku ngomong ke dia “Eh, ngapain sih, udah ah serem banget lu.”

Terus dia malah ngajak kami semua buat pergi dari gedung itu, karena menurut dia semakin lama kami di gedung ini, akan ada yang janggal.

Aku dan rekan-rekan lainnya merinding. Sambil bilang permisi-permisi dan minta maaf sama yang tak kasat mata kalau tawa kami mengganggu mereka. Rekan-rekanku pergi semua, sedangkan aku dan temanku Rendi tetap bertahan karena aku dan dia masih harus bertugas sampai jam 4 pagi nanti.

Setelah pergi semua tiba-tiba Rendi bilang kalau dia mau beli air bentar. Waktu itu udah jam 11 malam. Sepintas aku lihat wajah Rendi agak pucat. Tapi mungkin itu efek karena dia tadi sama merindingnya denganku tadi. 

Lalu dia berjalan pergi melewati lorong depan rumah sakit. 

Setelah itu…

Aku sendirian. Sambil menunggu Rendi aku tiduran di lantai rumah sakit, padahal lantainya marmernya kusam banget tapi bodo amat lah. Nah… sambil tiduran aku menikmati pemandangan langit malam.

Di tengah keasyikan menikmati langit malam, tiba-tiba aku mendengar suara ‘tak tok tak tok’.

Refleks aku langsung menoleh ke arah lorong. Di ujung lorong aku melihat seorang cewek yang cantik banget, rambutnya sebahu dan memakai dress putih selutut berjalan ke arahku.

Aku melihat ada bercak mirip darah di dada sebelah kanan. Dia mendekatiku sambil tersenyum. Dia cantik tapi wajahnya pucat.

Aku diem. Antara kaget, bingung, dan merinding juga. 

“Mas, numpang tanya apa jenazah…. saudara saya sudah dibawa kesini?”

Aku memandang wajah cewek itu. Dia menatap ke arah kamar mayat dan tatapannya kosong! Tangannya terus memegang bagian dada kanannya yang ada bercak darah.

Aku tanya siapa namanya. Terus dia jawab “Putri, Mas.”

Hening lagi.

Cewek bernama Putri itu memandang ke arah depan. Tatapannya kosong. 

Dan nggak tahu kenapa aku kok merinding banget. Ah, mungkin karena udah malem jadi dingin terus merinding, pikirku begitu.

Ini Rendi kok nggak dateng-dateng sih, kemana sih tu bocah?

Aku dan Putri diem-dieman cukup lama. Terus biar nggak canggung aku nawarin Putri minum. Dia menolak halus sambil senyum tipis.

Duh, kok aku jadi horror banget sih lihat senyumnya Putri, Gusti!

Makin lama bareng Putri aku makin takut. Sumpah, lihat senyumnya dia itu malah serem!

Dan yang bisa aku lakuin cuma merapal doa di dalam hati. Sesekali aku memandangi wajah cantik Putri.

Aku membuka obrolan lagi

“Putri, sama siapa kesini?”

Dia jawab “Sendiri Mas.”

“Naik apa?”

Dia jawab “Mobil mas, tapi…”

Kok diem?

“Tapi kenapa Put?”

Dia menunduk agak lama, kira-kira 15 menit-an. Dia menghela nafas sambil terus menunduk sampai rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Aku diem aja sambil memandangi dia yang terdiam aneh. Sesekali aku memandang ke arah lain.

Tiba-tiba setelah terdiam dan menunduk cukup lama, Putri mengangkat wajahnya dan tiba-tiba memandangku. Kali ini tatapannya ada yang beda! Aku menyadari kalau bola matanya nampak semakin membesar agak menutupi bagian putih. Deg! Gila! Aku makin merinding.

Aku buang muka.

Keadaan ini membuat bulu kudukku berdiri tegak. Dan Rendi nggak datang-datang! Plis Ren, cepet balik!

Perlahan Putri memandang ke arah depan lagi. Masih diam. Badanku udah lemas tapi jantungku berdetak kencang. Kami diam.

Aku udah nggak berani untuk membuka obrolan. Aku diam dan kaku…

Lalu…

Putri bersuara.

“Saya pamit dulu, Mas. Nanti ke sini lagi, mungkin sekitar jam 3.”

Aku cuma mengangguk mengiyakan.

Putri mulai berjalan menuju lorong keluar. Kupandangi terus sampai dia benar-benar menghilang.

Kucek jam tanganku, udah jam setengah satu dini hari. Rendi udah satu setengah jam pergi beli minum dan dia belum balik. Kemana dia? Aku yang tadinya takut berubah jadi kesal.

Terus nggak lama kemudian aku dengar ada orang yang berjalan kaki di lorong. Deg!

Siapa itu? Saat kutengok, aku bernafas lega. Ternyata itu Rendi. Huft, lega rasanya.

Terus dia ngomong sambil nyengir gitu. Katanya dia lama karena kenalan dulu sama cewek. Dan ceweknya menurut dia cakep banget.

Kok aku jadi sebel ya? Aku nungguin dia lama ternyata dia malah asik kenalan sama cewek.

Aku mengambil bungkusan yang disodorkan Rendi dengan agak kasar. Sebal! 

Nggak tahu apa dia kalau aku ketakutan setengah mati ketemu sama Putri.

Rendi menatapku yang sedang manyun. Terus dia nanya

“Kenapa lu? ” tanya Rendi.

Aku jawab

“Tauk! Gue sebel sama lu. Gue tungguin lama, ternyata malah kenalan sama cewek. Gue hampir mati berdiri disini.”

Rendi malah ngeledekin aku. Terus dia ngasih aku segelas kopi.

Aku diam saja malas menanggapi.

Rendi melanjutkan ceritanya soal kenalan barunya.

“Ceweknya cakep. Dia lagi nyari keluarganya yang kecelakaan dan katanya dibawa kesini tapi belum datang.”

 Deg! Kok…

Aku terhenyak, lalu kupandangi Rendi.

“Terus?” tanyaku.

“Cantik banget pokoknya. Dia pake baju putih selutut gitu. Dibagian dada kanannya kayak ketumpahan saos, gue rasa saos tomat soalnya merah, gak oranye kalau saos sambel kan rada-rada oranye ya.”

Rendi terus nyerocos. Sedangkan aku? Aku nggak tahu udah sepucat apa wajahku.

Aku merinding dan memandangi Rendi. Dia sampai heran aku menatapnya dengan serius.

Rendi awalnya ketawa melihat ekspresiku. Tapi kemudian saat dia menyentuh tanganku yang dingin, dia menghentikan tawanya. 

Terus aku mulai menanyai dia.

“Cewek yang lu temuin namanya Putri bukan? “

Rendi kaget.

“Kok lu tahu?”

Aku mengabaikan ekspresi kagetnya.

“Jam berapa tadi lu ketemu?”

“Sekitar jam 11 tadi. Kenapa sih? Kok lu serius gitu mukanya, kayak habis lihat setan?”

Degup jantungku makin cepat dan keras. 

“Ren, demi Tuhan, gue tadi ketemu dia juga. Gak berapa lama setelah lu pergi, dia berjalan ke arah gue pake sepatu hak tinggi. Aku nggak curiga soalnya sepatunya bunyi, menandakan kakinya menapak. Mukanya pucat. Jam setengah satu dia pamit. Dia bilang nanti mau balik lagi, mau ngecek saudaranya yang katanya meninggal kecelakaan. Denger lu cerita gini, gue merinding lagi.”

Rendi menatapku bengong seolah tak percaya. Wajahnya yang tadi cengengesan berubah pucat.

 

Rendi masih nggak percaya. Tapi, aku ngomong ke dia kalau itu haknya untuk percaya ceritaku atau enggak.

“Darimana gue tahu nama dia Putri kalau tadi nggak ketemu dan kenalan?”

Rendi langsung duduk merapat ke arahku. Dan dia mulai cemas.

Terus dia ngajakin buat pindah karena perasaan dia udah nggak enak.

“Dia bilang mau balik lagi jam 3. Tadinya kalo lu nggak dateng-dateng gue mau cabut aja. Sekarang lu udah dateng, gue agak berani,” kataku sambil nyengir.

“Udah, gue pengin tahu, apa bener itu perempuan balik lagi jam 3. Kita tungguin aja lah.” kataku lagi

Rendi akhirnya mau, walaupun sebenarnya dia enggan. Aku berusaha menceritakan beberapa cerita lucu supaya kami bisa rileks.

Setelah ngobrol berjam-jam, aku ngecek jam tangan. Bentar lagi jam 3. Rendi udah tiduran di lantai.

Tepat saat aku mulai merasa bahwa nggak ada tanda-tanda Putri atau korban kecelakaan akan datang dan saat aku berdiri mengajak Rendi untuk pindah, kami berdua melihat ada dua orang perawat yang berjalan agak cepat sambil mendorong tempat tidur beroda yang di atasnya ada mayat yang ditutup kain putih.

Aku dan Rendi langsung mengkonfirmasi mayat yang baru meninggal itu. Tapi perawat cuma bilang kalau kami bisa ngecek sendiri.

Mayat langsung dimasukkan ke kamar mayat dan menaruhnya di meja bedah.

Terus tanpa ditanya, si perawat menjelaskan bahwa mayat tersebut meninggal sekitar jam setengah satu dini hari, kecelakaan sekitar jam 9 malam tertusuk besi reng di dada.

Di dada? Aku dan rendi saling berpandangan.

Aku mengajak Rendi untuk melihat kondisi mayat.

“Lu sebelah kanan, gue sebelah kiri. Kita singkap kain putihnya sama-sama. Mau gak lu?” tanyaku, setengah ngeri, setengah merinding.

Rendi mengangguk. Dia berjalan ke arah kanan mayat.

1, 2, 3,

Dan kain pun tersingkap.

Aku dan Rendi sama-sama teriak dan memalingkan wajah. Kami istighfar sebanyak yang kami bisa. Kami nggak mau melihat lebih jauh lagi, karena kami sudah tahu. Itu benar mayat Putri.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here