Kemiskinan Membuatku Terpisah dengan Saudara Kembarku Selama 36 Tahun

0
34

Hari ini seperti biasa aku memulai aktivitasku di terminal sebagai admin loket penjualan tiket bus. Hari ini hari minggu, jadilah antrian sangat panjang. Membuatku berkali-kali menghela nafas. Setelah   agak  sepi, aku menyelonjorkan kakiku dan bersantai sebentar.

Saat sedang asyik santai, tiba-tiba ada seorang pembeli tiket bus yang datang ke loket dan melotot kaget melihatku.

Heh? Kenapa? Apa salahku?

Kemudian dia berkata, “Hei, sepertinya aku pernah melihatmu?”

Melihatku dimana? Aku ini agak pelupa, apakah orang ini adalah seorang teman masa kecilku? Tapi, rasa-rasanya bukan.

Lalu aku balik bertanya dengan ramah, “Melihatku dimana?”

“Di suatu tempat,” jawab orang itu.

Setelah itu kami tidak saling bertanya lagi, karena antrian sudah panjang lagi. Dengan gerak cepat aku menyerahkan tiket yang orang itu beli.

Tapi, pernyataannya soal dia pernah melihatku di suatu tempat, berhasil membuatku kepikiran.

Aku berpikir keras, apakah calon penumpang itu memang melihatku di tempat lain, tapi hari-hariku hanya berkutat di kota ini. Aku jarang ke luar kota. Ataukah yang dia lihat itu saudara kembarku?

Ya, aku punya saudara kembar, tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Aku dan saudara kembarku terpisah sejak kami dilahirkan.

Bahkan aku tidak pernah berpapasan dengannya selama 36 tahun.

Aku juga tidak pernah tahu siapa orangtua kandungku.

Tapi, aku tahu, aku punya saudara kembar. Orangtua angkatku yang cerita.

Menurutku, di negara tempat aku dilahirkan, kemiskinan selalu menjadi penyebab utama banyaknya orangtua yang berpisah dengan anak kandung mereka. kalau dulu karena kebijakan satu anak, sekarang karena para orangtua merasa tidak punya uang yang cukup untuk menghidupi anak-anaknya. Dan karena keadaan itu, terpaksa aku juga harus mengalami perpisahan dengan orangtua kandung dan saudara kembarku.

Dan orangtua angkatku pernah bercerita, kalau keadaan orangtua kandungku saat itu sangat miskin. Mereka tidak punya uang yang cukup untuk membiayai aku dan saudara kembarku. Dengan berat hati, orangtua kandungku melepaskan kami yang masih merah untuk diadopsi orangtua lain yang belum dikaruniai anak. Aku dan saudaraku diadopsi oleh dua orangtua berbeda, itulah yang menjadi penyebab aku tidak pernah bertemu dengan saudara kembarku.

Tapi, kejadian tadi siang membuat keinginanku untuk bertemu dengan saudara kembarku muncul. Dari calon penumpang bus itu aku tahu satu hal, saudaraku masih hidup dan aku tidak tinggal jauh darinya. Aku hanya perlu melakukan sedikit usaha.

Keesokan harinya, aku membulatkan tekad untuk memulai pencarian. Aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi, aku pasti akan menemukan caranya.

Dan ilham itu muncul saat aku sedang istirahat makan siang. Aku melihat segerombolan polisi yang sedang patroli.

Aku berpikir cepat, polisi kan aparat negara, pasti dia memegang banyak data warga kota. Aku bisa menanyai salah satu polisi itu bagaimana caranya untuk melihat data-data warga kota.

Aku berjalan mendekati salah satu dari mereka.

“Maaf, permisi, bolehkah aku minta tolong?” sapaku pada mereka, lalu salah satu dari mereka melihatku dan polisi itu tersenyum kemudian menghentikan aktivitasnya.

Aku meminta padanya untuk bicara empat mata dan polisi itu berjalan ke arah bahu jalan dan aku mengikutinya lalu kami duduk situ.

“Apa yang bisa kubantu?” tanya polisi itu.

“Aku ingin kau bantu aku menemukan saudara kembarku”, kataku langsung pada persoalan.

Lalu aku mulai menceritakan kisahku yang terpisah dengan saudara kembarku selama 36 tahun.

Polisi itu menitikkan air mata. Waduh, kok begini, apa ada yang salah? Pikirku.

“Mendengar ceritamu, aku jadi teringat dengan saudara kembarku yang juga belum pernah aku temui sejak lahir,” kata polisi itu padaku.

Ternyata aku dan polisi itu bernasib sama, aku sedikit lega.

“Tentu saja aku akan membantumu,” kata polisi itu lagi dan aku hampir berteriak saking senangnya.

Kami saling bertukar nomor ponsel, untuk saling memberi kabar.

Setelah pertemuan singkat itu, aku masih merenungkan kisahku dan polisi itu, aku masih heran bagaimana mungkin ada orang yang bisa memiliki nasib yang sama denganku. Tapi  itu akan sangat mudah bagiku, karena dengan begitu dia akan memahami perasaanku.

Aku tidak tahu, bagaimana cara polisi itu memulai pencarian, tapi yang dia katakan kemarin saat kami bertemu, dia bilang akan memeriksa database kartu identitas warga kota.

Dia juga menanyai kapan aku lahir.

Menurut polisi itu, aku dan saudara perempuanku kembar, sudah pasti kami memiliki tanggal lahir dan wajah yang sama.

Lalu, dia memeriksa semua wanita yang lahir di hari yang sama denganku. Katanya, ada 280 orang yang lahir di tanggal yang sama denganku. Dia akan meneliti wajah wanita-wanita itu.

Besoknya, dia mengabariku kalau sudah ditemukan sebuah nama yang memiliki wajah sangat mirip denganku, orang itu bernama Wu Li. Aku berteriak histeris karena terlalu antusias.

Keesokan harinya polisi yang bernama Zhao itu dan aku memutuskan untuk menemui wanita bernama Wu Li . Dia menanyai aku, apakah aku akan ikut dengannya. Tentu saja aku akan ikut.

Wu Li tinggal di pusat kota Hangzhou, 32 kilometer jauhnya dari tempat tinggalku.

Sepanjang perjalanan, aku deg-degan. Apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengannya nanti, ini pertemuan pertama kami. Tapi, aku tidak banyak berharap kalau perempuan bernama Wu Li ini saudara kembarku, bisa saja kan polisi Zhao salah orang, meskipun itu kemungkinannya sangat kecil.

Sesampainya di alamat yang kami tuju, polisi Zhao mengetuk pintu rumah Wu Li. Aku berdiri agak jauh dari polisi Zhao karena aku sedang menerima telpon dari kantor.

Sepintas aku mendengar polisi Zhao berbicara dengan seorang perempuan.

“Permisi, bolehkah aku masuk?” Tanya polisi Zhao sopan.

Setelah selesai menutup telpon, aku mendengar seorang perempuan bertanya.

“Tentu. Tapi, maaf sebelumnya apakah aku berbuat sesuatu yang melanggar hukum?” Tanya perempuan  itu.

“Tidak,” jawab polisi Zhao

“Lalu ada apa?” Tanya perempuan itu penasaran

“Aku ingin menanyakan satu hal, apakah Anda punya kembaran?” Tanya polisi Zhao.

Perempuan itu terdiam, saat aku berjalan ke arahnya. Dia menutup mulutnya dan menatapku tak percaya.

Apakah aku bermimpi?

Aku bertemu dengan saudara kembarku hari ini, dia benar-benar sangat mirip denganku dan tanpa menunggu lama, kami langsung berpelukan sambil menangis sesenggukan.

Polisi Zhao yang melihat pertemuan kami ikut terharu. Matanya ikut berkaca-kaca. Dia berkata pada kami berdua, semoga dia juga juga bisa bertemu dengan saudara kembarnya.

Aku dan Wu Li duduk bersebelahan, kami masih belum mempercayai pertemuan kami ini. Dia berkata padaku bahwa dia sebenarnya juga merasa punya saudara kembar tapi dia tidak tahu dimana dan bagaimana mencarinya.

Setelah berbicara panjang lebar, aku dan Wu Li sepakat untuk mencari orangtua kandung kami. Kami tidak pernah membenci orangtua kandung kami, kami sangat mengerti, saat itu pasti kondisinya sangat membingungkan. Aku yakin, jika mereka tidak terjerat kemiskinan, mereka tidak akan tega memisahkan kami berdua.

Dari kisahku, semoga kau lebih bisa mencintai orangtuamu yang dalam keadaan apapun tetap berusaha merawatmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here