Keluarga Tak Kasat Mata Part 7 : Seribu Kepala Berjalan

0
5
idntimes.com

Sejenak aku dan teman-teman berfikir bahwa semuanya merupakan makhluk yang sudah pernah kita temui selama ini. Tapi hanya satu, barisan sajak di atas semakin menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah berhenti untuk hidup berdampingan dengan kita. Hampir sepuluh pemuda menjadi saksi bisu atas kejadian malam itu. Sesaat kami diam dan bengong kea rah lantai dua dimana kami semua tanpa sengaja telah berkontak dengan sesosok wanita anggun yang tidak pernah kita ketahui rupanya.

Cerita selanjutnya mengambil background di bulan ramadhan, dimana semua orang percaya di bulan yang suci ini pasti akan menguji banyak kesabaran umatnya dalam menjalankan ibadahnya. Jadi waktu itu, aktivitas produksi sedang memasuki masa-masa padatnya. Dimana hampir setiap hari yang namanya deadline itu selalu di depan mata. Sudah tidak kepikiran mistis lagi karena sesungguhnya lebih ngeri di kejar deadline daripada di kejar hantu.

Banyak devisi yang terpaksa beraktivitas hingga pagi menjelang, untuk menyelesaikan masing-masing tanggungannya. Hal itu bisa di katakana kerja rodi tim yang paling berat yang pernah di alami. Dengan banyaknya aktivitas tadi, kondisi kantor pun jadi sedikit agak ramie karena lalu lalang orang yang berkoordinasi dari satu ruangan lain. Dan di tengah kesibukan itu, ada satu prioritas lagi yang kebetulan di bebankan untuk devisi aku. Kebetulan waktu itu masa kuliah juga masih libur jadi kita semua bisa all out dalam mengerjakan proyek tersebut. Seperti biasa aku dan tim spesialis kerja dalam langsung briefing untuk ngebantai proyek tersebut. Hampir berjam-jam kita berdiskusi di ruangan kami yang terkenal dengan hawa hitamnya yang menyelimuti. Tapi memang waktu bulan puasa gangguan disini agak kalem jadi bisa fokus bekerja. Pada dini hari pekerjaan lengkap, seperti biasa kasur di gelar dan kami semua nyantai-nyantai dahulu. Mulai dari curhat masalah cinta, nostalgia masa SMA dan lain-lain. Tapi di rasa-rasa ceritanya tidak global, tidak semua mengerti dan ada niat-niat iseng karena sudah sepi belakangan ini tidak ada gangguan mistis. Kita semua sepakat untuk menceritakan pengalam mistis pribadi. Berharap ada penunggu lain yang mendengarkan dan bisa di jahili sedikit sama mereka mala mini. Seperti biasa dan setiap bagian horor seperti ini aku selalu di tunjuk sebagai starternya seolah sudah seperti macam ensiklopedi horor saja. Dan sedikit selipan cerita saja, pengalaman ini nyata di lain tempat karena menurut temen-temen aku cerita ini ngeri banget.

Singkat saja, kejadian ini aku alami dengan ayahku di daerah potrosaran, magelang. Kebetulan aku sendiri asli magelang sebenarnya. Waktu itu aku di ajak ayahku ke rumah temennya buat ngumpul-ngumpul. Kebetulan aku kenal deket dengan semua temen ayahku. Aku kenal mereka dari kecil jadi sudah biasa ngobrol dan tidak canggung. Bisa di bilang rumah temen ayahku gede dan minimalis, bahkan berkesan mewah jauh dari kata horor. Waktu itu, kita semua sedang ngobrol di gazebo luar. Seperti biasa kita ngobrol tentang nostalgia kita masing-masing. Sampai pada akhirnya temen ayahku yang namanya om andi ini bilang ke temen-temen yang lain, kalian denger suara-suara disini tidak? temen-temen ayahku pun mikir, mungkin hanya karena di pinggir jalan yang suara mobilnya kenceng banget mana mungkin bisa mendengar suara aneh. Tapi memang benar, samar-samar dari kejauhan kedengeran suara orang manggil. Sekali dua kali kita denger barengan suara tadi. Saling melihat satu sama lain dan penasaran pun sudah di ujung kepala. Akhirnya beberapa dari kita memberanikan diri untuk mencari sumber suara sambil bawa sapi siapa tahu maling. Perlahan menyusuri luas nya rumah ini sampai akhirnya kita yakin kita menuju arah suara itu. Ayahku sama om andi langsung nanya pemilik rumah, ningsih siapa pembantu kamu? Pikiran kita waktu itu kalo bilangnya pake bahasa jawa gitu. Tapi si pemilik rumah menggelengkan kepalanya sambil terus mencari sumber suaranya.

Sampai pada akhirnya kita sampai di sumber suara. Tidak ada orang dan suara itu masih terdengar seperti berada di sekeliling kami. Si om andi penasaran kemudian suara tadi di jawab, kamu dimana ningsih? dan ternyata suara itu ada di balik korden jendela. Perasaan campur aduk waktu itu antara mau di buka atau tidak. Dan dengan mata yang sedikit tertutup kita dekati arah jendela tadi dan kita semua sepakat dalam hitungan tiga buat buka kordennya.

Saat korden di buka dan belum sempet melihat, di jendela dengan mata yang sangat jelas melihat sosok perempuan paruh baya tubuhnya kecil hampir seperti anak kecil, pakr seragam jarik dan yang membuat kita takut ketika melihat jendela kepala ningsih ini bisa segede jendela panjang dengan pedenya masih menyebut namanya. Sontak temen-temen aku pada menggerutu mendengar cerita ini. Lalu sejam dua jam bertukar cerita, akhirnya kami merasa gangguan yang di harapkan tidak muncul. Kecewa tapi tidak apa-apa karena memang tidak pengen melihat banget. Dan sialnya biasanya pas cerita gitu ada yang mencuri kesempatan untuk tidur supaya tidak parno.Cerita nya berlanjut di part selanjutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here