Keluarga Tak Kasat Mata Part 5 : Bersemayam Dalam Hening

0
15
tribunnews.com

Menyambung cerita sebelumnya dengan nafas yang terengah-engah kita semua masih mencoba mengatur nafas setelah sempat lari-lari dengan perasaan panic. 3 rombongan tadi sekarang sudah berkumpul menjadi satu di teras kantor, sedikit lega rasanya ketakutan sedikit mulai berkurang karena kita sudah sama-sama sekarang. Disini mulai keliatan wajah-wajah munafik yang pura-pura tidak takut, sekarang padahal tadi mukanya panic semua sambil teriak-teriak. Bahkan ada yang menganggap penampakan si hitam tadi sangar sekali karena mereka baru sekali ini melihat penampakan makhluk gaib seperti di film-film. Untuk yang kena jatah ngeliat si mba ketawa dan nenek mukena tadi terlihat wajahnya shock semua. Mereka takut buat masuk kantor lagi karena takut hantu itu masih menunggu mereka di sana. Pada akhirnya beberapa dari kita ada yang memutuskan untuk pulang dan sebagian menghabiskan sisa malam di kantor dengan tidur bareng di ruang tamu dengan penerangan maksimal dan tv menyala. Aku kebetulan juga memilih tetap di kantor, bukan karena aku berani atau bagaimana tapi jalan pulang ke kontrakan aku di daerah jakal yang kalau malam ngeri dan lagi banyak begal juga. So aku memutuskan untuk tidur dengan para penakut yang sok tegar lainnya. Walaupun hari ini di ganggu lagi setelah ini kita masih bisa teriak bareng dan berbagi ketakutan karena sodara. Dan di awal aku sudah cerita jika gangguan di tempat ini sudah level kronis. Dan jika suara-suara angin kita semua sudah biasa karena hampir setiap hari di tengah-tengah aktivitas kita baik pagi, siang dan malam.

Mungkin bagi sebagian orang akan memilih pergi setelah mengetahui betapa angkernya bangunan ini, namun hal ini tidak bagi kami semua. Kami semua lebih memilih untuk tinggal karena kami percaya hanya dengan gangguan seperti itu tidak akan menghalangi kreatifitas kami untuk berkembang lebih lagi. Seolah gangguan-gangguan kecil itu terjadi dan sudah menjadi pelengkap di hari-hari kami ketika sedang asik bekerja. Banyak orang bilang bakalan lari, seandainya ada sesuatu yang janggal terjadi di dekatnya. Akan tetapi itu semua tidak berlaku untuk teman-teman kami. Penunggu di ruangan ini terkenal usil biarpun jarang menampakkan dirinya. Hal yang biasa saat masing-masing individu sedang sibuk di hadapan komputernya dan benda-benda mulai bergerak dengan sendirinya, namun biasanya mereka saling bertegur sapa satu sama lain. Bahkan kita menjadikan suara print dan benda bergerak sebagai bahan candaan untuk kita. Namun beberapa saat aku tersadar apakah ini cara mereka untuk mengungkap bangunan ini. Gangguan kaya gitu sudah jadi makanan sehari-hari, apabila kita takut kerjaan tidak akan selesai. Bahkan saat kita mengadakan rapat devisi mouse yang ada di computer bisa gerak dan ngeklik sendiri dan semua orang ngeliat. Namun puncaknya yang paling hebat dari ruangan ini waktu kita lagi tidur bareng, kita ngerasain hawa panas dan bau rambut kebakar. Kembali ke ruangan tadi, hawa panas dan bau semakin menyengat. Padahal ruangan ini selalu jadi favorit nognkrong karena adem banyak kipas anginnya dan ngerokok pun harus di luar ruangan.

Dan waktu itu tim tidur malemnya juga tidak begitu banyak hanya 8 orang. Namun kondisi ini membuat tambah parah, dimana hawa semakin panas dan bau makin menyengat. Kita melihat sekeliling pun juga tidak ada yang aneh karena di luar sana masih ada winandra yang lagi ngerjain kerjaannya bareng beberapa anak. Makin tidak betah saja dengan hawa seperti itu, kita pun memaksakan tidur sambil ngangkat baju supaya hawa lumayan dingin. Sampai pada akhirnya sekitar setengah tigaan temen aku yang namanya mas andiko ini bangun. Dia terbangun dari tidurnya karena suara winandra yang memang khas karena kencang sekali. Sambil marah dia pun memasang posisi tidur lagi tetapi saat dia mau tidur dia melihat sesuatu di meja. Ada cewek baju putih yang sering menampakkan diri di deket kamar mandi depan itu, lagi nunduk sambil ngayun-ngayunin kakinya.

Si cewek tadi Cuma ngayun-ngayunin kakinya, tangannya mainin lembaran kertas yang suaranya bikin ngeganggu banget. Untungnya mas andiko ini tidak membangunkan kita-kita, dia langsung tidur tengkurep maksain buat tidur lagi. Apabila dengan acara ngebangunin gitu bisa berantakan, aku sendiri sudah bisa diam melihat si mba berbaju putih tadi. Intinya aku bersyukur sekali tidak di kasih lihat malam itu sampai pagi. Kebiasaan di kantor aku ini sebenernya bagus, karena banyak orang sudah bangun di pagi hari buat solat subuh. Beberapa yang sudah solat biasanya sudah tidak tidur lagi, nyantai internetan sambil menunggu pagi buat pergi sarapan atau berangkat kuliah.

Menurut Mas Andiko yang ikutan doa tadi, katanya waktu suara gebrakan tadi si mba yang di lihatnya semalem yang menampakkan diri mukanua di kaca dan melotot kea rah mas rudi. Denger suara sekenceng itu sontak aku sama temen-temen langsung bangun dan lari ke sumber suara takutnya ada apa-apa. Pertama yang kita liat hanya mas andiko dengan mukanya yang sedikit takut. Nah, cerita selanjutnya di baca terus di part lanjutannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here