Keluarga Tak Kasat Mata Part 4 : Reuni Kelam

0
28
idntimes.com

Hari demi hari berlalu, senyuman dan kebersamaan bercampur dengan segala aktivitas kesibukan di tempat ini. Sesaat kami sedikit melupakan kejadian-kejadian janggal yang pernah terjadi tempo hari. Tapi siapa yang menyangka tempat yang di huni puluhan orang, beraktivitas 24 jam ternyata menyimpan sebuah rahasia misteri di baliknya. Mas rudi merupakan sosok pria kurus yang taat beribadah tempo hari pernah mengatakan sedikit nasehat kepada kami untuk menjaga perilaku selama di tempat ini. Karena konon, kekuatan negative di tempat dimana aku lebih banyak menghabiskan waktu sehari-hari ini sangatlah mengganggu. Bahkan ia juga sempat bilang bahwa penghuni di tempat ini tidak segan berkontak fisik dengan kami. Beberapa dari kami mungkin berfikir, nasehat itu konyol menurut ku karena mana mungkin makhluk halus berkontak fisik dengan manusia. Pada dasarnya yang namanya anak muda masih terlalu semangat kerja apalagi di sekelilingnya bekerja dengan teman-teman yang begitu seru seperti suara, umpatan, bahkan candaan yang kita singgungkan kepada penunggu disini hampir setiap hari terlontar dari masing-masing individu.

Akan tetapi di tempat ini, pada saat itu makhluk halus jadi bahan guyonan. Karena memang waktu itu mereka sudah absen untuk tidak menampakkan diri, mungkin mereka lelah. Namun sebenarnya mereka seperti sedang menghimpun kekuatan sendiri. Di suatu tengah malam, saat itu sedang memperingati/mendekati momen malam satu suro. Aktivitas masih ramai seperti biasanya beberapa dari kami masih mengerjakan pekerjaan kami masing-masing dan beberapa sedang berkumpul di lantai atas untuk bercerita sambil menghirup udara malam. Waktu itu aku masih inget banget, aku lagi duduk sambil ngerokok bersama teman aku. Saat itu kita berada di teras ruangan kerja. Ruangan kerja temen aku ini berada di depan taman tengah persis jadi kami bisa lihat sekeliling langsung dari spot ini. Cerita-cerita tentang kehidupan dan pekerjaan terlontar dari masing-masing mulut kami. Sambil sesekali kami beradu cela dengan beberapa temen yang lagi nyantai di lantai atas. Tidak ada yang aneh pada saat itu, kami sudah sangat yakin penunggu di sini sudah jengkel sendiri mau ngerjain kita-kita yang selalu fit dan suaranya lantang dari pada mereka.

Tidak lama terdengar suara bruk, terdengar seperti ada benda jatuh dari lorong sebelah taman. Sedikit info penjelasan kalo lorong sebelah taman ini sebenarnya jadi jalan pintas untuk beberapa orang misal ruang tamu lagi rame client. Tidak ada penerangan apa-apa murni lorong sempit sepanjang 3 meter. Jika kalian masih ingat sama penampakan hantu rambut di kamar mandi, nah belakang kamar mandi itu adalah lorong gelap tadi. Seketika perasaan kita langsung berubah menjadi parno sendiri, bercampur antara itu maling atau karena 2 kemungkinan yang lain. Aku dan winanandra langsung saling tatap sambil senyum. Perasaan kita sudah tidak enak danorang-orang di atas menyuruh kita untuk cek asal suara itu untuk memastikan bahwa itu bukan maling. Sudah jelas aku sudah nyerah nyuruh nyamperin ke lorong gelap karena mau bawa pukulan sekalipun menurutku sudah tidak di maling lagi. Au dan winandra menjamin bahwa itu bukanlah maling. Akhirnya kita di katakana cemen oleh teman-teman di atas. Kita pun tidak peduli dan berkata jika mau cek lakukan bersama-sama dan kita turun lalu cek. Saat itu nyali ku sudah sangat hilang karena keinget sama mba-mba kamar mandi. Sambil ngetawain kita, beberapa temen aku yang ada di atas turun buat ngecek bareng-bareng dan standby di parkiran jaga-jaga jika memang itu maling sungguhan. Waktu semua kaki terinjak di lantai ruang tengah ada penampakan di depan mata kita semua. Penampakan itu berada di antara ruang tengah dengan taman, dimana ada semacam pintu kaca besar.

Greek suara pun terdengar, dimana pintu kaca yang membatasi antara aku dengan teman-teman aku di seberang sana terbuka dengan sendirinya. Jelas tidak masuk akal karena untuk membuka dalam kedaan normal secara bersamaan itu butuh 2 orang dengan kondisi pintu harus diangkat sedikit baru di dorong. Akan tetapi pemandangan ini meninggalkan banyak saksi, pintu seberat itu bisa terbuka pelan dengan sendirinya sampai terbuka lebar. Perasaan antara takjub dengan takut bercampur menjadi satu. Untuk pertama kalinya aku melihat gangguan usil makhluk halus bisa sedasyat ini. Kami pun berbicara, apakah mereka bakal balik lagi dan membawa teman-temannya ke sini. Tidak berlangsung lama di lorong gelap itu ada bayangan sosok yang pernah menampakan diri di depan aku dan winandra. Saat ini sosok ini menatap tajam aku dan winandra, sambil ketawa menutup mulutnya, seolah dia tertawa puas atas kejadian barusan.

Saat itu posisi nya ada di samping pintu dan tinggi nya hampir 2 meter, serta wajahnya pucat. Dia juga ketawa genit di depan aku sama temanku. Tapi yang paling ga bisa aku lupain dia pake ketawa seakan-akan memang berencana jahil kepada kita. Dan masih ada lagi makhluk tinggi nya selangit, mata merah dan kuku panjang. Akhirnya kita beranikan diri untuk melihat ke dapur dan memang benar nenek itu member senyum kecil dan kami semua berharap bersama dengan rombongan di parkiran. Lanjutan nya langsung aja di sambungan part 5.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here