Keluarga Tak Kasat Mata Part 12 : Linier Antar Masa

0
104
tribunnews.com

Sebuah pertanyaan besar yang membekas waktu pertama kali aku masuk ke dalam penggambaran suasana waktu itu. Banyak pertanyaan timbul yang memaksa aku untuk mau tidak mau kembali menelusuri jejak sejarah. Setiap kali menjelang tengah malam, aku selalu merasakan lemas seperti semua beban yang ada di pundak aku, kaki juga mulai panas dengan sendirinya. Di situlah aku tahu jika sosok ibu suminah akan membawa pikiran saya ke kejadian itu lagi. Jadi ijinkan aku sekarang untuk menulis apa yang aku lihat pada saat itu dan apa yang ibu suminah ingin beri tahu kan.

Masih tertunduk di ruang tamu keluarga ibu suminah dengan sedikit tatapan kasihan kepada anak-anak ibu suminah yang sedang berbagi makanan. Perasaan haru aku sepertinya langsung bisa di baca oleh ibu suminah. Kemudian beliau bercerita kepada aku bahwa dulunya kondisi keluarganya tidak seperti ini. Mereka sebenarnya adalah keluarga yang berkecukupan awalnya tetapi yang namanya roda kehidupan pasti ada suatu posisi dimana kehidupan di bawah. Yang membuat keluarga ibu suminah jatuh bangkrut sehingga mereka terpaksa meminjam ke orang-orang untuk menyambung hidup mereka.

Kondisi seperti ini lah yang membuat Bapak berdiam diri di kamarnya. Hal ini mungkin karena tidak kuat menanggung malu dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang gagal menghidupi keluarga. Berikutnya percakapan yang terjadi saya menggunakan bahasa Indonesia saja daripada gagal paham memakai bahasa jawa. Ibu suminah berkata agar aku tetap di sini dulu saja karena ibu suminah akan pergi. Aku pun kawatir karena aku disini hanya ikut ibu suminah takutnya ada apa-apa. Lalu ibu suminah bicara bahwa tidak ada apa-apa jika selama ia pergi aku tinggal disana. Baiklah akhirnya aku di sini juga untuk menuntaskan apa yang sudah aku mulai. Jadi mau tidak mau, takut tidak takut, aku harus tetap di sini lebih lama. Sampai pada akhirnya ibu suminah dan bapak berpamitan pergi kepada kami semuanya untuk berpergian ke pulau seberang.

Tentunya sebelum pergi beliau memperkenalkan aku pada mbok rah. Kesan pertama aku bertemu dengan mbok rah, beliau merupakan sosok wanita lanjut usia yang sangat baik. Beliau termasuk orang yang mudah bergaul dengan saya bahkan aku pribadi kagum dengan kebijaksanaan beliau. Dengan kondisi keluarga ibu suminah yang seperti sekarang ini ternyata masih ada orang yang berbaik hati mau membantu tanpa mengharap imbalan materi apapun.

Terlihat ibu suminah seperti membisikkan sesuatu ke mbok rah sebelum mereka semua berpamitan pergi. Sesekali beliau menganggukan kepala kepada aku seperti mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu aku kembali masuk bersama anak-anak ibu suminah, kasian juga pikir aku waktu itu melihat keadaan yang apa adanya, dimana anak-anak kecil tidak tahu akan makan apa mereka hari ini atau bahkan di kemudian hari. Terkadang aku juga sempat ada pikiran seperti itu. Tapi apa daya aku disini hanya untuk melihat bukan untuk menjudge dan mengambil tindakan sendiri. Mbok rah pun bertanya padaku apakah aku sudah makan? karena beliau mau memasak makanan buat anak-anak. Akhirnya aku dan mbok rah memulai memasak untuk anak-anak ibu suminah. Memang bukan menu makanan yang cukup tapi setidaknya perut mereka terisi untuk hari ini dan beban pikiran berkurang. Sambil sesekali mbok rah menyuruh aku untuk mencoba makanan tadi. Aku sebetulnya tidak terlalu suka makanan berbahan ubi tapi untuk melegakan perasaan mbok rah aku coba makanan tadi. Dan ternyata rasanya tidak seburuk yang aku kira.

Aku dan mbok rah pun langsung berkemas dengan segala peralatan memasaknya dan bergabung dengan aku, berkumpul dengan anak-anak untuk menyantap hidangan yang sudah di persiapkan oleh mbok rah. Anak-anak sangat senang sekali meyantap hidangan itu dengan lahap, aku dengan mbok rah hanya tersenyum dengan penuh haru.

Saat itu aku melonggo mendengar penjelasan mbok rah, jadi secara tidak langsung sekarang ini aku sedang bicara sama sosok religious. Aku semakin buyar setelah tahu banyak kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun lalu dan di simpulkan menjadi satu jawaban beberapa hari yang lalu. Tapi satu yang selalu aku pegang teguh dari awal bahwa semua penghuni disana tidaklah jahat bahkan ada yang rela membantu dan menyampaikan pesan kepada aku, seperti mbok rah dan ibu suminah yang telah berada di samping kita semua semenjak cerita beredar.

Tidak lama ibu suminah dan bapak pulang. Sungguh berbeda pandangan yang di berikan bapak saat itu. Aura senang dan ceria memancar dari wajahnya tapi tatapan serupa tidak tampak dari raut wajah ibu suminah. Aku tidak peduli dengan bapak karena dari awal yang ngeruwat aku di alam ini adalah ibu suminah. Sempat saya dekati ibu suminah dan bertanya, namun bu suminah hanya menggelengkan kepala sambil sedikit menangis.

Semenjak itu kehidupan ibu suminah dan bapak berubah drastis dari cermin kecil yang di taroh di ruang kosong. Aku pun penasaran dan membuka pintu itu pelan dan aku lihat sosok langgeng sedang duduk bertapa sambil menangis. Dia melihat aku dengan tajam dan menyuruhku pergi. Cerita selanjutnya bersambung di part berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here