Keluarga Tak Kasat Mata Part 11 : Tiga Belah Sejarah

0
95
idntimes.com

Dengan bantuan om hao dan tentunya rasa penasaran aku yang tidak terbendung, aku di buang begitu saja ke dimendi lain. Tidak tahu nantinya aku bisa kembali lagi atau tidak. Aku sudah tidak peduli lagi semua pesan yang diterima, aku coba buat dengan bahasa aku sendiri. Yang aku inget jelas waktu itu, aku lagi tiduran sandaran saja di bawah pohon besar. Lengkap dengan suara hembusan angin dan bisikan natural alam yang bisa aku denger samar-samar dari tidur aku. Tapi suara alam sepertinya masih kalh bising dengan suara lain di sekitar yang membangunkan tidur nyenyak aku.

Tidak tahu orang lagi tidur mereka mengganggu saja. Samar-samar ketika aku membuka mata yang masih setengah sadar ini, tebasan kapak dan galok meluncur tepat di hadapan aku. Belum sempat menghindari karena kondisi yang masih setengah sadar. Tebasan tadi seolah menembus kepala aku gitu saja. Anehnya aku tidak merasakan sakit sama sekali, darah pun juga tidak ada. Bahkan aku merasa orang-orang di situ sama sekali tidak melihatku. Saat itu aku bingung sambil cek keadaan sekitar dan hampir sekeliling aku. Dan di sekeliling aku hanya sebuah tanah lapang dengan semak belukar dan rawa di sekitarnya. Orang-orang di sekitar situpun juga berpakaian aneh-aneh. Sepertinya hal nya manusia normal dan sekedar memastikan keadaan, aku cek hape di kantong dan jelas tertulis di layar tanggal yang tertera adalah sekiantahun 1950.

Seketika aku teringat dengan pembicaraan 13-13-13 tempo hari, apakah ini maksud dari semua pertemuan itu? peran aku sebagai eksekutor yang di lempar kesana kesini demi sebuah catatan sejarah yang belum terungkap sampai saat ini. Inilah daerah tempat bangunan yang ada di cerita yang aku tulis pada sekitaran tahun 1950 an. Tidak seperti sekarang ini, daerah ini waktu itu hanyalah daerah terlantar yang belum berpenghuni. Sekelompok orang terlihat sedang membersihkan area itu, sepertinya akan mulai di bangun peradaban di daerah ini. Sebuah pohon besar berdiri di tengah semak belukar dan rawa-rawa. Tebasan demi tebasan di layangkan warga guna merobohkan pohon besar itu berada. Aku masih tertunduk diam sambil memandang ke sekitar, benar-benar pohon yang aku pake buat bersandar ini sangatlah besar dan kesannya super angker.

Aku juga merasa yakin tidak akan bisa di lihat oleh mereka semua, aku beranjak dari tempat tadi dan memandang sekitar. Sampai tatapan mata aku tertuju pada seseorang kakek tua yang sedang menggerutu sendiri di dekat rawa. Penampilannya sekilas hampir mirip seperti langgeng. Aku samperin saja kakek, siapa tahu saja aku mengerti sama pembicaraannya. Dan aku pun duduk di samping kakek tadi, buat mastiin dia bisa melihat aku atau tidak, aku tepukin tangan aku di depan mukanya dan tidak ada respon menandakan dia tau tidak nya aku di dekatnya. Kakek itu berbicara tempat hitam atau angker di rusak tanpa permisi. Memang sekilas pohon yang ada di depan aku ini kayaknya memang bukan sembarang pohon. Jika ada yang tahu pohon gede di sekitaran kampus UGM yang konon sudah jadi urban legend disana, kira-kira seperti itulah bentuknya. Terkesan sangat angker dan dari setiap batangnya seperti ada sesuatu dengan energy besar yang tidak bisa aku lihat di situ.

Si kakek menoleh kea rah aku dan seketika aku kaget. Jika kakek tadi bisa melihat aku berarti kakek itu sepertinya bukan manusia. Setidaknya bukan aku sendirian saja yang tidak kasat mata di sini. Aku masih berencana deskripsi si kakek tentang sosok yang ada di sebelah aku tadi. Satu teriakan keras terdengar dari sebelah aku yang membangkitkan rasa refles aku untuk langsung melihat ke samping. Benar adanya sosok yang sangat tinggi besar dan berbulu lebat dengan mata merah itu menatap aku dengan penuh amarah. Wajah yang sangat sulit untuk aku deskripsikan membuat aku pingsan juga dalam seketika itu juga.

Seketika di alam bawah sadar aku, aku bereaksi dengan sangat cepat waktu aku tidak sadarkan diri. Banyak sekali suara-suara yang mencoba masuk ke pikiran aku saat ini. Satu suara itu seperti memimpin suara dari beberapa jeritan-jeritan yang terdengar tadi. Dan terdengar jelas bisikan suara yang menangis sambil merintih. Itu semua sangat membuat aku seketika tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu harus melakukan apa-apa. Aku pun masih berfikir apakah aku bisa menemukan jalan pulang saat nanti aku harus kembali kea lam aku. Mereka pun mengancam kami karena mereka merasa bahwa kita semua sudah mengusir mereka semua dari tempat yang mereka huni. Yang paling aku takut adalah sosok itu adalah raja dari raja di tempat tersebut. Dan lanjutan cerita nya berlanjut terus di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here