Kancil yang Bijak

0
32

Pada suatu hari di tepi hutan yang indah, hiduplah sebuah keluarga sapi yang sangat bahagia. Keluarga itu terdiri dari sapi betina, sapi jantan dan seekor anak sapi yang baru menginjak remaja. Pemandangan di tepi hutan yang indah dan rerumputan yang adem membuat anak sapi dapat bermain kesana kemari.

“Bu saya mau main dulu ke tepi sungai.” Kata anak sapi.

“Boleh, tapi jangan jauh-jauh ya,” kata Ibu Sapi.

“iya bu,” jawab anak sapi.

Sapi muda itu pun bermain di tepi sungai, ia sangat senang karena dapat melihat ikan-ikan sedang berenang, melihat katak yang meloncat-loncat, dan melihat kupu-kupu terbang. Namun tak terasa ternyata ia sudah cukup jauh dari orang tuanya. Tiba-tiba ia mendengar suaru teriakan minta tolong.

“Tolong, Tolong, tolong.” Rintih buaya dengan suara memelas.

Ternyata itu suara buaya, si sapi pun mendekati buaya tersebut. “Kau ini kenapa buaya?” Tanya si sapi.

“Aduh sapi, sudah dua hari ini aku tertindih kayu besar ini,” kata buaya.

“kenapa kau bisa tertindih kayu itu, buaya?” Tanya sapi polos.

“Gara-gara gempa bumi dua hari yang lalu,pohon yang ada di pinggir sungai itu roboh dan menimpa ku,, sekarang tolonglah aku sapi yang baik,” kata buaya.

“aku tidak bisa menolong kamu buaya, maaf ya” kata sapi ragu.

“kenapa? Kau pasti kuat mendorong kayu yang menimpa tubuh aku ini!” kata buaya.

“Kuat si kuat,, kayu segini mah ringaann, tapii….” Kata sapi.

“tapi kenapa buaya.?” Tanya buaya.

“Tapi,, tapi aku tidak bisa menolongmu, kalau kau aku tolong nanti kau bisa memangsaku” kata sapi lagi.

“jangan khawatir sapi yang bagus, aku berjanji tidak akan memangsa mu!” kata buaya.

“tidak! Aku tidak bisa mempercayai kamu buaya,” jawab sapi.

Si buaya terus menerus meminta pertolongan kepada sapi, namun sapi tidak mau menolongnya, ia teringat pesan ibunya bahwa bangsa buaya adalah bangsa yang jahat, setiap ucapannya tidak bisa di percaya, mereka licik.

“oh, sapi yang baik, apakah kamu tidak merasa kasihan sama aku,, aku sudah 2 hari tertindih kayu dan 2 hari tidak makan dan minum,, ayolah sapi aku mohon” kata buaya dengan merayu.

“tidak bisa. kau binatang jahat,“ potong sapi.

“Oh sapi yang baik,, itu dulu.. sekarang aku sadar setelah aku terkena musibah seperti ini pasti aku membutuhkan pertolongan, aku janji akan bertobat setelah ini dan tidak akan memangsa mu atau hewan yang lain kecuali mereka sudah mati duluan…..!” kata buaya masih tetap merayu sambil menitikan air mata.

Akhirnya sapi yang merasa kasihan menolong si buaya tersebut, “baiklah, aku akan menolong kamu buaya! Tapi kamu harus janji tidak akan memangsa aku.” Kata sapi.

“iya pastii aku janji, percayalah,” bujuk buaya.

Kemudian si sapi berusaha mendorong kayu itu sekuat tenaga, Hanya butuh waktu 15 menit si buaya pun terlepas dari kejatuhan kayu tersebut. Tiba-tiba begitu kayu itu terlepas dari badan buaya. Buaya itu langsung melompat ke punggung sapi dan menggigitnya.

“Aduh,,, buaya,,kenapa kau menggigit aku?” Tanya sapi heran..

“setelah kau membebaskan aku dari kayu yang besar,, sekarang kau harus menolongku dari rasa lapar dan haus.” jawab buaya.

“Dengan memakan daging aku?” kata sapi.

“Betul, aku akan memakanmu sekaligus menghirup darah segar mu,” kata buaya.

“Dasar buaya licik,, kau tidak pernah bisa berbalas budi !” kata sapi dengan nada marah.

“Dasar sapi yang bodoh, sekarang terimalah nasibmu kini,” kata buaya dengan senang.

“Aku tidak terima, ini gak adil” teriak sapi.

“Wahai sapi ini sudah menjadi hukum rimba, bagi yang kuat ia yang menang” Kata buaya.

“tidakk,, tidak,, aku masih belum bisa terima” kata sapi.

“Kau bisa bertanya pada makhluk yang lain, pasti mereka akan membenarkan aku,” jawab buaya.

“ya, akan aku coba meminta keadilan kepada yang lain” Kata sapi.

Kebetulan saat itu ada tikar lapuk hanyut di sungai. Sapi menceritakan kejadian yang menimpanya dan meminta pendapat tikar lapuk tersebut. Lalu apa jawabannya?

Si tikar lapuk menjawab, “Itu sudah benar, terimalah nasibmu. Aku juga mengalaminya, ketika aku masih dalam keadaan baru aku di pakai, jika aku kotor aku dibersihkan tapi setelah ku lapuk dan banyak yang bolong aku dibuang begitu saja kesungai”.

“Nah, benarkan kataku Sapi” sahut Buaya.

“Tidak, nah itu ada keranjang hanyut.” protes Sapi.

Tapi ketika keranjang itu di tanya jawabannya persis seperti tikar
“ketika masih baru dan masih utuh aku dipakai, kini setelah rusak aku dibuang begitu saja ke sungai”. jawab si keranjang.
“Nah, benar kan?” sahut Buaya.

Tiba-tiba ada seekor bebek betina tua berenang, sapi dan buaya meminta pendapat kepada bebek betina itu.

“Memang benar apa yang dikatakan buaya. ku kira manusia juga kejam. dulu waktu aku masih muda dan masih bisa bertelur aku dipelihara dengan setulus hati. namun saat aku sudah tua aku malah akan di sembelih,, untungnya aku bisa melarikan diri” Kata bebek tua.

“hahahaha… mau mengadu kepada siapa lagi kau sapi?” kata buaya tertawa puas..

Si sapi tak kehabisan akal, demi menegakkan keadilan si sapi mengajak si buaya untuk menemui si kancil yang dianggap bisa menjadi penengah permasalahan diantara keduanya. Ketika sampai di rumah si kancil, si sapi dan si buaya meminta pendapat kepada si kancil, si buaya yang sedang diatas angin sangat yakin si kancil juga akan membenarkan pendiriannya.

“Tunggu dulu,, aku harus tau cerita awalnya seperti apa, kalau aku diminta menjadi penengah,, kalian harus menceritakan kejadiannya sejak awal hingga aku mengerti,, apakah kalian setuju mengulang kejadian dari awal” kata kancil bijak.

“Ok, baiklah aku setuju..” jawab buaya.

“Ok, kalau begitu mari kita ke tempat kejadian semula.”, ujar kancil.

Kemudian si sapi dan buaya dengan mengajak si kancil kembali menuju ke tepi sungai. Setelah itu dilakukan lah pengulangan kejadian itu. Buaya kembali ke tempat semula, dan sapi menindihkan kayu ke atas badan buaya. Lalu si sapi menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada kancil.

“Benarkah kejadiannya seperti ini???” Tanya kancil.

“ya, benar!” jawab sapi dan buaya bersamaan.

“Lalu buaya memanggil ku, dan meminta tolong kepadaku.” Kata sapi menjelaskan secara detail.

Kancil mendekati sapi dan berbisik lirih, “Ayo kita tinggalkan buaya yang jahat ini”. Sapi baru sadar, inilah kesempatan emas baginya lolos dari si buaya licik. Tanpa basa-basi kancil dan sapi pun langsung lari meninggalkan si buaya.

“hei, mau kemana kalian,, tunggu…..! jangan pergi dulu…..! teriak buaya.

Tetapi sapi dan dan kancil tak menghiraukannya. Mereka pergi sejauh mungkin meninggalkan buaya itu sendirian. Buaya itu pun kembali tertindih kayu besar dan tidak ada yang menolongnya.

Hikmah dari cerita ini adalah sebagai manusia jangan terlalu rakus dan tak tau balas budi, akibatnya bisa celaka sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here