Kami Kangen Sama Mbah Part 8 : It’s Time Dan Selesai

0
26
yukepo.com

Saat itu aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada mereka. Aku pun tanya pada mbah tentang apa yang terjadi dengan anak aku hingga harus di beri air seperti itu. Mbah pun bilang jika dirinya sudah bilang di awal jangan sembarangan bicara dan menantang makhluk goib akhirnya anak kamu yang jadi korban. Aku pun member penjelasan jika aku bukan menantang tetapi aku hanya penasaran saja. Bapak pun marah dengan nada tinggi karena itu sama hal nya dengan menantang.

Ustadz pun memotong pembicaraan yang ada dan ustadz mengatakan apakah aku disini baru atau sudah lama? Aku pun menjawab jika aku baru disini sekitar beberapa minggu ini. Lalu apakah aku sudah mengadakan syukuran, tanya ustadz. Aku katakana jika aku akan syukuran rencana akhir bulan ini. Ustadz pun mengtakan agar aku mengadakan syukuran secepatnya. Beliau mengatakan kasian anak dan istri aku, bahkan ustadz mengatakan agar suasana menjadi lebih adem jika sudah mengadakan syukuran.

Ustadz pun mengungkapkan adem berarti suasana tenang dan tidak ada yang ke ganggu dan mengganggu. Seketika aku bertanya apakah anak saya tadi di ganggu setan? Tepat nya bukan setan mas tapi jin mas, ucap sang ustadz. Jin ini sangat senang dengan anak mas eka, lau ada beberapa yang tidak suka akan keberadaan kita di sini. Di situlah aku paham dan tahu dan aku bertanya kembali kenapa setiap aku ingin ketemu mereka akan tetapi mereka tidak mau menampakan diri pada aku. ustadz pun menjelaskan padaku jika mereka melikik cara sendiri untuk menampakan dirinya atau member tahu bahwa mereka ada di sekitar kita, entah dengan cara member suara-suara, jahil atau mengganggu seperti kepada anak mas eka tadi.

Aku pun tidak lupa mengucapkan terima kasih pada pak ustadz dan ustadz pun tidak lupa mengingatkan aku untuk memberikan air minum dan memandikan ke anak dengan ibunya. Dengan segera ustadz pun pamit pulang dan aku pun mengantar nya. Bapak mertua aku pun marah dan menasehati aku agar aku lebih berhati-hati ketika berbicara. Dalam hati aku terus saja keras kepala ingin mendapatkan sebuah bukti real dan nyata mereka hadir di depan mata kepala aku. Aku juga berharap mereka hadir di mimpi aku terutama si unyil yang di ceritakan mbah. Aku pun teringat dengan mimpi yang aku alami dan mengajak mbah berbicara di luar.

Tidak lama aku menceritakan pada mbah jika semalam aku mimpi bertemu wanita cantik, tapi tiap aku tanya diam saja dan malah mengajak aku ke daerah kebun bamboo dekat rumah mbah tapi tidak ada gubug tapi hanya ada anak kecil. Mbah pun bilang jika mereka sudah menemui aku akan tetapi aku masih saja ngeyel dan tidak percaya sama makhluk lain yang ada di sekitar kita. Maka dari itu aku pun tidak boleh berbicara sembarangan, ucap mbah padaku. Aku bertanya pada mbah mengenai anak kecil yang sering disebut dengan unyil. Mbah bilang bisa jadi si unyil itu merupakan jin atau makhluk seperti itu karena biasanya mereka bisa menyerupai siapa saja. Mbah pun membalikan pertanyaan aku apakah aku tidak menangkap apa yang di bicarakan ustadz tadi? Menurut mbah mungkin wanita yang kamu temui itu belum menunjukan wujud aslinya begitu juga si unyil. Aku pun bingung bagaimana wujud mereka yang sebenarnya. Mbah bilang nanti juga ada waktunya mereka akan menunjukan dirinya yang paling asli, bahkan aku akan bisa lari kencang atau pingsan di jalan. Mbah pun pesan agar aku sekarang pikirkan anak aku dan tidak usah mengurusi dunia mereka apalagi menantang mereka. Lalu tidak lama mbah mencari mbok karena akan berpamitan pulang. Lalu mbah pun memastikan jam berapa aku dan istri akan berangkat kerja karena mbok akan datang menjaga khasa.

Saya pun menuju kamar untuk memanggil si mbok. Sebelum pulang mbok memberitahu jika besok dia akan ke rumah untuk menjaga shaka dan melarang aku untuk mencari pengasuh. Aku pun menuruti saja apa yang dikatakan mbok. Setelah mereka pulang, aku pun beranjak ke kamar dan melihat keadaan anak aku, alhamdulilah sudah bisa mengeluarkan air mata kembali jika menangis. Intinya semua mandi bergantia, sarapan, jalan-jalan di daerah karawang lalu hari menjelang sore kami mengantar bapak mertua ke terminal untuk kembali pulang dan kembali mengingatkan bahwa sepertinya lusa siang bapak akan menjemput istri beserta anak nya dan meminjam kendaraan aku untuk ke Jakarta berkumpul dengan sanak saudaranya.

Setelah mereka pergi dan menaiki bus kami pun langsung kembali pulang dan sampai di rumah. Setelah adzan magrib sekitar pukul 19.20 aku pun pamit membeli bakso. Saat itu aku jalan kaki karena jaraknya hanya 15 menit. Sesampainya di tempat penjual bakso dan hendak memesan ada telpon dari istriku. Akhirnya aku tidak jadi memesan karena istri aku panic. Dengan setengah berlari aku menuju kembali ke rumah dengan keadaan benar-benar panic. Sesampainya di rumah tampak istri yang sedang menunggu di luar rumah sembari menggendong shaka yang sedang tidur. Saat itu kami menginap di rumah mbah hingga sampai esok paginya. Ceritanya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here