Kami Kangen Sama Mbah Part 17 : Akhir Sebuah Cerita

0
34
yukepo.com

Sebetulnya dan sejujurnya aku gemetar untuk menulis final story ini karena di hati ini, di pikiran ini bahkan tidak jarang sesekali aku mengeluarkan air mata ketika aku harus kembali menginat tentang segala pengorbanan mbah dan mbok terhadap keluarga kami. Pengorbanan setelah kebodohan, ketololan dan kegilaan aku akan rasa penasaran dan kekeras kepala aku terhadap makhluk goib yang dulu aku anggap sepele. Bahkan kesembronoan aku hingga mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas pada mereka dan terpaksa aku harus menerima yang aku pikir ini adlah balas dendam mereka terhadap aku bahkan sampai anak dan keponakan aku terkena imbasn karena kekeras kepala aku.

Seiring waktu berjalan ini sudah 3 bulan, ini merupakan awal bulan februari mbok dan mbah setia merawat dan membantu kami untuk menjaga shaka dari pagi bahkan malam. Dab tidak jarang shaka selalu menangis tanpa mengeluarkan air mata di malam hari bahkan pernah hingga menjelang pagi yang otomatis kami semua harus bergantian untuk baca ayat suci hingga shaka tersadar kembali. Audri pun sudah sembuh setelah dia di obati secara rutin oleh orang pintar di bandung. Namun saat itu shaka belum juga pulih. Aku saat itu mengobati nya sama dengan audri hanya mempan di bandung saja tetapi jika aku kembali ke karawang setelah dua sampai tiga hari, shaka kembali seperti itu lagi dan kami dapat wajangan untuk mengganggu shaka dan akhirnya tanpa disadari shaka kembali normal dan ceria hingga sekarang.

Apakah aku pernah mendapat keluhan dari kedua orang tua yang berumur senja ini? Tidak sama sekali karena mereka sangat setia, sangat menyayangi dan seakan tidak mau terpisah dari malaikat kecil kami. Tidak jarang mereka memarahi kami jika aku dan istri melakukan kesalahan dalam merawat shaka. Apakah mereka meminta bayaran atas tenaga mereka? Mbah dan mbok masih punya tangan dan kaki untuk di pergunakan untuk mencari uang tanpa menjadikan kesulitan kamu sebagai kesempatan untuk mendapatkan uang. Mbok masih bisa jualan nasi uduk jika aku dan istri sedang libur, ucap mereka.

Sungguh luar biasa ketulusan orang tua ini, sejenak aku berfikir dan aku pun memeluk mbok dan tidak segan meneteskan air mata di bahu mbok. Lalu pernah pula aku mengobrol santai dengan mbah. Senang rasanya kami hidup tanpa ada kejadian-kejadian janggal yang selalu menghantui kami beberapa bulan ini. Di beberapa bulan ini kami terkadang terganggu seperti ada suara orang mengetuk pintu dan setelah kami lihat tidak ada orang di balik pintu. Shaka yang selalu menangis tanpa mengeluarkan air mata. Makanan dan minuman yang harusnya manis pun menjadi hambar, suara anak kecil dan orang yang sedang menyapu menggunakan sapu lidi di teras rumah padahalkan depan rumah aku adalah jalan protocol yang sering di lewati kendaraan penghuni komplek lalu untuk apa ada orang menyapu jalan raya.

Sepulang kerja aku langsung masuk kamar karena rasa penat dan capek ini tidak bisa aku tahan maka aku putuskan untuk beristirahat dengan merebahkan badan ini dan akhirnya aku tertidur. Mungkin tidak lama aku baru memejamkan mata, aku di bangunkan oleh istri karena ada mbah dan mbok menunggu aku di ruang tengah. Kemudian tidak membutuhkan waktu lama aku pun bangun dan mencuci muka sekedarnya dan aku langsung menemui mereka di ruang tengah. Keesokan harinya kami pun bersiap-siap dan mengawali perjalanan sekitar 07.45. Dalam perjalanan hanya suara tawa shaka yang sedang bercanda mbok dan mbah begitu pula yuli yang menemani kami sepanjang perjalanan hingga tidak terasa kami sudah sampai di rumah mbak yuli.

Kami pun di persilahkan masuk dan kami disambut oleh suami dan anak dari mbak yuli, kami hanya mengobrol-ngobrol ringan hingga adzan berkumandang yang mengharuskan kami para lelaki untuk melaksanakan solat jumat dan berencana pulang setelah kami solat jumat. Selesai solat kami pun kembali mengobrol ringan lalu pamit pulang dan kembali aku membujuk mbah untuk menginap sehari di rumah anaknya tapi dia bersihkukuh untuk ikut dengan kami dan mbah berkata kepada yuli nanti saja aku suruh jemput. Maka dari itu mbok saja yang menginap di rumah mbak yuli, tampak raut sedih di wajah mbak yuli sebelum kami pamit dan memulai perjalanan pulang kembali ke karawang. Sepanjang perjalanan mbah tampak diam dan saya lihat matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.

Dan tiba-tiba dia berkata bagaimana jika mbah sudah tidak ada, aku pun bilang pada mbah jangan bicara seperti itu. Dan aku pun bilang jangan terlalu di pikirin dan lihat shaka di belakang nengok-nengok mbah seperti pengen di gendong mbah. Mbah pun menoleh ke belakang dan meraih shaka untuk mendudukan nya di pangkuan mbah. Seakan lupa akan kekesalan nya. Senyum dan tawa shaka yang sedang bercanda dengan mbah kembali menghiasi perjalanan pulang kami hingga shaka pun tertidur dan tidak terasa kami pun sampai di rumah. Kami istirahat sebentar dan mendapat kabar bahwa mbah berpesan dan minta tolong untuk menyalakan lampu rumah karena mungkin mbah akan pulang sehabis magrib nanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here