Kami Kangen Sama Mbah Part 16 : Counter Attack

0
80
yukepo.com

Air ini terasa sangat dingin tidak seperti biasanya padahal ini siang bolong tapi airnya dingin sekali dalam pikiran aku saat itu dan membuat badan aku sangat menggigil. Setelah semua selesai aku pun di persilahkan untuk melaksanakan solat dzuhur lalu setelah itu sang ustadz akan memceritakan apa yang terjadi beberapa hari ini. Namun ustadz menyuruh aku solat terlebih dahulu sebelum sang ustadz menjelaskan. Tidak lama aku pun melaksanakan solat dan setelah solat selesai aku keluar kamar lalu menuju ruang tengah yang disana sudah menanti beberapa orang yang semua aku kenal yaitu kedua orang tua aku besrta mertua, istri aku dan anak aku, kemudian mbah hardjo cukup membuat aku kaget diriku karena kehadiran nya selain pak aryo dan pak ardi. Tampak hadir atasan aku di tempat aku bekerja beserta pak ibra.

Tidak lama pak ustadz membuka pembicaraan dan mulai menceritakan dari awal cerita pertama di mulai dari mbah yang menemukan aku sudah tidak sadarkan diri di kamar dengan posisi terlungkup, sontak mbah meminta bantuan kepada tetangga dekat sampai akhirnya tidak lama sekitar pukul 20.00 bapak ini datang sambil menunjuk ke arah pak ibra. Tidak lama menurut cerita mbah jika aku melakukan hal aneh seperti mengelus-elus rambut aku sendiri layaknya seorang wanita lalu tidak jarang aku mengamuk dengan geraman diiringi cakaran yang membuat mbah terluka di bagian pipi dan dada karena cakaran aku itu. Tidak jarang pula aku berkelakuan seperti anak kecil dan meloncat-loncat lalu berdiam diri di pojokan dapur sambil menangis meminta mobilan dan kue biskuit.

Beberapa tetangga yang merasa ketakutan memilih untuk pulang dan hanya tersisa kami berdua beserta satu orang tetangga yang mungkin iba jika kami tinggal berdua. Saat itu mereka menunjuk ke arah aku dan mengatakan takut dan kewalahan menenangkan aku karena amarah yang terpendam di aku. Lalu mbah berinisyatif memanggil ustadz di daerah sini, namun sang ustadz tidak sanggup untuk menyadarkan aku dan merekomendasikan untuk membacakan ayat-ayat suci al quran. Akan tetapi mbah sempat tenang karena dalam pikiran mbah bahwa aku bisa tenang dan tertidur tapi tidak lama aku kembali terbangun dan mengeram keras, kemudian meminta bunga tujuh rupa, darah ayam, kopi serta minta di bakarkan kemenyan. Tapi ustadz dan pak ibra melarang mbah menyediakannya. Lalu pak ibra teringat pak ardi dan pak aryo ini sambil menunjuk ke arah mereka berdua lalu pak ibra menghubungi pak ardi dan entah kebetulan atau bagaimana mereka sudah ada di depan gerbang komplek untuk menuju rumah ini.

Dan ternyata mereka sudah sangat curiga dengan aku ketika bertemu di sawah dekat tempat kerja. Belum lagi pak ibara memberitahu aku jika pak eka membawa bungkusan seperti sesajenan. Awalnya aku saat sampai rumah biasa-biasa saja. Tidak lama aryo ini menelpon aku bahwa kita harus secepatnya ke rumah aku dan pak aryo menyatakan akan kembali ke rumah aku dan waktu sedang di jalan baru sampai depan gerbang komplek ini pak ibra menelpon dan memberi kabar seperti itu. Ternyat betul perasaaan pak aryo tentang hal itu. Saat itu aku hanya bisa terdiam menunduk menyesal akan cerita dari mereka tapi di satu sisi dan entah aku bodoh atau ap aku tetap tidak percaya dan mereka hanya menakut-nakuti aku, kemudian pak ardi kembali bercerita seperti apa yang mbah ceritakan sambil mencoba menenangkan aku dan ternyata berhasil dengan di bantu ustadz yang di panggil oleh mbah dan pak aryo. Cukup lama aku di tenangkan lalu pak ardi melanjutkan ceritanya, dimana tidak lama setelah aku tertidur mereka pun menelpon istri. Melalui handphone aku dan memberi arahan agar cepat pulang sekarang juga tanpa mereka ceritakan keadaan aku.

Akhirnya istri aku setuju hingga dia tiba di rumah sekitar tengah malam bersama mertua berikut anak aku yang tiba-tiba menangis tanpa mengeluarkan air mata. Kemudian kami doakan dan tersadar kembali takut terjadi apa-apa. Maka dari itu kami putuskan menginap disini. Di pagi hari nya mereka beserta pak ibra berpamitan pulang karena akan bekerja dan akan membuatkan absen untuk diriku. Mereka melihat aku masih tertidur dampai sore hari istri aku sudah menelpon memberitahu bahwa aku hingga sore begini belum bangun dari tidurnya. Mendengar itu mereka langsung menuju ke rumah aku karena sangat kawatir. Tidak lama aku meminta maaf dan menyesali semua perbuatan aku kepada semua orang yang ada di ruangan ini dengan tangisan pun seolah menyelimuti ruangan ini. Seluruh orang yang aku lihat tidak kuasa menahan air mata. Dan kami sudahi dengan cara membuang alat perang yang aku sengaja siapkan sewaktu melakukan pembuktian kemarin.

Senja tiba dan satu persatu berpamitan untuk pulang begitu pula dengan ustadz yang harus kembali pulang ke daerahnya. Dan di mulai dari hari ini aku harus di paksa memang benar adanya bahwa hantu, jin dan setan itu ada dan hidup berdampingan dengan kita. Aku pun mencari cara untuk meminta maaf pada mereka agat tidak mengganggu keponakan aku yang katanya sosoknya unyil juga anak aku yang katanya sosoknya wanita. Mbah dan mbok pun berjaga sambil bergantian. Ceritanya bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here