Kami Kangen Sama Mbah Part 14 : Rahasia Alam Sadarkan Aku

0
59
yukepo.com

Hingga tidak terasa sampailah aku di rumah kontrakan yang ternyata di dalam ada mbah yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Aku pun mengucapkan salam saat tiba di rumah. Seketika mbah menanyakan dimana cucu mbah? mbah dengan mbok menunggu-nunggu akan tetapi tidak datang-datang. Wajah mbah dan mbok pun penuh dengan antusias juga harapan. Lalu aku mengingatkan mbah bahwa mereka akan datang bseok pada hari kamis. Mbah pun lupa jika akan ada pengajian dengan mbok nanti. Lalu aku pun bertanya dimana mbah akan mengadakan pengajian? Mbah pun bicara jika dia mungkin akan pulang malam. Dan mbah minta agar pintu jangan di kunci karena mbah akan pulang kesini saja. Lalu aku mengatakan jika aku hari ini menginap di rumah teman, namun mbah pun curiga dengan aku. Lalu mbah pun mengatakan jika memang aku menginap kunci nya disimpan saja di bawah keset.

Mbah pun bilang jika di dapur mbah tanam kendi kecil dan aku tidak boleh menyentuhnya. Aku pun bertanya kendi ini di gunakan untuk apa? akhirnya aku pun menuruti apa yang di katakan mbah. Mbah pun tidak lama pulang dan di tengah perjalanan pulangnya mbah melirik motor aku yang basah. Mbah pun menanyakan kenapa motor aku bisa basah kuyup seperti ini? Aku pun kaget karena aku lupa memindahkan kepiting yang tadi aku ambil di sawah. Aku pun berbohong jika aku habis mencuci motor lalu mbah mennayakan apa isi di dalam situ sambil ingin mengintip bungkusan itu. Lalu bungkusan itu aku ambil secara cepat. Akhirnya mbah pergi dan memperingatkan aku supaya aku tidak macam-macam dan mbah mengultimatum aku jika aku macam-macam. Setelah aku memastikan mbah pergi bukannya aku mandi atau solat tapi yang ada di pikiran aku adalah buat apa kendi yang di letakan oleh si mbah di sudut dapur itu. Sambil aku injak-injak hingga ujung kendi itu agak pecah mungkin sampai bawah karena terasa di kaki ini mendapat getaran seperti sesuatu yang bergerak seketika greek hati ini bergerak.

Namun akan susah berdebat dengan orang tua yang pikiran nya masih kuno dan masih percaya saja dengan hal-hal seperti itu. Aku pun pusing apabila memikirkan nya terus-menerus jadi aku yakin aku akan membuktikan nya. Lalu aku mengambil alat perang yang aku simpan di bawah tempat tidur aku kemudian aku siapkan kembali 1 ember berisi sedikit air dan aku taruh kepiting. Nampan berisi kembang tujuh rupa, cerutu cokelat, tungku kecil dan aku bakar kemenyan, mobilan begitu juga biskuit. Setelah itu aku matikan semua lampu di dalam rumah kecuali lampu teras masih menyala. Setan, jin, kuntilanak, anak hitam gendruwo atau apalah, saat itu aku menantang agar mereka semua muncul. Tidak lama adzan magrib pun berkumandang dan aku tidak beranjak dari tempat aku duduk dengan harapan mereka hadir di hadapan aku. Lalu tiba saatnya dug-dug terdengar suara seperti suara langkah kaki tepat berada di belakang aku.

Aku memalingkan arah pandangan aku untuk memastikan suara itu dan tanpa di sangka tumpukan dus yang berisi buku seakan terangkat dan bunyi bug seperti barang jatuh. Dus itu kembali jatuh dengan sendiri nya belum selesai dengan pemandangan yang hampir membuat aku harus percaya dengan apa yang aku lihat. Mobilan yang aku sediakan berjalan sendiri seperti ada yang mendorong dan mobil itu pun berjalan hingga berhenti menabrak kaki meja yang berada di dapur yang biasa aku pergunakan untuk menyimpan bambu dapur. Namun tidak sampai di situ saja. Kepiting yang aku sediakan pun bergerak dan keluar dengan sendiri nya dan berputar-putar seperti gansing secara cepat dan tidak berhenti. Jujur saja aku makin penasaran waktu itu bercampur antara tidak percaya, takut dan yang paling mengalahkan itu semua adalah rasa penasaran.

Aku terus dan terus memperhatikan kepiting itu dan ujung mata serasa melihat seperti kain putih melewati tepat di samping kanan aku. Ada bau melati yang sangat menyengat dan mengganggu konsentrasi aku dan akhirnya aku melihat ke arah kamar aku. Ayunan yang aku buat untuk shaka tidur berayun perlahan kemudian mengayun semakin cepat. Aku beranjak dan aku hampiri untuk memastikan siapa yang menggerakan ayunan itu. Namun tidak aku lihat seorang pun dan tidak ada sosok yang aku dapati. Namun samar-samar terdengar suara wanita menangis dari arah dapur dan aku masih tetap berdiri di tempat ayunan. Dengan perlahan aku membalikan badan dan aku mendapati sosok tubuh hitam tinggi besar dan mata berwarna merah seakan menatap penuh amarah ke arah aku.

Dengan tangan bergetar aku lemparkan sebuah botol parfum yang terbuat dari plastik dengan harapan-harapan sosok itu pergi menjauh. Botol itu pun menebus tubuh sosok tersebut dan terhenti di ujung tembok dapur. Suara tertawa itu pun semakin jelas dan seperti ada di sebelah telinga aku. Tiba aku terbangun dan hari pun sudah menjelang pagi, aku bangun dari tempat tidur. Semua alat perang sudah tidak ada dan aku melihat istri, shaka dan audri di ruang tengah bersama dengan mbah. Ceritanya akan bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here