Kami Kangen Mbah Part 11 : Waktu Aku Sendiri Bagian 2

0
82
yukepo.com

Tidak lama terdengar suara dug seperti suara langkah kaki yang dibarengi dengan suara benda seperti jatuh ke dalam ember air yang berisi kepiting sawah itu. Srek-srek suara terdengar oleh telinga aku. Entah aku salah lihat atau tidak namun mobil-mobilan odi yang aku simpan itu bergerak-gerak perlahan demi perlahan seperti ada yang menggulingkan lalu membalik dengan sendirinya. Saat itu aku berfikir itu hanya lah halusinasi saja. Aku ambil benda kecil yang ada di kamar aku kemudian aku lempar kea rah mobil-mobilan itu namun sayang nya tidak kena. Setelah itu mobil-mobilan itu pun terdiam dan saat cukup lama menunggu agak lama dan aku mulai hanya fokus pada cahaya lilin yang menerangi seisi dapur rumah. Tidak lama terdengar suara dug-dug yang sangat keras suara nya dari arah dapur rumah.

Aku langsung beringsut dari tempat aku duduk dan melihat benda atau barang apa yang jatuh. Aku terdiam dan tertegun dengan suatu hal yang tidak masuk di akal dan aku mendengar ada suara seperti barang terjatuh tapi tidak ada apapun yang jatuh saat itu. Aku pun masih berfikir mungkin ada barang tetangga yang jatuh di belakang rumah. Aku pun kembali ke dalam kamar tempat aku duduk tadi dan baru satu langkah, tepat di kaki aku mobil-mobilan itu menabrak-nabrak kaki aku dengan sendirinya. Sedikit aku tending dan mengatakan jika mau nampakin diri tampakin diri saja karena aku tidak takut. Bersamaan dengan itu entah kenapa aku terpaku dengan ember yang aku isi kepiting tadi. Aku pun heran kepiting itu semua tidak ada di dalam ember. Aku pun mencari ke semua ruangan dapur dan menyalakan lampu kembali namun tidak ada tanda-tanda aku menemukan semua kepiting-kepiting itu. Aku kembali mematikan lampu dan aku kembalikan badan ke arah kamar. Tidak lama aku melihat ayunan-ayunan itu bergerak perlahan makin lama bergerak cepat seperti ada orang yang mengayun namun belum sempat aku ingin mengumpat di ujung tempat tidur aku, aku melihat dua cahaya merah berbentuk seperti mata yang terus menatap aku tajam ke arah aku.

Saat itu aku ingin berbicara namun suara aku sulit sekali keluar. Dan saat itu pun langkah kaki ii sulit di langkahkan. Entah aku panic atau bagaimana dengan seluruh tenaga aku, aku paksakan kaki ini untuk bergerak dan terus aku gerakan dengan harapan aku bisa menghampiri cahaya merah itu. Tapi siapa sangka pandangan mata ini seakan memudar dan semua terasa gelap. Tidak lama aku mendengar suara yang samar-samar memanggil-manggil nama aku bahkan suaranya tidak asing di telinga aku. Ketika aku membuka mata dan pandangan aku semakin jelas dan aku melihat seseorang yang ternyata itu adalah pak ardi dan pak aryo. Pak ardi pun menegur aku dan bersyukur aku sudah sadar. Pak aryo pun menyuruh pak ardi agar member aku minum air putih. Pak aryo pun menyuruh pak ardi agar hati-hati membangunkan aku dan beliau mengatakan insya Allah sudah pada pergi semua dan tidak usah kawatir. Pak ardi mengucapkan terima kasih pada pak aryo. Saat itu pak ardi berusaha membangunkan aku dari pembaringan secara perlahan. Aku pun bertanya kenapa pak ardi dan pak aryo bisa berada di rumah aku? Lalu pak ardi mengatakan agar tidak usah di pikirkan terlebih dahulu dan mereka pun langsung memberi aku air minum dan memberikan gelas itu pada aku. Aku pun kembali bertanya kenapa mereka bisa masuk ke dalam rumah aku karena rumah saat itu aku kunci. Pak ardi pun bilang jika nanti akan di ceritaka dan menyuruh aku untuk mengganti pakaian aku dahulu.

Aku pun bingung kenapa saat itu pakaian aku menjadi kotor semua. Aku berfikir apa yang habis aku lakukan saat tadi hingga baju aku bisa kotor seperti ini. Dan aku juga heran kenapa mereka berdua bisa masuk ke dalam rumah aku. Saat itu berharap mbah juga jangan sampai ada di ruangan ini karena jika ada urusan ini akan menjadi lebih rumit. Disini pak ardi dan pak aryo mempunyai kelebihan masing-masing dan keduanya masih memiliki hubungan saudara. Meskipun begitu aku belum pernah melihat dengan mata kepala aku sendiri. Ketika aku sedang berganti baju dalam benak aku terpikir kenapa baju aku bisa kotor sekali. Lalu bagaimana pak ardi dan pak aryo bisa berada disini. Pak ardi menanyakan apa yang aku lakukan sambil menunjuk ke arah sesajen yang aku sediakan di dapur. Tidak lama pak ari berlari sambil membawa sesuatu yang di berikan oleh anak kecil yang menurutnya bukan penghuni rumah ini.

Pak ardi pun bilang jika jangan suka mengusik atau bahkan menyediakan mainan kesukaan bahkan makanan mereka. Pak ardi pun bilang jika kita membawa sesajen hanya untuk mengobati penasaran aku saja. Dan pak ardi bilang bisa menimbulkan korban seharusnya aku lebih memikirkan lagi. Menurut pak ardi beliau datang karena mempunyai firasat aneh tentang bapak. Tidak lama mereka berpamitan pulang, lalu aku antar mereka ke depan dan mereka pun lalu pergi dan aku kembali ke rumah. Cerita nya bersambung ke part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here