Kakakku Sedih dengan Pernikahanku

0
39

Pernah mendengar istilah ‘melangkahi’ kakak perempuan itu amat sangat pamali dan bisa menyebabkan seret jodoh buat yang dilangkahi? Hmmm, aku pernah dan sedang berada di posisi itu.

Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakak perempuanku, panggil saja namanya Eka dan namaku Dwi.

Aku sedang dilema sekarang, pacarku mengajakku untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, tapi kakakku belum punya calon.

Menurutmu aku harus gimana?

Saat itu, selesai makan malam, karena bingung, aku mengatakan pada kedua orangtuaku mengenai masalah itu. mereka terserah padaku, tapi Kak Eka tidak memberi tanggapan apa-apa. Dia diam saja dan berdiri meninggalkan ruang makan.

Perasaanku tidak enak. Apakah aku harus menunggu dia menikah dulu? Tapi berapa lama lagi? Aku sudah berpacaran 4 tahun, kata orangtuaku berpacaran lama-lama itu tidak baik.

mendengar niatku untuk menikah dulu, orangtuaku mengabari beberapa saudara-saudaranya yang lebih tua. Reaksi mereka menentang habis-habisan tentang keputusanku yang akan mendahului kak Eka.

Dan sore itu, di ruang keluarga, aku, kak Eka, mama dan papa berkumpul menunggu kedatangan pakdhe dan budhe yang berencana datang menanyakan keseriusanku akan melangkahi kakakku. Maklumlah, mereka sangat mempercayai hukum-hukum tak tertulis orang jawa.

“Apa kamu nggak ngerti Dwi, kalau itu sangat pamali,” itu adalah ucapan yang keluar dari mulut Budhe saat dia duduk di sebelahku.

Aku diam saja, aku merasa terhakimi  hanya gara-gara akan melangkahi kak Eka.

Lalu pakdheku menambahkan “Kalau kakakmu seret jodoh bagaimana Dwi? Apa kamu tidak peduli dengan kakakmu?”

Kulirik kak Eka yang diam saja, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Mungkin dia merasa senang dibela banyak orang.

Aku menghela nafas dan menjawab dengan suara tenang, aku tidak mau, hanya karena akan menikah dan melangkahi kakakku, hubunganku dengan pakdhe dan budhe jadi hancur.

“Dwi tahu Budhe, Pakdhe. Tapi, berapa lama lagi Dwi harus menunggu? Dwi sudah berpacaran 4 tahun. Apa salah kalau Dwi dan pacar Dwi berniat melangkah ke jenjang yang lebih serius?” jelasku pelan.

“Kalau Kak Eka, bisa memastikan kapan dia akan menikah, Dwi mau menunggu, tapi kak Eka tidak memberikan jawaban pasti kapan akan menikah. Dwi harus bagaimana?”

Semua orang yang ada di ruangan diam. Mungkin mereka juga bingung harus melakukan apa.

“Lagian ayah dan ibu sudah setuju dan merestui pernikahanku,” tambahku lagi.

Setelah pertemuan itu, akhirnya mau tidak mau, pakdhe dan budhe menerima keputusanku.

“Tapi Dwi, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan jika melangkahi kakakmu,” kata budhe sebelum pergi.

Kak Eka juga sudah menerima keputusanku. Saat kak Eka mengatakan “Tidak apa-apa” aku memeluknya mengucapkan terima kasih.

Kukira masalah kak Eka yang sudah bilang dia ‘tidak apa-apa jika dilangkahi’ sudah selesai. Tapi ternyata, masalahku tidak berhenti di situ.

Momen menyiapkan pernikahan yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan jadi momen yang penuh rasa awkward. Fitting baju pengantin, berbelanja hantaran, memesan gedung dan lain sebagainya memang harusnya menjadi hal yang melelahkan tapi akan sangat menyenangkan, jika aku tidak kepikiran perasaan kakakku.

Persiapan pernikahanku tidak semudah persiapan kebanyakan calon pengantin lainnya.

Hari-hariku menuju hari H, pikiran ‘melangkahi’ kak Eka terus membayangi. Aku merasa perlu menjaga perasaan kakak dengan tidak terlalu menunjukkan perasaan terlalu excited.

Kakakku merasa tidak ikut berbahagia dengan pernikahanku.

Hal itu ia tunjukkan saat acara lamaran. Saat keluarga pacarku datang untuk melakukan prosesi lamaran. Dia tidak ikut hadir menyambut kedatangan keluarga pacarku, dia mengurung diri di kamar. Dan saat keluargaku akan membalas lamaran dari keluarga pihak laki-laki, dia memilih untuk tidak ikut.

Aku jadi berpikir kalau pernikahanku dengan pacarku sangat berat untuk diterima kak Eka.

Melihat keadaan kak Eka, aku jadi merasa bersalah. Aku tahu ini sangat berat bagi seorang kakak untuk melihat adiknya menikah dulu. Sebenarnya tidak hanya kakakku yang merasa berat, aku yang menjalaninya juga merasa bahwa pernikahanku ini beban.

Saat pagi-pagi, saat ibu sedang masak aku menghampirinya, aku berniat membantunya tapi sekalian aku mau mengungkapkan semua yang mengganjal di pikiranku.

“Bu, kalau pernikahan ini dibatalkan saja. Dwi tidak sanggup,” kataku sambil menangis.

Ibuku terkejut.

“Kenapa Dek. Adek ada masalah apa?” kata ibu

aku menjelaskan semua masalahku, dari pernikahan yang awalnya ditentang oleh keluarga besarku sampai sikap tidak peduli kakakku dengan pernikahanku.

Ibu dengan bijak menjawab “Nggak apa-apa dek. Mereka hanya belum mengerti aja kok. Udah nggak usah ngawur.”

“Yaudah bu, kalau gitu, acara nikahannya cukup ijab qabul aja. Karena aku mau menjaga perasaan kak Eka,” kataku akhirnya.

“Ya nggak bisa dek. Kalian berdua harus punya proses pernikahan yang sama,” kata ibuku lagi.

Aku tidak bisa membantah ibu. kamu yang pernah menjalani pernikahan melangkahi kakak pasti tahu bagaimana beratnya perasaanku.

Dan setelah itu, hari-hariku disibukkan dengan persiapan pernikahan.  Mungkin kamu berpikir kalau aku akan meminta bantuan pada kak Eka, kamu salah, aku menyiapkan semuanya hanya berdua dengan ibu. aku dan keluarga tidak berani membicarakan masalah pernikahan di depan kak Eka demi menjaga perasaannya.

Jujur aja, rasanya berat banget, rasanya aku tidak punya tempat untuk mengadu.

dimulai dari pesan catering, aku harus mencarinya sendiri. aku mencari semua informasi tentang catering dengan bertanya pada beberapa orang yang aku kenal, lalu aku dan ibu akan mendatangi tempat itu berdua saja.

Sewa tenda dan pesan  baju pengantin sampai membungkus 500 souvenir aku mengerjakannya hanya berdua dengan ibu.

Kak Eka diam saja, dia enggan membantuu menyiapkan pernikahanku karena merasa dilangkahi dan dia merasa tidak punya kewajiban untuk membantuku.

Aku tidak mungkin menyuruh pacarku untuk selalu menemaniku menyiapkan semuanya, karena dia bekerja di luar kota jadi sangat tidak mungkin untuknya bolak-balik menyiapkan pernikahan.

Hari-hari menuju hari H, aku sering menangis dan merasa lelah. Aku ngerti kok kalau kakak sedih, tapi aku juga merasa sendirian, apa dia pikir aku tidak sedih dengan keadaan seperti ini? Aku adiknya kan, apa dia tidak bisa ikut berbahagia untukku sedikit saja? Kenapa dia tidak mau sekedar membantuku sedikit?

Dua minggu sebelum hari H, undangan baru selesai dicetak. Aku harus mendistribusikan semua undangan itu sendiri, dan karena tidak cukup waktu dan tenaga, hanya separuh saja yang sampai ke alamat para tamu.

H-3 aku masih sibuk di dapur membuat kue dan memasak.

Rasanya aku ingin meledak, aku tidak bisa melakukan apa yang kebanyakan calon pengantin lakukan pada umumnya. Tapi, aku menguatkan hati, semua ini akan berlalu.

Padahal aku punya waktu 6 bulan untuk melakukan persiapan pernikahan, tapi tetap saja persiapan tidak maksimal karena kami harus meminimalisir kebahagiaan.

Kami menyewa tenda dan dekorasi paling sederhana, baju pengantin paling sederhana, dan bahkan separuh undangan yang tidak tersebar. Tidak ada acara luluran, maskeran, atau perawatan sebelum menikah. hari-hariku penuh rasa was-was.

Tapi walaupun terseok-seok, aku tetap bersyukur. Karena saat hari H aku masih diberi kekuatan padahal badan sudah sangat capek. Acara pernikahanku juga berjalan lancer, meski aku bergerak sendiri. yang membuatku senang, banyak kerabat yang datang walaupun tidak menerima undangan secara langsung.

Dan aku juga tidak lupa memberikan hadiah untuk kakakku sebagai syarat agar tidak seret jodoh seperti yang disarankan oleh orang-orang.

Setelah acara pernikahanku, sedikit demi sedikit hubunganku dan dia membaik.

Tapi jujur saja, walau sudah lewat 3 tahun setelah acara pernikahan itu, aku kadang merasa sedih saat mengingat perjuanganku menyiapkan pernikahan waktu itu. Harusnya hari itu aku menjadi orang paling berbahagia tapi aku malah harus memendam dalam-dalam rasa bahagiaku agar aku bisa menjaga perasaan kakakku.

Dan setelah 3 tahun berlalu, kakakku sudah menikah. aku telah membuktikan kalau kepercayaan seret jodoh karena dilangkahi adik menikah duluan itu tidak benar, bukan karena aku memberikan kakakku hadiah, tapi karena memang jodoh dan rizki sudah diatur oleh Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here