Jika Kau Punya Organ Tubuh yang Mau Kau Jual, Aku Bisa Membantumu

0
57

Namaku Abu Jaafar. Aku berasal dari Lebanon. Pekerjaanku adalah mencari orang yang mau menukar bagian tubuh mereka dengan uang. Yap, betul. Pekerjaanku menjual organ-organ tubuh manusia. Sebelum menjalani bisnis perdagangan organ tubuh, aku bekerja sebagai penjaga keamanan sebuah pub.

Lalu bagaimana awal mulanya?

Saat aku bekerja di pub dulu, aku bertemu dengan sebuah kelompok yang melakukan perdagangan organ tubuh manusia. Mereka bilang padaku bahwa pekerjaan mereka hanya perlu mencari orang-orang dengan kadar putus asa yang sudah tidak tertolong, lalu rela menukar organ-organ tubuh mereka dengan uang. Kata mereka bisnis ini sangat menguntungkan. Mendengar penjelasan mereka tentang berapa banyak uang yang bisa aku dapatkan, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan lamaku dan banting setir menjadi pengusaha organ tubuh manusia.

Hasil penjualan organ tubuh manusia cukup banyak. Karena aku tahu, ada banyak manusia yang membutuhkan donor organ tubuh. Dan aku bangga melakukannya. Aku bangga mencari nafkah dengan cara seperti ini.

Resmi keluar dari pub, aku mulai memikirkan bagaimana cara aku mendapatkan organ tubuh, ginjal siapa yang akan aku jual? Tidak mungkin ginjalku, ‘kan? Aku ‘kan sedang membangun bisnis jual beli organ tubuh manusia, masak aku malah memperpendek umurku sendiri?

Dan ilham itu muncul dengan tiba-tiba. Para pengungsi Suriah dalam jumlah sangat besar datang ke Lebanon. Aku melihat banyak kesempatan disini.

Ya, aku tahu aku melakukan tindakan illegal dengan mengeksploitasi orang lain. Tapi yang perlu kau tahu adalah orang-orang Suriah sangat mudah menemui ajal di kampung halaman mereka dan bagi mereka memberikan organ tubuh tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan horror yang sudah mereka alami selama ini. Kau pikir pasti aku orang yang jahat, tapi percayalah meskipun aku mengeksploitasi orang-orang itu, mereka juga mendapat manfaatnya.

Aku biasa mangkal di sebuah kedai kopi kecil di salah satu daerah pinggiran sebelah tenggara kota Beirut yang ramai, di sebuah bangunan berantakan yang ditutupi oleh terpal plastik. Di tempat ini, ada sebuah ruangan teralis berkarat yang dijejali perabotan tua dan burung-burung nuri yang berkicau dari dalam sangkar di setiap sudutnya. Ruangan teralis itu terletak di bagian belakang.

Di ruang itu juga aku melancarkan aksi penjualan organ-organ tubuh. Dalam tiga tahun terakhir aku berhasil mendapatkan 30 orang pengungsi putus asa yang lebih memilih menukar organ tubuh mereka daripada mempertahankannya.

Ginjal adalah yang paling sering dicari, tapi aku tidak hanya menjual ginjal aku juga menjual organ-organ lainnya. Tergantung apa yang sedang dibutuhkan oleh pemesan.
Aku pernah mendapatkan klien yang memesan mata, dan tentu saja aku menemukan orang yang mau menjual matanya. Aku memotret mata si penjual kepada orang yang mencari donor mata melalui whatsapp.

Orang-orang yang putus asa itu lebih memilih memiliki uang daripada bisa melihat dunia.
Jalan sempit tempatku beroperasi dipenuhi oleh orang-orang Suriah. Saat ini, sekitar satu dari empat orang Lebanon adalah warga Suriah yang pergi meninggalkan wilayah mereka yang dilanda konflik.

Berdasarkan hukum Lebanon, sebagian besar orang-orang Suriah tidak diizinkan untuk bekerja dan ada banyak keluarga yang kesulitan memperoleh pekerjaan.
Dimata kalian pasti orang-orang Suriah itu sudah berada dalam keadaan paling menyedihkan. Tapi dugaanmu salah karena selain pengungsi dari Suriah, ada yang lebih mengenaskan, mereka adalah orang-orang dari Palestina, yang sudah dianggap sebagai pengungsi di Suriah, dan karenanya tidak berhak untuk didaftarkan kembali oleh badan pengungsi PBB ketika mereka tiba di Lebanon. Orang-orang Palestina tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak dan hanya mendapat secuil bantuan.

Hal menyedihkan lainnya adalah ketika pemerintah Lebanon meminta PBB untuk menghentikan penerimaan pengungsi baru. Mereka yang tidak terdaftar sebagai pengungsi yang dilanda kesulitan hidup. Apa yang bisa mereka lakukan? Mereka putus asa dan mereka tidak memiliki cara lain untuk bertahan kecuali menjual organ tubuh mereka.

Lalu siapa yang membedah para orang putus asa itu? Tentu saja ada dokter, kadang ada dokter-dokter yang bisa melakukan operasi bedah di rumah-rumah kontrakan, yang diubah menjadi klinik sementara, di sini para donor akan menjalani tes darah dasar sebelum dilakukan operasi.

Di jalanan kau akan menjumpai banyak anak-anak yang mengemis, juga bisa kau jumpai para bocah laki-laki penyemir sepatu, dan mungkin anak-anak yang berkeliaaran di tengah kemactan untuk menjual permen karet atau tisu melalui jendela-jendela mobil, atau yang paing parah anak-anak itu akan dimanfaatkn oleh para pekerja anak. Sedangkan yang lainnya beralih ke prostitusi.

Tapi, tentu saja cara tercepat mendapatkan uang adalah dengan menjual organ tubuh.
Mereka yang ingin membeli organ tubuh akan menemuiku dan akan aku carikan orang yang bersedia menjual organ tubuh mereka. Begitu aku sudah mendapatkan calon yang bersedia untuk diambil organnya, aku akan membawanya dengan mata tertutup menuju lokasi yang tersembunyi pada hari yang sudah disepakati.

Begitu operasi itu selesai aku akan membawa mereka kembali pulang. Selama seminggu aku akan mengawasi mereka sampai mereka melepas jahitan. Setelah jahitannya dilepas, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka seterusnya. Aku juga tidak peduli jika mereka meninggal, yang penting aku mendapatkan apa yang aku mau. Yang terjadi pada mereka selanjutnya bukan urusanku, selama mereka sudah dibayar.

Klien terakhirku baru-baru ini adalah seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun, yang pergi dari Suriah setelah ayah dan saudara laki-lakinya terbunuh di sana. Sudah tiga tahun tinggal di Lebanon, tapi dia tidak punya pekerjaan dan hutangnya bertumpuk ditambah dia harus menghidupi ibu serta lima saudara perempuannya. Remaja laki-laki itu setuju menukar ginjalnya yang ebelah kanan dengan uang $8.000. Dua hari kemudian, bocah remaja itu jelas mengalami kesakitan walau sudah meminum tablet. Dia berusaha mengubah posisi antara berbaring dan duduk di sofa yang sudah buluk, berusaha supaya nyaman.

Aku tidak akan mengatakan berapa yang aku dapatkan dari transaksi itu. Aku juga tidak tahu menahu soal apa yang terjadi pada organ-organ itu setelah dibedah, tapi mungkin diekspor. Ada berapa orang yang berprofesi sama sepertiku? Jumlah orang yang berprofesi sama denganku adalah delapan orang jika aku ikut ditambahkan, aku dan mereka adalah makelar organ tubuh manusia.

Usaha jual beli organ tubuh saat ini benar-benar sedang booming. Bisnis ini benar-benar berkembang pesat dan belum pernah mengalami penurunan, apalagi didukung adanya migrasi orang-orang Suriah yang mengungsi di Lebanon.

Aku tahu apa yang aku lakukan ini melanggar hukum tapi aku tidak takut pada pihak berwenang. Aku juga berani memajang nomor teleponku yang kutulis dengan cat semprot di dinding dekat rumahku. Tapi bukankah profesiku membantu mereka yang putus asa dan butuh uang? Setelah mendapat uang dari hasil menjual organ mereka, mereka mendapatkan uang dan menggunakannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi mereka dan keluarganya. Bahkan ada klienku yang jadi mampu membeli mobil dan bekerja sebagai sopir taksi atau bepergian ke negara lain.

Perlu kau tahu, aku adalah orang yang dihormati sekaligus ditakuti. Saat aku lewat di depan mereka, orang-orang itu akan berhenti bercanda dan mereka menolak berdebat denganku.

Menurutku, undang-undang yang pemerintah terbitkan adalah penyebab banyak pengungsi kesulitan mendapatkan akses untuk mendapatkan pekerjaan dan bantuan, itulah sebab mereka memilih menjual asset paling berharga yang mereka miliki daripada harus berusaha mencari pekerjaan layak.

Dan untuk informasi tambahan aku tidak pernah memaksa siapapun untuk melakukan operasi pengangkatan organ tubuh ini. Aku hanya membantu dan memfasilitasi berdasarkan permintaan orang lain. Kan sudah kubilang kalau aku makelar.

Kau berminat? Berapa harga matamu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here