Jeritan Malam Part 9 : Ketika Akal Sehat Aku Terinjak Petuah Orang Pintar

0
94
malesbanget.com

Tidak lama berselang hadir dikin di temani dengan seorang bapak separuh baya dengan tanpa banyak berbasa basi bapak tersebut menghampiri indra yang masih terbaring di lantai. Terlihat bapak tersebut merapalkan sesuatu, entah apa yang sedang di rapalkannya, tangannya sesekali memegang dada indra dan menggeserkannya ke arah kepala seperti sedang membuang sesuatu.

Bapak itu meminta air putih kepada mas dikin, segera mas dikin berlari keluar kamar dan kembali lagi dengan segelas air putih. Kini air putih yang di pegang bapak-bapak itu bagaikan medium doa-doa yang terucap lalu di minumkan kepada indra, terlihat perlahan kesadaran indra berangsur pulih. Bapak itu sambil meminta mas dikin membantunya menuntun indra ke ruang tamu dan menidurkannya di kursi panjang ruang tamu. Keadaan indra baik, sekarang dia sudah sadar dan akan berangsur normal. Terlihat indra sudah bisa tersenyum walaupun masih menyisakan wajah kelelahan. Bapak haji mencoba mencari tau latar belakang semua kejadian ini, akhirnya aku coba menjelaskan tentang rasa iseng aku mengerjai indra yang berbuah malapetaka, mendengar penjelasan aku, haji mustofa mencoba menjelaskan kepada kami tentang sesuatu yang tidak kasat mata menguasai indra.

Sepertinya haji mustofa bisa menangkap apa yang aku rasakan, logika aku tidak bisa menerima semua penjelasan haji mustofa secara mentah-mentah. Haji mustofa menanyakan sesuatu pada indra apakah dia mempunyai argument lain? aku bisa merasakan dari nada bicara haji mustofa bahwa dia adalah seseorang yang bisa menerima suatu perbedaan bukan seorang yang merasa pintar sendiri karena keahliannya.

Di saat perasaan indra berada dalam puncak rasa kesal, alam bawah sadarnya mengambil fungsi otak normal indra, seperti yang kita tau, alam bawah sadar manusia itu mempunyai kekuatan yang sangat besar. Seorang yang tadi nya lemah bisa menjadi kuat, baik bisa menjadi jahat, berhubung indra sebelumnya menyimpan dendam sama dengan aku. Akhirnya indra bisa bertindak seperti itu. Indra pun mulai sadar dan sudah mulai normal. Aku menjelaskan kepada indra jika diri nya mencengkram dan mencekik aku bahkan bernafsu membenturkan kepala aku ke lantai. Saat mendengar cerita aku indra tampak tidak percaya bahwa dirinya telah melakukan itu semua, terlihat senyum dari wajah haji mustofa mendengar penjelasan aku.

Menurut haji mustofa Tuhan menciptakan jin dan manusia, di saat manusia sedang rapuh, berfikiran kosong, di situlah setan mempunyai celah masuk ke dalam tubuh manusia, mengambil alih pikiran bawah sadar manusia dengan segala tipu daya. Namun jika aku terluka itu 100 persen bukan pekerjaan setan, dia hanya membisikan kejahatan kebetulan tadi indra menyimpan kebencian sama kamu, rasa benci yang indra rasakan di bawah alam sadar di tambah dengan bujukan setan untuk mewujudkan itu. Aku pun bisa menerima semua argument haji mustofa, bapak tua ini telah membuat aku terkagum atas pemikiran intelektualnya. Tadinya aku berfikir dia akan mementahkan argument aku dan membalas dengan argument yang 100 persen klenik.

Tidak lama haji mustofa berpamitan untuk pulang. Dan dia bilang aku harus mempercayai hal-hal goib karena memang kita hidup berdampingan dengan mereka. Aku berharap mas dikin akan menjawab memang dialah orangnya, seseorang yang cerdas dengan keahlian khusus, entah orang pintar seperti apa yang di maksud mas dikin. Mungkin seseorang yang berwajah seram dengan burung gagak di bahunya dan tongkat dengan kepala tengkorak di tangannya sambil aku menerka-nerka. Hingga akhirnya waktu magrib pun datang, kami duduk di teras depan menunggu kedatangan orang pintar itu, terlihat mas dikin membawa sekantong plastic hitam ke dalam rumah. Terlihat mas dikin tersenyum tapi tidak menjawab, setelah menunggu lama, orang pintar yang di maksud akhirnya datang seorang yang masih terlihat muda, mungkin lebih tepatnya paruh baya dengan pakain tradisional jawa, celana hitam lengkap dengan kain yang membalut kepalanya, di lengannya tampak gelang hitam yang terlihat besar.

Kami menyebutnya gelang akar bahar, sangat berbeda sekali dengan sosok yang aku jumpai siang tadi. Aku saat itu di suruh memejamkan mata, aku bisa merasakan ketika telapak tangan orang pintar itu menjamah bagian depan kepala aku. Hingga akhirnya semua terasa sunyi, sangat sunyi. Aku merasa heran dan akhirnya memutuskan membuka mata, kini aku mendapati kenyataan bahwa aku berada di ruangan ini seorang diri.

Rasa tidak percaya menghantui pikiran aku, bagaimana bisa mereka pergi tanpa aku tidak ketahui. Segera aku beranjak dan mencari mereka dan memutuskan menuju kamar indra, entah mengapa kai aku terasa ingin melangkah kesana hingga akhirnya ketika aku merasa bingung dan akhirnya memutuskan membuka mata. Kini aku mendapati kenyataan bahwa aku berada di ruangan ini seorang diri.

Rasa tidak percaya segera menghantui pikiran aku, dimana mereka pergi dan aku tidak tahu, segera aku beranjak dan mencari mereka dan memutuskan menuju kamar indra, entah mengapa kaki aku terasa ingin melangkah kesana hingga akhirnya ketika aku membuka pintu kamar aku, aku mendapati sosok wanita tanpa kepala yang duduk di atas lemari kamar indra dengan gaun putih yang terlihat using terjuntai panjang menutupi kakinya hingga menyentuh lantai dan dia tertawa. kisah nya berlanjut di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here