Jeritan Malam Part 8 : Ketika Akal Sehat Aku Terinjak Petuah Orang Pintar

0
29
malesbanget.com

Saat itu aku terdiam dan indra menegor aku karena merasa tidak nyaman dengan kesunyian akibat aku terlalu banyak terdiam dalam pembaringan. Aku sangat ingin bercerita pada indra kakek tua yang aku temui di kereta, tentang keris yang aku dapatkan secara tidak sengaja dari dalam tas, tetapi sekali lagi semua itu tidak akan aku ceritakan. Aku yakin apa yang akan aku ceritakan hanya akan menambah rasa takut indra menghadapi semua kejadian ini. Saat itu sambil tertawa indra menyuruhku berbicara sambil menggoyangkan badan aku. Entah ide iseng yang datang darimana, tiba-tiba saja timbul keinginan untuk mengerjain indra sambil tetap tatapan mata aku menatap langit-langit kamar. Aku coba untuk sama sekali tidak menjawab semua perkataan indra hingga akhirnya aku menoleh kea rah indra sambil membelalakan mata dan menggeram layaknya seekor harimau yang sedang marah.

Hampir aku tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi indra yang tampak terkejut ketakutan dan terjatuh dari bangku yang dia duduki. Dengan panik nya indra minta ampun lalu bergegas berdiri dan berlari keluar kamar sambil membanting pintu kamar aku. Mendapati indra yang sudah berlari ketakutan keluar kamar, gelak tawa segera pecah, lucu rasanya melihat indra berlari dengan paniknya meninggalkan aku sendiri. Aku pun bilang pada indra untuk masuk lagi dan mengatakan aku hanya bercanda. Teriak aku kembali memcoba memanggil indra, tampak tidak terdengar jawaban dari indra di luar sana. Mungkin dia marah karena dirinya di kerjai. Akhirnya tawa aku berhenti seiring indra tidak kunjung menjawab. Hampir sepuluh menit aku masih terbaring di ranjang dan indra tidak kunjung juga kembali ke kamar, akhirnya aku putuskan mengambil sebatang rokok dan membakarnya, hembusan angin yang bertiup dari jendela mengundang aku untuk menghampirinya, tampak di luar sana belum terlihat minto dan dikin.

Rupanya solat jumat belum selesai, dimana tatapan mata aku menatap pohon besar yang terletak di luar pagar, pohon itu terlihat tua dan gagah berdiri dengan rimbunan dedaunan, tampak terlihat biasa dan tidak menyeramkan di kala siang hari, mungkin umur pohon itu sama tuaya dengan bangunan mess ini atau mungkin lebih tua. Akan tetapi andai kata pohon itu dapat berbicara mungkin dia akan berbicara dan menceritakan tentang kisah yang pernah terjadi di rumah ini. Lama aku terpaku hingga akhirnya rasa hangat di jemari aku memberikan tanda bahwa batangan rokok itu sudah habis terisap.

Aku melangkahkan kaki keluar kamar di saat ini kembali aku merasakan sebuah nuansa perbedaan tingkat kenyaman antara aku berada di dalam kamar dengan aku berada di luar kamar, beda sekali hawa yang aku rasakan. Di dalam kamar aku, aku merasakan rasa hangat walaupun itu di saat malam hari, tetapi ketika berada di luar kamar aku bisa merasakan hawa dingin dan lembab. Aku pun memanggil indra dan mencoba menoleh kea rah dapur, tampak dari pintu kaca itu aku tidak melihat keberadaan indra. Karena tidak ada maka aku melangkahkan kaki menuju ruang tamu dan mencoba menyingkap tirai jendela, sekali lagi aku tidak melihat indra di luar sana. Aku hanya melihat beberapa orang yang berjalan entah menuju kemana, tapi aku bisa memastikan orang-orang itu berasal dari masjid yang berada tidak jauh dari mess.

Solat jumat sudah selesai dan aku mencoba mencari indra lagi. Kemudian aku putuskan membuka kamar indra, saat aku buka kamar nya tercium wangi khas dari bunga-bunga yang biasa di sajikan dalam sesajen. Kemudian pintu terbuka, tampak di dalam kamar sana indra yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur, tatapan matanya terlihat kosong tanpa sekalipun berpaling melihat aku. Tatapan mata nya masih tetap menatap dinding dengan dinginnya, terlihat sebuah gelas kopi di tangan kanannya. Beberapa helai bungan tampak dalam genggaman tangan kirinya.

Saat ini tatapan mataku terpaku pada ceceran bunga yang terlihat berantakan di antara kaki indra, begitu juga dengan sesajen yang berada di sudut kamar, tampak berantakan, rupanya gelas kopi yang berada dalam genggaman tangan indra adalah gelas kopi yang seharusnya menjadi bagian dari sesajen. Indra pun tersenyum kecil dan itu membuat aku takut.

Saat itu aku mencoba menyadarkan indra namun bukan keadaran malah cekikan yang aku dapat, semakin lama semakin lemas tenaga aku, perlahan aku tatapan aku mulai meredup dan terasa semakin gelap. Tidak lama mas dikin dan minto menolong aku dari cengkraman indra dan berhasil melepaskannya dari leher aku. Seketika mereka meredakan amukan indra. Indra pun tangannya di ikat oleh mas dikin. Saat berhasil mengikatnya wajah minto dan dikin begitu kelelahan bercampur rasa lega.

Minto sambil membangunkan aku dari lantai dan menundukkan aku di pinggir ranjang terlihat indra yang terbaring di lantai dengan posisi tengkurap, tampak dia juga sudah lelah tapi belum sadar. Tidak lama mas dikin mengatakan ke minto bahwa dia akan memanggil pak haji yang bisa menangani hal ini. Segera mas dikin berlari dan cerita nya masih berlanjut di part berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here