Jeritan Malam Part 7 : Ketika Akal Sehat Aku Terinjak Petuah Orang Pintar

0
105
malesbanget.com

Setelah memasuki rumah, segera aku menuju kamar dan mengganti celana yang tadi di pinjamkan indra. Apabila mengingat semua kejadian tadi rasa malu kembali lagi, haruskah aku menjilat semua perkataan aku yang tidak mempercayai hal-hal goib. Haruskah aku kehilangan semua kepercayaan diri dan keyakinan aku bahwa semua kejadian itu adalah fenomenan alam yang bisa di jelaskan oleh segudang ilmu pengetahuan yang sudah aku pelajari.

Lama aku terdiam di dalam kamar dengan semua rasa malu ini, sejujurnya diantara rasa takut ini masih ada sebuah ketidakpercayaan dan rasa penasaran akan hal yang terjadi. Di luar kamar sana, samar-samar terdengar percakapan dikin, minto dan indra yang sepertinya sedang menghubungkan semua kejadian ini dengan perbuatan yang pernah aku lakukan. Sebuah kejadian dimana aku menendang sesajen yang di hidangkan di kamar minto, sebuah sajian yang konon di hidangkan untuk penghuni rumah ini.

Wanita yang berayun di pohon besar itu, suara panggilan dari seorang laki-laki dengan nada seraknya, sosok mas dikin di dapur, suara rantai yang di tarik hingga pukulan-pukulan di dinding dan jendela kamar, apakah ini di lakukan oleh makhluk atau seseorang? kembali aku berfikir akan semua kejadian itu hingga akhirnya aku teriangat dengan suara itu, suara geraman yang munculnya hampir barengan dengan semua kejadian itu. Akhirnya suara itu mengantarkan aku untuk berfikir ulang ke belakang saat perjumpaan aku dengan seorang kakek tua di kereta yang selalu berbicara tentang harimau putih yang selalu menyertai aku.

Apakah ini ada hubungannya dengan sebuah keris atau kujang yang aku temukan di tas, kembali aku teringat dengan sebuah keris yang sengaja aku simpan di dalam lemari di bawah tumpukan baju, setelah mengambil benda itu kembali aku membuka dan memperhatikan benda kecil yang terlihat unik dan tua. Aku berfikir apakah benda ini mewakili keberadaan harimau putih itu.

Ini hanya sebuah benda tua yang sengaja di selipkan oleh orang tua aku, mungkin mereka beralasan benda ini sewaktu-waktu bisa aku jual apabila aku sedang kekurangan uang. Aku yakin bahwa benda tua yang di koleksi orang tua aku adalah benda-benda yang mempunyai harga karena nilai sejarah dan keunikannya. Kembali logika sehat aku menyangkal akan keberadaan makhluk astral yang berhubungan dengan benda ini. Setelah puas memperhatikan benda itu akhirnya ku meletakkan kembali benda itu di dalam lemari dan melangkahkan kaki keluar kamar, tampak dikin, minto dan indra masih di depan pintu kamar indra dan melihat aku.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, ada keinginan untuk meminta tolong ke indra dan minto untuk mengantarkan aku ke kamar mandi untuk melanjutkan buang air besar yang belum selesai secara sempurna atau sekedarnya menyiram kotoran sebagian yang sudah di keluarkan. Akan tetapi kembali rasa malu menghalangi semua itu. Aku harus menunjukan bahwa aku masih mempunyai keyakinan akan semua perkataan yang telah aku ucapkan. Entah mengapa di saat aku membuka pintu kaca dan mulai memasuki lorong pendek menuju dapur dan kamar mandi sebuah hawa dingin kembali menerpa aku. Ada rasa tidak suka di hati aku melihat beberapa lukisan wajah-wajah yang tergantung di lorong dan dapur, lukisan wajah orang tua zaman dahulu lengkap dengan pakaian tradisional dan belangkon di kepalanya.

Aku berusaha untuk berani ke pintu kamar mandi yang telah menjadi korban keganasan tendangan aku karena rasa takut kini kembali lagi. Perlahan demi perlahan pintu itu aku dorong seiring adrenalin aku terlontar keluar. Aku pun kembali berteriak saat itu dan dengan segera indra, minto dan dikin menolong aku. Kalau hanya pingsan adalah hal biasa tapi kenyataan nya aku membuat mereka semua kawatir. Saat itu keluarlah dari mulut indra yang menerangkan setelah aku pingsan, mereka mengangkat aku menuju kamar. Tetapi setelah mereka meletakkan aku di ranjang kamar dan akan meninggalkan aku. Aku berlaku aneh, aku mulai menggeram dan menatap tajam ke semua arah hingga akhirnya aku berlaku aneh dengan bertingkah aneh. Saat itu tangan aku mencengkram dan mengacak-acak sprei yang menyelimuti kasur, tidak ada seorang pun yang berani menenangkan aku. Mereka semua di liputi rasa ketakutan hingga akhirnya aku pun terjatuh lemas.

Tapi saat itu aku masih ngeyel ketika orang pintar akan datang dan akhirnya aku mau lihat orang pintar itu. Aku pun tersenyum dan mencoba mengalah, setelah beberapa lama kami terlibat perbincangan terdengar suara azan jumat di kejauhan, tampak minto sudah bangun dan bergegas merapihkan diri untuk solat jumat. Dan minto mengajak aku dan indra solat jumat tapi jawab tidak solat dulu sama sebaiknya indra pun juga begitu. Tidak lama minto berangkat jumatan. Dan kisah selanjutnya berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here