Jeritan Malam Part 6 : Haruskah Logika Aku Dikalahkan Hal Yang Bersifat Klenik

0
96
malesbanget.com

Secara reflek aku langsung melihat minto dan indra yang kebetulan tepat di belakang aku. Aku langsung marah atas apa yang mereka lakukan pada kepala aku. Tapi mereka berdua bingung dengan maksud perkataan aku pada mereka. Aku bilang kenapa mereka memukul kepala aku dan aku bilang kalau tidak suka jangan begitu cara nya. Mereka langsung membela diri bahwa aku jangan asal menuduh saja.

Aku terdiam mendengar jawaban minto, rasanya aku bisa mempercayai jawabannya dan setelah aku meminta maaf akhirnya kami membereskan sesajen yang berhamburan di lantai. Sepertinya terornya sudah di mulai kata mereka. Hal ini karena kejadian baru saja aku alamin. Aku masih mengelak bahwa mereka terlalu banyak nonton horor untuk mengurangi rasa takut mereka.

Jam hampir menunjukkan pukul 11 malam, kami memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini, satu persati kami meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamar masing-masing, terlihat minto agak tidak mau untuk memasuki kamarnya, ada raut wajah yang kawatir setelah peristiwa sajen yang aku tending tadi. Aku pun menawarkan dia tidur di kamar aku tapi dia bilang tidak mau karena kamar aku jauh lebih mengerikan. Akhirnya minto memutuskan untuk tidur di kamar indra dengan berbekal selembar tikar. Lalu minto marah dan bilang karena aku dia bisa masuk angin.

Aku pun meminta maaf atas kejadian tadi padanya. Ini merupakan kejadian aneh selama hidup aku, dimana seseorang di terror di kediamannya sendiri, terror oleh makhluk yang belum jelas bentuknya, sosok makhluk yang gambarannya terbentuk karena obrolan dari mulut ke mulut sehingga ketika mencapai mulut orang tidak mengalami kejadia, melihat atau merasakan peristiwa yang tidak masuk akal itu. Makhluk itu akan tergambar menjadi lebih menyeramkan, kembali aku tersenyum jika membayangkan semua itu.

Sesampainya di kamar, sebelum tidur aku putuskan untuk mencari sisa-sisa peristiwa yang mungkin tercecer di kamar ini, peristiwa tentang arda mengakhiri hidupnya di kamar ini dengan sangat tragis dan dengan cara tersiksa. Aku bisa bayangkan ketika dia terbaring di ranjang ini dengan darah yang mulai keluar secara cepat dari nadinya dan perlahan suplai oksigen ke otaknya akan semakin berkurang. Hal ini menyebabkan nafas terasa tercekik hingga akhirnya mati sungguh perbuatan bodh yang sangat menyiksa.

Entah kenapa aku selalu menemukan sebuah keberanian yang lebih bila memasuki kamar ini, aku seperti memasuki zona yang memberikan aku rasa aman, aku bisa merasakan ketenangan, seakan aka nada suatu pelindung yang memberikan aku semua rasa ketenangan ini. Setelah terasa lelah dan tidak menemukan sisa apa-apa akhirnya aku putuskan untuk tidur, suara tiang listrik yang di pukul oleh petugas keamanan seakan menjadi tanda bahwa waktu sudah jam 12 malam. Brak suara terdengar seperti pukulan tangan ke arah jendela kamar aku, suara ini belum cukup untuk membangunkan aku dari tidur. Sejenak aku hanya menggeliat dan meneruskan tidur hingga akhirnya selang beberapa menit suara itu kembali terdengar, berhubung malam sebelumnya aku pernah mengalami kejadian seperti ini, aku hanya menganggap kejadian biasa seperti malam kemarin, sebuah kejadian tanpa aku menemukan bukti apa-apa hingga akhirnya sebuah bunyi ketiga, sebuah bunyi yang kontan membangunkan aku dari tidur dan membuat rasa ngantuk aku hilang dengan seketika.

Aku mendengar suara tertawa dan aku yakin ini bukan mimpi karena suara nya terdengar jelas. Sebuah suara rantai yang di tarik lalu di pukulkan kea rah tembok di iringi dengan suara cekikikan dari seorang wanita hingga akhirnya terdengar suara geraman yang di lanjutkan dengan suara cekikikan yang panjang dan perlahan suara itu semakin menjauh hingga akhirnya hilang di telan suara malam, itu jelas suara tawa seorang wanita dan suara geraman, itu adalah suara geraman yang aku dengar sebelumnya.

Aku pun membuka jendela kamar namun hanya hembusan angin malam yang perlahan-lahan berubah menjadi bau amis seperti bangkai dan hal itu membuat aku mual. Akhirnya aku menutup jendela tapi sebelum sempurna menutupnya aku melihat sekilas bayangan dari pohon besar di luar pagar hingga akhirnya bayangan itu membentuk wujud wanita dengan balutan gaun putih panjang. Wanita itu seperti berayun-ayun di batang pohon. Dan wanita itu memainkan rantai yang terikat dan tersenyum dengan jearitan kea rah aku. Saat itu aku sangat gemetaran dan takut.

Ada yang memanggil aku di kamar mandi dan aku langsung lari berteriakan dan teman-teman aku bangun terheran. Akhirnya mas dikin tanya dengan heran atas apa yang terjadi. Aku putuskan untuk cebok dengan menggunakan air di dalam kulkas, rasa malu sudah tidak aku rasakan mala mini karena sudah tertutup dengan rasa takut. Dan aku berharap tidak ada orang yang melihat di luar sana. Cerita nya masih berlanjut di part berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here