Jeritan Malam Part 30 : Akhir Dari Perbuatan Aku

0
111
malesbanget.com

Terlihat mas dikin dengan wajah sedih, mencoba menjelaskan diantara suara paraunya, rasa sedih yang dirasakannya membuat suaranya nyaris tidak terdengar. Kemudian tidak lama mas dikin mengatakan jika indra dan minto sudah tidak ada lagi, mereka sudah meninggal di tempat kejadian tadi aku pun terjatuh setelah menerima kabar ini hingga akhirnya enggak sadarkan diri. Aku shock dan tidak kuasa menahan air mata yang mengalir, terlihat mas dikin tidak menjawab, hanya anggukan kepalanya saja yang menyatakan bahwa semua kejadian ini memang benar terjadi dan bukanlah mimpi buruk. Berat rasanya menerima kenyataan ketika sahabat yang dengan setia selalu menemani baik itu disaat suka maupun duka, kini menghilang selamanya dari hidup aku.

Dengan Sebuah lamunan kosong, kereta yang melaku cepat mengantarkan aku kembali ke Jakarta. Mencoba melupakan kesedihan yang aku rasakan dengan tidak menghadiri pemakaman mereka. Rasanya sia-sia semua kesedihan itu bagaikan sebuah noda yang tidak mungkin hilang dari ingatan ini untuk selamnya, masih terngiang di telingan ini ucapan mas dikin yang menyatakan keinginanya untuk ikut serta bersama aku menapaki sisa kisah yang ada. Namun semua terasa terlalu berat, terlalu menyakitkan bila aku harus menyaksikan kembali kepergian mereka satu per satu dari hidup aku.

Tidak lama terdengar suara teriakan dari mang iwan yang sudah sangat aku kenal setibanya di stasiun kereta yang beralokasi di Jakarta, dengan langkah tergesa-gesa, mang iwan terlihat mulai menghampiri dan mengambil tas yang berada dalam genggaman tangan aku. Mang iwan pun mengikuti aku dari belakang menuju mobil yang terparkir di parkiran stasiun. Aku pun bilang agar mang iwan duluan dan aku akan menunggu di mobil. Tanpa sengaja mata aku terfokus pada seorang wanita yang sedang duduk di salah satu bangku tunggu stasiun. Walaupun hanya menatapnya sekilas dari samping, aku bisa memastikan bahwa itu adalah wulan. Wulan seorang kekasih yang pernah meninggalkan aku dengan sebuah luka di hatinya, dengan penuh keraguan aku coba menghampiri wulan di iringi tatapan mata mang iwan yang sesekali melihat aku dari kejauhan.

Aku pun menyapa wulan, terlihat wulan menoleh ke arah aku dengan sebuah senyuman di wajahnya. Tidak tampak sama sekali bekas-bekas luka akibat kecemburuan setelah peristiwa yang terjadi di mess, ada rasa cinta yang kembali aku rasakan begitu menatap wajah yang sudah sekian lama hilang dari hidup aku. Wulan pun menyapa aku sambil berdiri dan memeluk aku dengan erat. Aku pun tidak percaya karena wulan bisa melupakan kesalahan yang sudah aku lakukan, pikir aku dengan keheranan, pelukan di berikan wulan seperti membayar kerinduan yang aku rasakan selama ini. Aku tanya kenapa wulan bisa tahu jika aku hari ini tiba? wulan hanya terdian tanpa sedikitpun melepaskan pelukkannya. Aku bisa menangkap aura kesedihan dari pelukan yang erat di tubuh ini. Tanpa perlu kamu beritahu, aku akan selalu ada dimana saja kamu ada za, ucap wulan. Hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya. Aku pun bertanya kenapa wajah nya pucat sekali, badan nya dingin. Sedikit dengan rasa panic begitu memperhatikan dengan jelas wajahnya, aku coba untuk meraba keningnya yang terasa dingin.

Ketika aku tanya apakah dia sakit? dia pun menjawab tidak dan kembali memeluk tubuh aku dengan perasaan kawatir akan kondisi kesehatan wulan, akhirnya aku mengajak wulan untuk segera menuju mobil yang sudah menunggu di parkiran stasiun. Aku pun menyurh wulan masuk sambil membuka pintu belakang, tatapan mang iwan yang berbeda di balik kemudi sesekali melihat aku. Aku menyuruh mang iwan mengantar wulan ke rumahnya sekalian mampir, sudah lama saya tidak bertemu orang tuanya. Terlihat mang iwan menjawab dengan gugup.

Di sepanjang perjalanan, terlihat beberapa kali mang iwan mencuri pandang ke belakang dan itu jelas membuat aku merasa tidak nyaman melihat tingkah laku anehnya. Wulan pun sedari tadi hanya duduk terdiam disamping aku dan menyandarkan kepalanya di bahu aku. Sekali lagi aku bilang agar kita antar wulan dulu dan aku bilang jika wulan terlihat tidak sehat. Mang iwan tampak tidak menjawab perkataan aku dan kembali tatapan matanya mencoba melihat kami dari kaca spion dalam dengan raut wajah gelisah.

Setelah beberapa lama menembus gelapnya malam, akhirnya kami tiba di tempat kediaman wulan, rumah yang tidak terlalu besar itu tampak sepi. Wulan pun masih terdiam, jemari tanganya terasa semakin erat menggenggam tangan aku, seakan tidak mau melepaskan untuk kali keberapa, kembali aku mengetuk pintu rumah hingga akhirnya terdengar suara putaran kunci. Bapak burhan pun heran dan tidak percaya melihat aku, terlihat raut wajah terkejut yang masih mengantuk.

Aku pun meminta maaf karena ganggu malam-malam dan maaf juga saya memulangkan wulan selarut ini, seiring alasan kedatangan yang aku utarakan, aku merasakan keanehan dengan ketidak pedulian pak burhan terhadap wulan yang ikut serta bersama aku. Pak burhan bercerita jika wulan sudah tiada. Entah itu hanya suatu kebetulan atau suatu pertandan bahwa wulan menjadi korban awal dari ritual mistis itu. Berita yang disampaikan pak burhan bagaikan petir. Aku diam dalam kesendirian. Cerita ini terinspirasi dari kaskus berdasarkan kisah nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here