Jeritan Malam Part 28 : Sebuah Pembuktian Keenam Belas Dan Sejarah Mess

0
89
malesbanget.com

Lalu bagaimana mbah bisa yakin dengan hesti yang kami temui adalah hesti yang mbah maksud? Dengan sedikit kawatir mbah ini salah menerka hesti yang kami maksud. Dari semua yang kamu jelaskan tadi hingga saat kamu melihatnya menuju ke salah satu tempat perjanjian dengan setan, saya sudah bisa memastikan bahwa hesti yang di maksud adalah hersti itu. Saya sudah terlalu tua untuk di bodohi dengan parasnya yang mungkin masih muda.

Aku sempat tidak percaya namun mbah warsono mengatakana saya yang terlihat seperti lelaki berusia 107 tahu, yang membedakan hanya caranya, saya masih terlihat sepeti ini karena prosesi kanuragan saya. Dan hesti itu semua karena prosesi ritualnya dengan setan. Terlihat minto dan mas dikin saling berpandangan sedangkan aku hanya tertunduk diam menyesali semua yang telah aku lakukan. Mbah warsono mengatakan jika dirinya bukan orang pintar dan bukan ahli, ada baiknya aku membicarakan semua kejadian yang aku lakukan. Dan semoga ada jalan keluarnya dari semua ini.

Setelah berbicara cukup panjang lebar tentang segala hal yang berbau hal-hal yang ghoib dan kanuragan, hari tidak terasa mulai beranjak sore dan kami memutuskan untuk berpamitan pada mbah warsono, dengan berbagai macam pertimbangan akan keselamatan kami akhirnya mbah warsono memutuskan untuk mengantar kami sampai tempat dimana mobil kami terparkir. Mbah warsono pun bertanya, saat itu tangan kanan mbah warsono menutupi kedua mata aku. Sedangkan tangan kiri terasa seperti menjentik-jentikan jari jemarinya di kepala seperti layaknya orang yang sedang menekan tombol keyboard.

Buka mata kamu secara perlahan, ucap mbah warsono dan lihat ke arah deretan pohon-pohon di depan kamu. Dengan sangat perlhan aku coba membuka mata dan mencoba melihat seperti petunjuk yang di berikan mbah warsono. Hal pertama yang aku rasakan adalah pengelihatan aku seperti berbayang-bayang hingga akhirnya semua terlihat begitu jelas dan nyata, aku bisa melihat beberapa makhlik yang menyerupai manusi dengan tubuh kerdil hilir mudir berjalan memasuki hutan, ada beberapa diantaranya yang terlihat membawa ikan di tangannya, mungkin mereka merasakan bahwa kehadiran mereka bisa aku lihat. Dengan suara yang hampir menyerupai suara bebek, terlihat mereka dengan serempak berlari menembus lebatnya hutan dan menghilang, kini mbah warosono kembali menutup pengelihatan aku dengan telapak tanganya, mulutnya seperti berkomat kamit kecil dan mengakhirinya dengan sebuah elusan di kepala aku.

Itu salah satu contoh kehidupan yang menemani dirinya tinggal di hutan ini, tidak semuanya berbentuk goib itu jahat dan menyesatkan. Dan sambil tersenyum mbah warsono mengambil kantong dari celananya dan menyerahkannya pada aku, seraya berpesan untuk membuktikan apa yang pernah di jelaskan mengenai hesti dan mess itu. Setelah kamu membuktikan, tolong kamu buang benda ini, dengan sendirinya dia akan kembali pada aku, ucapnya sambil melangkahkan kaki menembus dan menghilang dalam hutan yang mulai tertutup kabut dan kegelapan, ini adalah sebuah puncak dari perjalan untuk sebuah pembuktian.

Tepat jam 11 malam kami tiba di kediaman pak sukuk, sebuah prosesi ritual telah kembali dilakukan oleh pak sukuk dengan di bantu beberapa warga desa, kami hanya bisa menunggu semua prosesi itu selesai, hingga akhirnya sebuah kabar menggembirakan datang, indra yang sudah terbaring tidak sadarkan diri dalam beberapa hari kini sudah mulai kembali sadar, raut wajah kegembiraan juga terlihat dari wajah pak sukuk, mungkin dia merasa senang karena telah berhasil menyelesaikan semua prosesi ritual penyelamatan ini dengan hasil menggembirakan.

Pak sukuk menjelaskan jika indra tersesat hanya dimensinya saja yang berbeda dan di tambah ada gangguan makhluk halus yang berupaya menghalangi indra untuk kembali ke tubuhnya. Setelah beristirahat dan menyerahkan sejumlah uang pada warga desa sebagai bentuk terima kasih kami, akhirnya ke esokan harinya kami berpamitan untuk kembali pulang ke mess, sebuah tempat yang menjadi awal dari semua perjalanan ini.

Indra bercerita selama tidak sadar hanya gelap yang dia temui dan ketika bangun dari tidur, sosok aku yag sebelumnya terbaring di samping aku seakan lenyap tak berbekas. Aku benar-benar bingung, benar-benar kehilangan arah. Dengan rasa takut indra menceritakan semua itu, jari jemari tangannya yang terselip sebatang rokok terlihat bergetar. Setiap helaan nafas berupaya menghilangkan semua kejadian buruk itu dari memori pikirannya.

Indra pun melihat kita semua duduk sangat jauh di tempat yang sangat terang, mungkin di telingan kamu suara aku seperti bisikan, tapi kenyataan yang terjadi aku berteriak sebisanya agar kamu bisa mendengar semua ucapan aku, sosok hitam seperti kera itu benar-benar menakutkan, keinginan aku hingga akhirnya makhluk hita yang menghalangi langkah aku hingga akhirnya aku tersadar dan mendapati diri aku sedang berada diantara pak sukuk dan warga desa lainnya. aku pun bersyukur karena indra bisa pulih. Seketika aku merangkul indra dengan dekapan sahabat. Akhirnya kita mampir dulu ke tempat makan hesti, sebelum menuju mess kebetulan perut kita sama sekali belum terisi.

Tidak lama setelah menunggu sosok hesti akhirnya dia datang. Segera aku gunakan cincin saat hesti melayani, tepat di depan kami wanita tua dengan kulit keriput sedang berdiri mengenakan pakaian layaknya anak muda. Cerita akan berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here