Jeritan Malam Part 27 : Sebuah Pembuktian Kelima Belas Dan Sejarah Mess

0
91
malesbanget.com

Entah mengapa langkah kaki aku terasa ringan untuk melangkah, lebatnya hutan dengan pohon dan rerimbunan semak belukar seakan tidak menjadi penghalang bagi aku untuk menapaki jalan mencari keberadaan mbah warsono. Aku yakin bahwa masih banyak hewan liar disini dan mungkin banyak hewan buas lanjut minto dengan mimic ketakutan. Aku sambil terus melanjutkan melangkah hingga akhrinya setelah jauh memasuki kedalam hutan, langkah aku terhenti seiring dengan tatapn aku yang coba mengamati sesuatu yang berada di kejauhan.

Mas dikin menunjuk sesosok orang yang sedang berjalan di tengah lebatnya hutan, di pundaknya terlihat kayu-kayu yang terikat, hal yang pertama aku pikirkan adalah ini seorang manusia yang sedang mencari kayu bakar di tengah hutan belantara. Aku sambil melarang mas dikin melakukan apa yang di contohkan minto, tatapan aku kembali menatap seseorang yang kini terlihat sedang memungut ranting-ranting kayu yang berjatuhan, cahaya matahari yang terlarang lebatnya dedaunan memaksa aku bekerja ekstra keras untuk melihat bentuk rupanya. Dan semua terasa sia-sia karena keterbatasan jarak pandang, tanpa meminta persetujuan dari minto dan mas dikin segera aku langkahkan kaki untuk menghampiri sosok yang menggelitik rasa penasaran.

Minto bertanya apa aku yakin? Dan baru kali ini aku merasakan keyakinan sebesar ini, tepukan aku pada jari-jari minto yang berada di bahu cukuplah mewakili keyakinan yang aku rasakan. Seketika aku menanyakan kepada mbah yang ada di situ apakah dia tahu tempat mbah warsono? Namun laki-laki tua itu tetap terlihat sibuk memunguti ranting kayu, hanya sekilas dia menatapa kami lalu kembali lagi tetap dengan kesibukannya sendiri, ada rasa dongkol di hati ini mendapati pertanyaan aku seperti sebuah pertanyaan yang tidak bermakna.

Ketika aku mengulangi pertanyaan aku, mbah itu marah karena aku mengulang pertanyaan itu seakan dirinya tuli. Lalu laki-laki tua itu menyuruh kami mengikutinya dengan langkah tegap seperti tidak ada beban di pundaknya,ingin rasanya aku menawarkan diri untuk membantunya tapi sebuah kesalah pahaman bisa berakibat fatal buat kami hingga semua keinginan ini hanya tertahan menjadi sebuah keinginan seperti tanpa halangan yang berarti, laki-laki tua yang berjalan tanpa menggunakan alas kaki itu berjalan semakin cepat hingga memaksa kami untuk sedikti berlari kecil hingga akhirnya kami di sambut oleh sebuah gubuk kecil yang berada di tengah lebatnya hutan.

Laki-laki tua itu pun mempersilahkan kami ambil minum sendiri. Sebuah tembikar besar yang terbuat dari tanah liat tampak berada tepat di bawah sebuah pohon besar dengan air jernih di dalamnya, tanpa menunggu lama segera kami menciduk air dengan memakai gayung batok kelapa yang seperti sengaja di siapkan untuk wadah minum. Segarnya air yang mengalir membasahi tenggorokan ini seperti menghapus dahaga yang kami rasakan selama perjalanan. Sejenak kami memperhatikan laki-laki tua itu seperti sedang melakukan pemanasan ringan, gerakan-gerakan yang di perlihatkan sepertinya tidak menunjukkan usianya yang sudah tua, dari semua tingkah lakunya yang ada cukuplah untuk membuat aku mengambil kesimpulan laki-laki tua yang ada di hadapan aku ini adalah mbah warsono, seorang ahli kanuragan yang menghilangkan dirinya dalam hutan ini.

Ketika kami memperkenalkan diri mbah warsono langsung menunjuk aku dan sudah tahu maksud kedatangan aku. Mbah warsono memukul kan beberapa kali ke sebuah pohon dengan kekuatan luar biasa dan di pukulan yang ketiga aku memundurkan langkah dan tiba-tiba semuanya gelap, aku tidak sadarkan diri hingga akhirnya aku mendapati diri aku sudah berada di dalam gubuk dengan minto dan mas dikin yang terduduk diam menemani, seluruh badan aku benar-benar terasa sakit untuk di gerakkan.

Menurut mas dikin di pukulan mbah warsono yang ketiga terlihat aku tiba-tiba jatuh dan setelah itu aku menggeram layaknya harimau, aku pun melihat jari aku kotor karena tanah. Dan aku mencakar-cakar di tempat aku terjatuh. Hingga akhirnya mbah warsono memancing aku untuk berdiri. Seketika mbah warsono pun terlihat kewalahan. Mendengar penjelasan minto bukannya membuat aku menjadi merasa bangga justru aku merasa menjadi aneh dengan semuanya. Saat itu mbah warsono menyuruh membalurkan sesuatu ke tubuh aku dengan membawa sebatang bamboo yang berisi minyak yang menyerupai minyak sayur dan memberikan pad amas dikin untuk di balurkan ke badan aku. Sesaat setelah di balurkan rasa sakit di sekujur tubuh aku terlihat mulai membaik.

Mbah warsono pun ingin melihat kujang atau keris yang aku bawa itu. Mbah warsono seperti seorang yang sudah dengan pasti mengetahui apa yang aku bawa, perlahan aku ambil gulungan kain yang berisi rajah dari dalam tas dan memberikan pada mbah warsono, terlihat wajah mbah warsono mengagumi apa yang sedang berada di tatapan matanya. Mbah warsono pun bertanya darimana aku mendapatkan keris itu? lalu tidak lama keris itu di kembalikan kepada aku. Saat itu juga aku memberikannya kembali ke mbah warsono karena aku yakin dia orang yang tepat. Akhirnya kami tahu yang sebenarnya asal muasal mess itu dan ternyata hesti bukan wanita muda melainkan wanita usia 75 tahun yang memuja setan. Bahkan orang tua hesti meninggal bunuh diri. Tebayar sudah semua rasa lelah kami dengan tahu sejarahnya. Cerita ini bersambung di berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here