Jeritan Malam Part 26 : Sebuah Pembuktian Keempat Belas Dan Sejarah mess

0
88
malesbanget.com

Saat itu minto tanya apakah aku lupa cara berwudhu? setelah lama berfikir akhirnya aku putuskan untuk melanjutkannya dan seperti telah aku duga untuk kedua kalinya basuhan air yang seharusnya menyejukkan ini bagaikan tumpahan air keras yang membakar wajah ini. Aku pun menutupi wajah dengan kedua talapak tangan aku. Dan minto bertanya dengan kebingungan melihat keadaan aku. Aku menyuruh minto untuk solat lebih dulu. Enggan rasanya menjelaskan apa yang aku rasakan kepada minto, cukuplah aku yang menanggung sendiri semua hasil perbuatan aku.

Pak sukuk pun menyuruh aku duduk ketika melihat kehadiran aku, sepertinya dia sudah mengerti dengan apa yang aku rasakan. Pak sukuk mengatakan sepertinya aku terlalu jauh hingga aku tidak sadar dampak buruk dari semua perbuataan aku. Menurut pak sukuk tempat yang aku datangi itu sudah sangat terkenal keangkerannya. Itu merupakan suatu tempat dimana manusia mengadakan perjanjian dengan setan untuk sebuah kekayaan atau pun daya pikat. Tidak semua orang bisa mudah bertemu dan mengadakan perjanjian dengan mereka.

Pak sukuk juga mengatakan akan berusaha menyadarkan teman nya dan semoga belum terlambat. Suasana mala mini sungguh terasa berbeda, perasaan mencekam bercampur dengan harapan cemas akan kondisi indra seakan menjadi melodi menakutkan di tengah kesunyian malam yang mulai merambat ke titik kesempurnaan. Tepat jam 9 malam akhirnya sosok yang kami nanti-nantikan kehadirannya menampakan keberadaanya. Mas dikin sosok yang dalam beberapa jam ini menjadi sosok yang sangat aku rindukan kehadirannya.

Andaikan mereka tahu kecemasan yang aku rasakan tentu mereka akan memakluminya. Terlihat raut kebahagiaan di wajah mas dikin melihat keadaan aku yang sudah pulih kembali seperti sedia kala. Pak sukuk pun memastikan jika barang-barang yang di minta nya sudah lengkap semua. Tidak lama mas dikin memberikan plastic kepada pak sukuk. Beberapa pemuda desa yang ikut serta menyertai mas dikin seperti sudah mengerti dengan apa yang harus di lakukan. Sekarang barang-barang yang sudah di keluarkan segera tersusun rapih dalam wadah besar yang terbuat dari anyaman bamboo, mata aku seakan terbelalak menyaksikan apa yang aku lihat, untuk keberapa kali nya aku harus berhadapan dengan apa yang dinamakan sesajen.

Menurut pak sukuk itu hanya syarat sebagai tanda penghormatan oleh para leluhur. Akhirnya tidak lama acara di mulai dan tepukan tangannya di bahu aku menandakan keyakinannya akan berjalan lancarnya semua prosesi ini. Apapun yang terjadi besok kita harus mencari rumah mbah warsono. Pak sukuk pun bicara sebelum kita memulai prosesi ini, pak sukuk berpesan tetap pejamkan mata walau kalian merasakan atau mendengar sesuatu. Dengan perlahan pak sukuk mulai memadamkan lampu kamar dan menggantikannya dengan cahaya lilin. Wangi aroma kemanyan mulai merebak diantara asap putih, terlihat tangannya memberi aba-aba agar kami memejamkan mata seiring dengan rapalan yang keluar dari mulutnya. Entah apa makud dari semua ucapannya itu hingga akhirnya secara perlahan suara pak sukuk mulai mengecil dan akhirnya tertelan kesunyian. Hawa di dalam kamar yang semula terasa hangat kini mulai berganti menjadi dingin. Ingin rasanya membuka mata ini dan melihat apa yang sedang terjadi tapi kawatir atas keselamatan indra membuat aku tidak melakukan hal itu.

Aku mendengar ada yang memanggil aku dengan jelas, sangat pelan dan hampir menyerupai sebuah desahan bila dibandingkan dengan sebuah ucapan. Akhirnya aku bisa memastikan ini bukan suara minto dan mas dikin yang aku kenal, ini jelas suara indra dan suara nya sangat familiar di telingan ini, walau aku harus mendengarkan dengan mata terpejam. Aku mendengar indra bicara agar aku tidak meninggalkan dirinya karena dia masih ingin hidup. Iba rasa hati mendengar suara indra yang penuh dengan rasa putus asa dan penderitaan. Selang beberapa kali suara-suara itu terdengar di telinga aku begitu menggelitik hasrat untuk membantunya.

Belum sempat membuka mata sebuah suara kembali terdengar tepat di samping kiri aku, di lanjutkan dengan langkah kaki yang agak panic dari pak sukuk yang berada di depan kami. Kini tanpa menghiraukan perkataan pak sukuk agar kami tidak membuka mata, aku abaikan dan benar saja setelah buka mata aku bisa melihat secara sempurna, terlihat minto yang terbaring di lantai dengan posisi menggelepar.

Tidak lama pak sukuk member perintah untuk menyalakan lampunya. Seperti layaknya orang yang sedang menarik sesuatu dari tubuh minto dan melepaskannya, perlahan gerakan minto yang semula tidak terkendali kini mulai melemah seiring dengan kesadarannya yang berangsur pulih, wajah pak sukuk yang terlihat kelelahan kini terduduk di samping minto dengan nafas yang sedikit memburu.

Pak sukuk berkata agar lain kali menuruti semua perkataannya karena kita semua prosesi jadi berantakan semua. Dengan wajah sedikit memelas, minto meminta maaf atas kesalahan yang telah dia perbuat, akhirnya prosesi ritual ini kami hentikan tanpa membuahkan hasil apapun. Indra masih terbaring tidak berdaya di tempat tidur. Tepat jam setengah enam pagi kami berpamitan pergi dengan berbekal wejangan yang di berikan pak sukuk, akhirnya kami menapaki jalan raya yang masih terlihat gelap. Tidak lama kami beranjak turun dan menyebrangi jalan. Ceritanya bersambung di berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here