Jeritan Malam Part 25 : Sebuah Pembuktian Ketiga Belas Dan Sejarah Mess

0
27
malesbanget.com

Pikiran aku menerawang jauh seiring langkah kaki ini, akan kemanakah orang tua ini akan membawa langkah aku ini, tatapan aku mencoba mencari tahu jawaban dari semua pertanyaan ini. Tapi tatapan mata minto terlihat terlalu dingin untuk memberikan jawaban. Hingga akhirnya langkah kaki aku terhenti pada salah satu pintu kamar yang masih tertutup rapat. Untuk sekali lagi mata pak sukuk menatap aku seakan memberikan sebuah pertanyaan siapkah aku untuk menerima apa yang akan aku saksikan di balik pintu kamar yang tertutup rapat ini. Dengan perlahan tangan pak sukuk membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar sempat muncul keraguan di dalam hati aku untuk melangkahkan diri ke dalam kamar yang terlihat gelap karena gorden yang masih tertutup rapat. Pak sukuk pun menyuruh aku masuk yang hanya terdengar suaranya karena terhalang oleh pintu yang terbuka.

Tempat apa ini pikir aku dalam hati, dengan penuh keraguan akhirnya aku beranikan diri untuk melangkah memasukinya, kini tampak di hadapan aku sebuah pemandangan yang sangat tidak aku inginkan, terlihat pak sukuk berdiri di depan ranjang. Dimana ranjang tersebut terbaring seseorang yang masih belum bisa aku pastikan siapa.

Minto pun menepukkan tanganya di bahu ini seakan menyadarkan aku untuk menghampiri ranjang itu, tatapan mata minto terlihat mencoba memberikan aku sebuah kekuatan untuk melangkah. Langkah kaki yang susah secara perlahan seolah mewakili kecemasan yang aku rasakan. Hingga akhirnya tatapan mata aku secara jelas bisa memastikan siapa sosok yang terbaring di ranjang itu. Dengan tidak percaya aku berbicara. Dan minto menjelaskan mengenai mungkin dan tidak mungki lagi tapi ini kenyataan yang ada di hadapan aku. Cengkraman jari minto di bahu ini seakan berusaha menahan gejolak perasaan yang aku rasakan. Minto bilang kita tidak usah lari dari kenyataan dan tidak usah lagi menampik kenyataan yang sudah di depan mata.

Andai minto mengerti apa yang ada di pikiran aku, tentu dia akan meminta aku untuk mengatakan semua itu. Ini benar-benar di luar dugaan aku andaikan memang tumbal ritual aku itu memang nyata adanya. Dua sosok sketsa wajah yang aku lihat di dalam air itu hampir bisa aku pastikan bukan sosok yang terbaring di ranjang ini tapi apa maksud dari tiga kelopak bungan yang di haruskan oleh mbah wodo untuk aku makan. Aku berfikir atau sketsa wajah yang terlewat untuk aku perhatikan dalam air yang beriak itu.

Di antara pertanyaan yang menggelitik logika berfikri, kini sosok yang terbaring di ranjang ini memberikan aku sebuah tanda tanya besar akan kondisinya, aku tidak siap untuk menyaksikan kematian akibat dari ritual konyol yang aku lakukan dan tidak aku yakini kebenarannya. Dengan jari tangan yang bergetar aku coba untuk memastikan masih ada nafas yang terhembus dari sosol yang terbaring di ranjang, begitu mendapati adanya tanda-tanda kehidupan kaki aku lemas untuk menerima kondisi menggembirakan ini. Aku pun dengan histeris membangunkan indra yang belum sadar dan mengguncang-guncangkan badannya. Minto pun mencoba menghentikan tingkah laku aku. Dan terlihat indra masih tertidur dengan pulasnya, raut wajahnya tidak merespon kegembiraan yang aku rasakan. Perlahan tapi pasti kegembiraan yang aku rasakan akhirnya memudar seiring respon dingin yang di berikan indra, baru kali ini aku meneteskan air mata untuk sebuah arti persahabatan. Seseorang yang selama ini telah menjadi teman dalam suka dan duka, seseorang yang telah menjadi teman dalam menjalani perjalanan hidup yang penuh dengan kejadian-kejadian tidak masuk akal, kini terbaring tidak berdaya dalam sebuah mimpi panjang. Aku pun meminta maaf karena sudah melibatkan mereka semua dalam pencarian ini, aku pun memohon agar dia bangun dan rasanya percuma saja aku mengguncangkan tubuhnya, justru di setiap guncangan yang aku berikan semakin memberikan aku keyakinan, indra yang terbaring di ranjang hanyalah sebuah sosok raga yang bernafas. Tidak lama aku menanyakan mas dikin dan ucap pak sukuk jika dia sedang mencari keperluan untuk mengetahui apa yang terjadi pada indra. Tidak lama ada wanita tua menawarkan aku minum dan wanita itu adalah istri pak sukuk. Pak sukuk pun menjelaskan jika aku sedang menghadapi salah satu bentuk kekuatan yang tidak kasat mata.

Setelah merenung lama akhirnya aku bisa sepaham dan menyetujui apa yang di jelaskan pak sukuk. Samar-samar kembali terdengar suara kumandang adzan, untuk kali ini aku tidak merasakan kembali rasa sakit yang aku rasakan tadi. Raut wajah minto terlihat lega meliaht aku tidak menunjukkan perubahan tingkah laku. Disini lah aku muncul keinginan untuk solat yang mana hal itu jarang aku kerjakan, namun ketika akan berwudhu disinilah hal aneh muncul disaat air mulai menyentuh wajah ini ada rasa pedih yang aku rasaka di sekitar wajah dan aku terdiam ragu untuk melanjutkan. Dan kelanjutannya berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here