Jeritan Malam Part 24 : Sebuah Pembuktian Kedua Belas Dan Sejarah Mess

0
79
malesbanget.com

Aku pun panic menanyakan indra dan mas dikin dengan nada meninggi penuh kecemasan, cengkraman tangan aku berusaha mengguncangkan tubuh minto yang belum juga menjawab pertanyaan aku. Mereka di kamar yang lain, ucap minto padaku. Mendengar itu dari minto aku ragu, aku membayangkan tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada mas dikin dan indra seperti memenuhi pikiran ini, tanpa berfikir panjang segera aku bangkit dari tempat tidur untuk mencari keberadaan indra dan dikin. Baru saja aku berdiri dan coba melangkah tatapan mata ini masih terasa samar-samar, begitu juga dengan kaki aku yang masih terasa lemah untuk menahan bobot tubuh ini. Melihat aku yang hampir jatuh dengan sigap minto di bantu beberapa pria yang masih berada di kamar, berusaha menahan tubuh aku terjatuh dan kembali merebahkan aku.

Minto pun meminta aku bersabar dan memulihkan keadaan aku dulu. Dia berjanji akan memberi penjelasan setelah ini. Dan akhirnya aku menuruti apa yang di minta oleh minto saat itu. Dan dengan sabarnya minta aku untuk memakan makanan yang sudah di sediakan. Dengan setengah di paksakan akhirnya beberapa suap nasi berhasil aku makan. Terlihat kegembiraan di wajah minto melihat aku yang menuruti nya. Hingga pada suapan beriktunya terdengar suara adzan berasal dari salah satu masjid yang mungkin berlokasi tidak jauh dari rumah pak sukuk. Piring nasi yang masih berada dalam genggaman tangan aku seketika terlepas seiring dengan keinginan aku untuk menahan laju suara adzan memasuki telinga ini dengan kedua telapak tangan. Aku pun berteriak mencoba menahan siksaan, kini bukan hanya rasa sakit pada telingan saja yang aku rasakan, perlahan aku mulai merasakan hawa panas pada seluruh bagian tubuh. Terlihat minto terpaku tidak percya dengan apa yang dia lihat, bukan hanya gambaran terkejut yang bisa aku lihat dari wajahnya, aku juga bisa melihat tatapan kesedihan dari kedua bola matanya yang tidak tega menyaksikan keadaan aku.

Saat itu aku minta agar minto antarkan aku ke kamar mandi dan keadaan aku semaki melemah. Rasa sakit yang aku rasakan sepertinya sudah menyerap semua energy yang aku miliki dengan bersusah payah minto mencoba memapah aku ke kamar dan membiarkan aku meringuk dalam sudut kamar mandi.

Antara tega dan tidak tega, minto mulai menciduk air dan perlahan mulai mengguyur pada tubuh aku, sejuknya air yang membasuh tubuh seakan tidak mampu untuk menghilangkan rasa panas yang aku rasakan hingga akhirnya semua siksaan itu menghilang seiring dengan terhenti nya suara adzan. minto pun bertanya apa hal yang tidak mereka ketahui tentang ritual ini, tatapan matanya yang menatap halaman luar melalui kisi-kisi jendela kamar menunjukan keseriusan dalam pertanyaannya.

Seketika minto mencengkram kaos aku karena keras kepalanya aku. Kepalan tangannya sudah terangkat dan siap mendaratkan emosi yang dia rasakan. Minto pun berkata jika ini sudah bukan menyangkut terror makhluk halus atau hesti, namun kejadian-kejadian aneh yang kita alami sudah menyangkut nyawa kami, nyawa teman kamu. Tapi di situ aku tetap yakin dan tidak akan berpaling dari keyakinan aku apalagi mempercayai tumbal. Tidak lama terlihat wajah seorang tua yang baru aku lihat. Menatap kami dengan wajah keheranan seiring dengan kehadiran pak sukuk, minto mengurungkan niatnya untuk menumpahkan emosinya. Pak sukuk bertanya apa yang telah aku lakukan? sebuah pertanyaan yang terdengar pelan mengalir dari mulutnya tapi semua itu tidak bisa di tutupi apa yang aku lihat dan aku rasakan. Aku merasa di balik sikap lembut dan ramahnya , orang ini bukan orang biasa. Pak sukuk pun terdiam sebentar dan ingin memberitahukan sesuatu padaku. Saat itu pak sukuk bilang jika aku akan menemukan jawaban atas semua keraguan aku, aku akan melihat apa yang tidak aku ingin lihat dan aku akan merasakan apa yang tidak ingin aku rasakan. Tapi aku tidak paham dengan maksudnya.

Ketika itu pak sukuk menjelaskan tentang perjanjian tumbal yang sudah aku mulai. Dan parhanya hal ini sudah terjadi dan semua sudah terjadi jelas pak sukuk. Terlihat wajah pak sukuk memperlihatkan raut penyesalan akan semua yang telah terjadi. Saat itu juga aku menanyakan dimana teman-teman aku

Terlihat pak suku terdiam sesaat, mencoba meyakinkan diri aku asudah siap. Mendengar hal itu aku pun meminta penjelasan kepada minto dengan menggoyangkan badanya dan berharap ada sedikti penjelasan dari mulutnya, mendapati perlakuan seperti ini kontan membuat kekawatiran aku muncul seketika. Aku bingung apa yang terjadi dengan indra dan mas diki, mengapa mereka terasa sangat sulit untuk member penjelasan dari mulutnya. Aku merasa mereka sangat sulit sekali berbicara sekedar member penjelasaan. Tidak lama pak sukuk pun mengajak aku untuk ikut dengan langkah kakinya. Dan ceritanya ini bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here