Jeritan Malam Part 23 : Sebuah Pembuktian Kesebelas Dan Sejarah Mess

0
84
malesbanget.com

Saat itu indra tanpa sedikit pun berusaha menyingkirkan kedua telapak tanganya dari wajahnya, akan tetapi terdengar sebuah nada keyakinan dalam dirinya, keyakinan akan perlindungan yang di berikan kujang atau keris itu. Aku dengan tenang mencoba tidak ikut panic seperti indra, mungkin andai aku tahu sudah memberikan kebohongan tentang kujang atau keris itu, aku yakin indra akan memukul aku saat ini juga.

Aku melihat ada mbah wodo di tempat tadi, ucap indra padaku. Jari tanganya terlihat menunjuk ke arah belakang tubuhnya, tanpa sedikitpun indra menolehkan wajahnya. Seiring dengan keterangan yang di berikan indra, segera aku arahkan sorotan lampu senter kea rah kumpulan pohon-pohon besar yang terlihat angker dalam gelapnya malam. Aku coba perhatikan dan hampir memanggilnya tapi semua aku urungkan ketika aku melihat tanganya seperti memegang sesuatu yang membuat nya berlumuran darah. Sampai akhirnya aku melihat kemunculan meyerupai anak-anak yang bergerak cepat layaknya monyet dari balik rerimbunan semak belukar. Mereka menghampiri mbah wodo lalu berebut makanan yang berada dalam genggaman mbah wodo. Layaknya tuan yang sedang member makan hewan peliharannya, mendadak aku teringat penjelasan yang pernah di katakana minto sangat mirip dan sama apa yang di lihat minto.

Hingga akhirnya mereka seperti terusik dengan sorotan cahaya senter yang aku arahkan ke mereka. Sorot mata mereka terlihat tajam menatap aku dengan mulut terlihat mengunyah sesuatu. Bercak-bercak darah itu begitu terlihat di sekitar mulut mereka.

Aku merinding karena wajah mbah wodo terlihat beda banget, terlihat dingin dan menyeramkan hingga akhirnya pandangan mata aku seperti memancing mereka untuk menghampiri aku. Sebelum aku mati kaku berdiri disana, aku putusin langsung kabur. Rasa penasaran bercampur takut mengantarkan aku untuk meminta indra untuk menemani. Menunjukan dimana tepatnya dia melihat sosok itu. Setelah mencoba membujuk dan memberikan sugesti keberanian akan keberadaan kujang atau keris tua yang berada dalam tas ransel, akhirnya indra bersedia mengantarkan aku walau dengan tatapan mata yang hanya sekilas menunjukan tempat dimana dia melihat penampakan mbah wodo dengan makhluk kecil yang berlaku seperti layak nya monyet itu.

Aku sambil mengarahkan cahaya lampu senter ke deretan pohon besar dan rerimbunan semak belukar aku tidak melihat apa-apa. Semua sepi dan sunyi tanpa ada satu pun pergerakan sama sekali. Seketika indra membuka wajahnya dan tampak matanya masih terpejam seakan belum percaya dengan apa yang aku beritahukan. Terlihat mata indra kini perlahan mulai terbuka, sampai akhirnya kedua matanya terbuka dengan sempurna tanpa aku duga sebuah teriakan terdengar dari mulutnya di iringi keputusan jururs langkah seribu yang di ambilnya. Seiring teriakannya yang begitu keras di telinga dan membuat aku kaget, sebuah hembusan nafas dengan suara yang terdengar menyeramkan menerpa wajah ini. Ini benar-benar merupakan kejadian kali keduanya setelah dulu pertama kalinya pernah mengalami peristiwa sepeti ini di kamar mess.

Aku berteriak juga dan menyusul indra yang sudah lari lebih dulu meninggalkan aku, rasa kaku di tengkuk aku rasakan seiring dengan bulu kuduk aku yang berdiri. Tajamnya duri dan rimbunnya semak belukar tidak lagi aku hiraukan. Rasa perih yang aku rasakan akibat luka bergesekan dengan duri menjadi motivasi tersendiri bagi aku untuk segera meninggalkan tempat ini. Setelah bersusah payah menuruni tumpukan batu alam yang menyerupai tangga akhirnya aku berhasil tiba di bawah, tempat dimana hesti pernah memarkirkan motornya dengan nafas yang masih tersengal-sengal, terlihat indra yang melambaikan tangannya yang mengeluarkan sorotan cahaya senter terlihat dari kejauhan.

Akhirnya kami memutuskan untuk segera menuju mobil dimana dikin dan minto sudah menunggu. Kami pun mencari mereka, mata indra pun berupaya mencari keberadaan mobil, aku hanya bisa menggelengkan kepala tanda ketidaktahuan akan keberadaan mereka, lemas rasanya menerima semua kenyataan dan kejadian ini hingga kahirnya aku terkulai di pinggiran jalan. Setelah kemarahan indra mereda terlihat dia berjalan menghampiri dan duduk di samping aku yang sudah terkulai dalam rasa putus asa.

Aku pun meminta maaf kepada indra atas apa yang terjadi namun indra hanya tersenyum dalam tatapan mata yang menerawang jauh. Entah apa yang di pikrkannya, lama kami terdiam dalam lamunan sendiri, hingga akhirnya terlihat cahaya pagi mulai menyikap kegelapan malam. Setelah itu kami tertidur dalam rasa putus asa bahwa kami akan bisa kembali lagi dalam kehidupan normal kami di alam manusia. Samar-samar kami menangkap suara perbincangan yang teramat dekat dengan posisi kami berada, suara-suara itu bagaikan sebuah kalimat motivasi yang memberikan aku sebuah kekuatan bisa keluar dari situasi ini. Seketika terlihat wajah minto beserta beberapa wajah asing yang tidak aku kenal berusaha menenangkan aku, tatapan mata aku kembali menatap wajah-wajah asing ini satu persatu, begitu dengan ruangan tempat dimana aku berada sekarang ini, setiap detil ruangan tidak lepas dari tatapan mati ini. Ternyata kami di bantu oleh salah satu pemuka desa, diantara wajah asing yang hadir di kamar, aku merasa ada yang kurang, aku tidak melihat sosok wajah yang biasa menemani aku dalam pembuktian. Dan cerita nya akan berlanjut ke part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here