Jeritan Malam Part 22 : Sebuah Pembuktian Dan Sejarah Mess

0
82
malesbanget.com

Sambil putar balik mas dikin sambil mengingat-ingat jalan menuju kediaman mbah wodo. Terlihat kerutan di keningnya menandakan dia sedang mencoba mengingat kembali jalan yang tadi telah kami lalui, bergegas kami turun untuk memastikan bahwa ini memang jalannya. Kembali aku melirik jam dan melihat waktu sudah menunjukan hampir jam setengah lima pagi. Gelapnya malam di hutan ini sepertinya membuat perbedaan waktu seperti tiada arti, semuanya terlihat sama hanya kegelapan yang aku temui sepanjang mata memandang. Indra pun menunjuk jalan yang tadi di lewati yang membentuk tumpukan batu alam. Sambil memperhatikan susunan anak tangga dan mulai berjalan menaikinya, kewaspadaan terlihat dari tatapan mata indra, hampir semua sudur kegelapan hutan tidak lepas dari arahan cahaya senternya. Lama kami berjalan menaiki gundukan batu ala mini, seiring rasa lelah yang mulai kami rasakan. Aku merasa susunan batu ala mini seakan membentuk susunan anak tangga yang lebih banyak di bandingkan pertama kali kami melaluinya.

Untuk kali kedua indra mencoba mengingatkan aku hingga akhirnya menghentikan langkah kaki dan mencoba berfikir bahwa apa yang di katakana indra benar adanya, jarak yang kami tempuh sudah amat jauh. Sebatang rokok mulai aku sulut untuk menghilangkan rasa dingin, rasa kawatir yang terpancar dari wajah indra seperti virus penyakit yang dengan sangat cepat segera menjangkiti pikiran aku.

Aku pun heran karena jalan dan tangga nya sama tapi aku merasa ini tidak ada ujungnya. Terlihat indra mencoba meminta api untuk menyalakan sebatang rokok yang berada dalam jepitan bibirnya, sesaat kemudian gumpalan asap keluar dari mulutnya seakan-akan menggambarkan kegundahahn hatinya.

Harusnya berakhir di sebuah lapangan datar dimana rumah mbah wodo berada bukankah itu yang mau kamu katakana. Indra menerka apa yang akan aku katakana, seiring dengan anggukan kepala aku, indra terduduk lunglai dalam rasa putus asa.

Aku meyakinkan indra bahwa kita sebentar lagi udah agak terangan, aku yakin kita pasti akan nemuin itu rumah mbah wodo. Kembali tatapan aku melihat jam tangan mencoba memastikan bahwa tidak lama lagi cahaya pagi akan menyikap semua kegelapan ini. Indra coba memperlihatkan jam yang melingkar di tangannya. Hampir 1 jam lamanya kami bergulat dalam kesunyian, rasa dingin dan keinginan untuk memejamkan mata sepertinya masih dapat kami atasi, tapi rasa kawatir yang kami rasakan seakan tidak mau beranjak pergi dari parkiran ini, jarum jam yang terus berjalan seolah-olah bagaikan sebuah impian yang menawarkan sebuah harapan. Harapan pun tidak kunjung datang dalam penantian. Indra coba memperlihatkan jam yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi, tangan indra meraih pergelangan tangan aku dan coba memastikan bahwa apa yang di katakannya memang benar.

Saat itu aku masih terdiam, terpaku menatap yang masih menyelimuti, ini benar-benar tidak masuk akal. Dan aku pun merasa aneh sehingga aku berfikir untuk kembali ke mobil, muncul rasa kawatir dalam benak aku akan kondisi minto dan dikin. Tanpa berfikir untuk menemukan kembali ransel yang tertinggal di rumah bah wodo, segera aku ajak indra untuk bergegas menuruni susunan anak tangga. Setelah menuruni beberapa tangga, cengkraman tangan indra mencoba hentikan laju langkah aku. Saat itu indra mengarahkan senter ke rerimbunan semak belukar dan merasa seperti ada yang memanggil dia. Aku sambil coba menuruni anak tangga berkata jangan bercanda. Rupanya rasa penasaran indra sudah membuatnya berani untuk menyikap rerimbuna semak belukar itu. Tatapan mata aku tertegun seiring tangan indra menunjukkan sesuatu, hamparan tanah lapang dengan pohon besar di sekitarnya kini tampak di hadapan kami, sebuah tempat yang sangat familiar karena baru saja kami tinggalkan beberapa jam lalu. Ini seharusnya tempat kediaman mbah wodo tapi dimana rumahnya. Sambil mulai melangkah mencari keberadaan rumah mbah wodo, tatapan mata aku hanya bisa menemui deretan pohon-pohon besar dengan rerimbunan semak belukar di sekitarnya, dua buah batu besar dengan posisi berjauhan akan menggantikan keberadaan rumah tinggal.

Jam sudah pukul setengah tujuh pagi tapi langit masih sangat gelap karena kita memasuki dimensi lain dimana ilmu pengetahuan yang aku pelajari selama di bangku pendidikan seperti tidak berguna sama sekali. Hati aku masih di liputi keraguan tentang keberadaan tempat ini, apakah memang ini tempat mbah wodo atau aku berada di tempat yang salah, terlihat terpaku memperhatikan aku hingga akhirnya dia memutuskan memeriksa sekeliling dengan harapan menemukan ransel aku yang tertinggal, kecil harapan bisa menemukan ransel itu kembali.

Tidak lama dengan rasa kesal aku menendang suatu benda yang ternyata adalah ransel aku yang tertinggal di rumah mbah wodo. Ransel aku pun ketemu dan sambil memeriksa dalamnya rasa lega aku rasakan begitu memastikan bahwa tidak ada satupun barang yang hilang dari ransel itu. Karena indra takut maka aku berbohong dengan member sugesti untuk menggenggam keris kujang ini agar dirinya tenang. Kelanjutan cerita ini akan berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here