Jeritan Malam Part 21 : Sebuah Pembuktian Kesembilan Dan Sejarah Mess

0
93
malesbanget.com

Dengan penuh keraguan, aku ciduk air untuk guyuran terakhir di tubuh ini, masih berkecamuk pedebatan seru di hati, kenapa aku melakukan semua ini dengan segala resiko yang belum aku ketahui. Aku befikir salah kah aku melakukan semua ini dengan segala resiko yang belum aku ketahui, salahkah aku menempuh jalan ini hanya karena ingin memenuhi hasrat ingin tahu aku dan sebuah pembuktian bahwal hal yang goib itu memang benar adanya. Terdengar suara mba wodo memanggil aku, rupanya sesuai dengan janjinya dia sudah berada di bilik ini ketika ritual sudah selesai. Dan untuk terakhir kalinya kini mbah wodo menyerahkan tiga buah kelopak bunga yang hampir seukuran sebuah telur, entah dari bunga apa yang pasti mbah wodo meminta aku untuk memakannya, rasa pahit yang aku rasakan membuat aku terasa sulit untuk menelan semua ini.

Hingga akhirnya saat kunyajan terakhir berhasil aku telan, mendadak rasa lemas menjalar di tubuh ini, sangat lemas hingga membuat kaki ini terasa tidak kuat lagi untuk menahan bobot tubuh ini. Kini aku hanya bisa duduk bersimpuh hingga akhirnya aku sama sekali tidak bisa lagi mengontrol tubuh ini. Aku terkulai lemas dengan kesadaran yang hanya menyisakan sedikit tenaga untuk melihat keadaan sekitar walaupun harus dengan tatapan nanar. Samar-samar mbah wodo terlihat berbicara dengan sesuatu, entah dengan siapa. Akhirnya di antara sisa tenaga yang tersisa aku bisa menangkap dengan mata kepala ini, terlihat mbah wodo berbicara dengan wodo berbicara dengan seekor ular yang hanya menampakan kepalanya saja.

Kini terlihat ular itu seperti menjilat setiap lembar daun besar yang berada di tangan mbah wodo, hingga akhirnya pada jilatan terakhir, ular itu beranjak pergi dengan terlebih dahulu tatapan matanya terlihat seperti menatap aku yang tergeletak dalam ketidakberdayaan. Terlihat mbah bendol memasuki bilik dengan sigap dia membantu aku untuk duduk, kini mba wodo terlihat duduk bersila di depan aku. Lembaran daun yang berada dalam genggaman tanganya segera di usapkan ke wajah dan seluruh badan aku. Ajaibnya semua rasa yang membuat aku tidak berdaya lenyap dalam seketika. kagum mengakui kehebatannya, mungkin ini bukan kata yang pas untuk aku artikan semua dalam kejadian ini. Buat aku mala mini adalah malam yang sensasional dengan berbagai macam kejadian yang memang harus aku akui tidak bisa aku pecahkan dengan sebuah pemikiran yang rasional ataupun ilmu pengetahuan yang aku pelajari selama ini.

Akhirnya perasaan kawatir menghinggapi mas dikin, minto dan indra. Tapi aku bilang aku baik-baik saja dan tidak perlu kawatir, lalu bergegas mengganti kain kafan yang masih melekat di tubuh ini. Terlihat indra, minto dan dikin mengamati aku dengan sangat seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. Indra pun menjelaskan jika sekarang aku terlihat berbeda dan lebih wangi. Dan mas dikin pun berkata dirinya pangling melihat aku, aku bisa sedikit mempercayai karena mas dikin merupakan orang yang paling tidak pernah berkata bohong di antara kami berempat. Terlihat kini mbah wodo hadir bersama kami dengan selinting rokok jagung yang selalu menghiasi jemari tanganya. Melihat kehadiran mbah wodo segera muncul berbagai macam pertanyaan di benak aku. Tapi yang paling mengganjal dan mengganggu pikiran ini adalah tentang adanya sketsa-sketsa itu di dalam air.

Ada berbagai macam tanya disana dan aku harus siap untuk menjawab itu semua. Aku hanya tertunduk mencoba untuk tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan mbah wodo, kesal rasanya harus mengakui sebuah kekalahan dari sesuatu yang selalu aku sangkal keberadaanya. Aku merasa geram ketika mendengar sesuatu yang di inginkan penguasa di sini harga dari sebuah perjanjian. Penjelasan mbah wodo terasa mengada-ada dan mana mungkin sebuah kekuatan goib bisa merenggut nyawa manusia.

Waktu sudah menunjukan jam 4 pagi, lebih baik kita meneruskan perjalanan ini tanpa menghiraukan minto, bergegas aku mengajak minto, indra dan mas dikin segera pamitan. Akhirnya kami pamit pulang dan terlihat mbah wodo hanya tersenyum dingin, jabatan tanganya terasa begitu kuat seolah-olah ingin menunjukan kesaktiannya.

Tidak lama mbah wodo mengatakan jika jangan bersembunyi dari sebuah rasa takut dengan sebuah kesombongan. Namun mas dikin dengan segera mengajak aku pergi dari situ. Tidak lama teman aku menanyakan apa yang sebetulnya aku lihat? Namun ketika itu aku tidak melihat tas ransel aku yang masih berisi sisa uang. Aku pun kaget karena tas aku ketinggalan dan aku pun bilang ke mas dikin untuk berhenti putar balik. Dengan segera mas dikin mengerem mobil dan berputar balik, ada raut ketegangan di wajah mereka mendapat kenyataan harus putar balik ke tempat yang kental dengan nuansa mistis. Nah, kelanjutan cerita ini bersambung ke part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here