Jeritan Malam Part 20 : Sebuah Pembuktian Kedelapan Dan Sejarah Mess

0
82
malesbanget.com

Lama dia terdiam tanpa ada tanda mau menjawab, aku sudah member tanda kepada yang lain agar bersiap-siap hingga akhirnya mba wodo bilang sesuatu. Tempat ini merupakan tempat pesugihan ngalap berkah, selain itu kalian bisa menambah aura kecantikan dan ketampanan serta awet muda dengan segala daya pikatnya. Mendengar itu dari mba wodo serentak kami saling berpandangan dalam sorot mata takjub dan penuh dengan rasa tidak percaya. Jadi ternyata dugaan aku tentang hesti, sebelum meneruskan ucapannya aku beri isyarat. Biar bagaimana pun orang yang berhadapan dengan kami adalah orang pintar yang notabene adalah orang yang menuntun hesti melakukan semua ritual mistis ini. Andai kami menghakimi hesti di depan mukanya, sama saja seperti kami memberikan tamparan di wajahnya. Ingin rasanya aku mengucapkan kalimat sanggahan bahwa semua ini omong kosong tapi kembali lagi aku coba untuk mengurungkannya.

Tidak lama mbah wodo menyuruh kita pergi dari tempat itu. Dengan nekat aku meminta tolong mba wodo agar aku bisa membuktikan jika omongannya itu benar semua. Serentak tema aku melarang aku dan menyuruh aku berfikir dua kali. Namun aku katakana hanya dengan jalan ini kita bisa tahu apa yang di lakukan hesti di tempat ini dan membuktikan kebenaran orang tua ini. Terlihat indra mengganggukan kepalanya tapi dari wajahnya terlihat rasa keberatan dengan keputusan yang aku ambil.

Tidak lama mba wodo mempersilahkan aku untuk memasuki rumahnya lalu menuju ke sebuah ruangan sepertinya ruangan ini adalah ruangan tempat orang ini melakukan ritual, terasa kental sekali nuansa mistisnya dengan pernak pernik yang terlihat janggal. Asap kecil dari sebuah tungku kecil di atas meja menebarkan aroma wangi di seluruh ruangan, kini mbah wodo mempersilahkan aku duduk bersila. Kami saling berpandangan dengan sebuah meja bulat yang memisahkan kami, terlihat dia seperti merapalkan sesuatu, entah itu sebuah rapalan atau dia sedang berbicara dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata aku.

Aku lama terdiama untuk mengartikan sesuatu, inilah yang menjadi rahasia kenapa aku bersikeras membawa ransel yang terlihat penuh isinya, di saat aku terbaring sakit setelah peristiwa pembuktian yang berakhir denga penyepakan sesajen oleh kaki aku, entah kenapa aku bermimpi dan mimpi itu seolah terlihat nyata. Seorang lelaki seperti layaknya pembesar kerajaan dari zaman dahulu lengkap dengan baju kebesarannya terlihat gagah menghampiri aku yang sedang terduduk meratapi rasa sakit di kaki ini. Tutur katanya yang halus bahkan terbilang bijaksana mengalir bebarengan dengan sentuhan telapak tangannya di bagian kaki yang terasa sakit. Ucapan yang keluar dari mulutnya begitu terngiang di telinga ini. Sebuah ucapan yang tidak aku mengerti maksud dan maknanya. Saat aku kaki aku kembali bisa melangkah, berjalanlah ke arah yang menuntunmu akan pencarianmu selama ini. Ambilah beberapa kerta yang akan member kamu sebuah kebenaran. Terlihat dia menuliskan beberapa buah aksara kuno di tanah yang entah kenapa aku bisa mengartikannya. Sebuah tulisan yang bermakna sebuah nilai dalam jumlah tertentu, sebuah nilai yang terasa sangat besar untuk menguras persediaan yang ada di tabungan aku. Setelah terbangun dan mendapati kaki aku sudah sembuh, lama aku berfikir dengan arti semua itu, sempat aku bimbang untuk mengambil langkah apa yang akan aku ambil di karenakan aku berfikir apakah proses kesembuhan ini karena pengobatan haji mustofa atau karena mimpi.

Setelah itu aku melakukan prosesi ini, terlihat mbah wodo memanggil mbah bendol, seolah sudah mengerti dengan apa yang akan di katakana mbah wodo, mbah bendol terlihat pergi dan kembali lagi dengan membawa sehelai kain tanpa jahitan. Aku pun merasa tidak asing dengan kain yang di berikan mbah wodo. dan sudah beberapa kali kain itu aku lihat. Tampak mbah bendol mengajak aku ke sebuah ruangan untuk berganti baju dengan sehelai kain kafan yang tadi di berikannya, kini baju yang aku kenakan sudah berganti dengan kain kafan yang membalut tubuh tanpa sehelai benang ini. Kembali mba bendol memberikan aku sehelai kain hitam yang harus aku kenakan untuk menutupi mata ini, kini pandangan aku sudah terasa gelap, terasa mba bendol menuntun aku untuk berjalan.

Akhirnya tidak lama mbah bendol meminta aku melepaskan ikatan yang menutupi wajah aku, entah dimana sekarang aku berada, hati aku mengatakan ini perjalanan yang terasa sangat jauh walau aku merasa sangat mudah dan cepat. Kini aku berada di suatu tempat dimana pohon besar begitu gelap, tampak terlihat sebuah sendang kecil dengan sebuah bilik kecil berada di tepiannya. Dengan langkah gemetar aku berjalan menuju bilik yang berada di tepian sendang, entah mengapa aku merasakan seperti ada yang mengawasi di setiap langkah ini, ketika memasuki bilik, tepat apa yang di katakana mbah wodo, di bilik ini sudah tersedia dua buah ember air dengan salah satu sudah tercampur bunga yang menimbulkan aroma wangi. Sebuah gayung batok kelapa dengan gagang panjang sepertinya memang sudah di persiapkan untuk aku mandi.

Ketika aku cidukan air aku melihat samar-samar sketsa riak air yang muncul wajah-wajah yang tidak asing.Cerita ini berlanjut di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here