Jeritan Malam Part 2 : Sebuah Perjalanan Dan Celoteh Seorang Kakek Tua

0
124
internasional.kompas.com

Lama aku terdiam dalam hening, melamun aku melayang akan sebuah rencana kerja, adaptasi dan pastinya lokasi kerja yang sama sekali terasa asing bagi aku. Sebuah kota di jawa timur yang baru kali ini aku datangi dengan berbekal sebuah info dari mas kamil. Aku harus turun stasiun pasar turi lalu lanjut ke stasiun berikutnya. Lalu aku akan lanjut kota tujuan entah berapa lama waktu yang akan aku tempuh, kebetulan gerbong kereta api yang aku tempati tidak begitu banyak penumpang hari ini. Beberapa pasang keluarga mungkin keluarga atau hanya sepasang kekasih dan seorang kakek yang nampaknya melakukan perjalanan sendirian.

Entah aku yang paranoid atau rasa lelah yang datang pada aku, di sela-sela mata yang sudah mulai ngantuk, aku masih bisa memperhatikan kakek itu yang dari tadi aku naik dan kereta sudah jalan jauh, mata kakek itu terlihat selalu melihat aku. Namun ketika bertemu pandangan kakek itu mencoba mengalihkan pengelihatannya dari aku, timbul pikiran negative di otak ini, apakah kakek itu mempunyai niat jahat? Apabila dia punya niat jahat aku berfikir lebih muda dan sehat, tentu aku akan lebih mudah hadapi kakek yang sudah berumur dengan kulit keriput itu.

Aku pun masa bodo hingga akhirnya aku tidur, entah berapa lama aku tidur hingga aku terbangun dengan kondisi kereta berhenti di sebuah pematang sawah. Aku coba melihat keluar tampak suasana malam sudah turun, pematang sawah dengan pemandangan gelapnya sedikit membuat suasana horor. Kembali aku teringat sosok kakek itu, aku lihat kursinya tidak ada, mungkin dia sedang ke suatu tempat bahkan mungkin tertidur hingga tubuhnya tidak terlihat pandangan ini karena tertutup kursi, rasa ingin untuk buang air kecil membuat aku bangkit dari tempat duduk dan menuju toilet.

Sambil bergegas aku tinggal kan toilet, saat keluar dari toilet sekilas aku melihat kakek tadi tampak sedang berdiri diantara celah gerbong, tatapan matanya tampak memandang keluar kea rah gelapnya malam karena rasa penasaran dan coba menghilangkan pikiran megatif segera aku datangun kakek itu. Aku tanya kakek sedang apa? sejenak kakek itu memandang kea rah aku tapi hanya sejenak kini pandangan matanya kembali menyapu gelapnya malam dan tanpa jawaban.

Aku langsung balik badan dan mencoba meninggalkannya. Tidak lama kakek itu memanggil aku saat aku pergi. Aku diam sebentar hingga akhirnya aku beranikan diri untuk mendatangi kembali, tampak di kepalanya sebuah balutan batik bukan belangkon entah apa namanya. Kakek berkata jika kamu hendak berkunjung ke daerah baru tolong yang sopan jangan arogan. Mendengar jawaban kakek itu emosi aku seketika agak terpancing. Si kakek bilang singkirkan harimau yang sedari tadi menemani kamu. Akhirnya sekarang aku berfikir bahwa kakek ini kurang waras, mana ada harimau putih di dalam gerbong ini, lama aku diam tanpa mencoba menjawab karena aku bingung jawaban apa yang harus aku berikan.

Akhirnya mobil melaju meninggalkan stasiun dan menuju mess yang di maksud, suasana yang sepi tampak terlihat, rimbunan pohon jati tampak tumbuh besar di pinggir jalan seakan menyambut kedatangan aku. Akhirnya aku tiba di sebuah rumah yang tampak tua, berdasarkan pengelihatan aku di katakana mungkin mess ini merupakan rumah tua peninggalan jaman belanda. Imron pun menyuruh aku masuk ke dalam dan membawa kan koper aku ke dalam.

Imron mengucapakan salam hingga ada seseorang yang menjawab salam dan membukakan pintu. Aku di kenalkan pada pak indra sambil masuk kedalam rumah dan memasukkan tas aku ke dalam kamar. Tidak lama ada orang lain lagi yang menyapa aku dan dia tampak baru selesai solat. Di situ mas indra menjelaskan siapa saja penghuni mess ini. Setelah beberapa lama akhirnya imron pamit untuk meninggalkan mess dan aku pun bergegas menuju kamar untuk beristirahat. Kamar mandi ada di ruang belakang dekat dapur. Kamar yang aku masukin terlihat rapi dengan hiasan lukisan dinding. Temapt tidurnya tampak sesuai kondisi kamar yang tua, mungkin biar selaras di lihatnya, sebuah tempat tidur dengan sebuah kelambu.

Setelah merapikan baju ke lemari, aku menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh badan yang sudah terasa agak lengket. Ruang belakang di pisahkan dengan sebuah pintu kaca tua, sebuah pintu yang memisahkan ruang tengah dengan bagian dapur serta kamar mandi. Sejuknya air segera memanjakan tubuh aku, mata aku kembali lihat suasana di dalam kamar mandi, kamar mandi ini terlihat begitu besar walaupun tua tapi terlihat bersih, yang membedakan dengan kamar mandi modern ada sumur letaknya di sudut kamar madni lengkap dengan kerekan timba untuk ambil air, mungkin ini untuk berjaga jika pompa air masalah. Sumur itu terlihat agak tua tapi terawatt dengan baik, setelah mandi aku bergegas ganti baju dan merebahkan diri di ranjang yang terasa empuk dan dingin, rasa lelah aku setelah perjalanan seharian langsung membuat aku tidur pulas. Tapi cerita nya masih berlanjut di part berikutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here